Husairi Abdi

Usai Wafatnya Abdussukur dan Gusti Jamhar, Siapa Pewaris Bapandung dan Balamut?

0

SATU per satu maestro kesenian sastra lisan Banjar telah berpulang ke Rahmatullah. Pada 28 Februari 2021 lalu, maestro Balamut Gusti Jamhar Akbar telah meninggal dunia.

BARU-baru ini, menyusul maestro Bapandung, Abdussukur MH menghadap Ilahi pada 6 Maret 2022. Pegiat budaya dan seni Kalsel, Syaiful Anwar memberi catatan pinggir apakah dengan wafatnya dua maestro sastra lisan Banjar ini maka hilang pula kesenian Balamut dan Bapandung di Kalsel?

“Baik almarhum Jamhar maupun Sukur sangat mencintai dan menjiwai kesenian Balamut dan Bapandung. Keduanya tak terpisahkan kesenian yang hampir punah hingga akhir hayatnya,” ucap Syaiful Anwar dalam catatan pinggir di akun facebooknya dikutip jejakrekam.com, Jumat (8/4/2022).

BACA : Mengenang Maestro Seni Tradisi Balamut, Gusti Jamhar Akbar

Menurut Syaiful Anwar, Jamhar hingga wafat diusia 78 tahun, sangat setia memainkan Balamut. Dirinya menjadi pelamutan sejak umur 10 tahun. Kepandaian balamut didapatnya sejak kecil selalu diajak bapaknya, Raden Rosmono mendampingi bermain lamut di setiap pertunjukkan.

“Bermain Balamut merupakan warisan secara turun-temurun dan Jamhar keturunan keempat. Pertama kesenian lamut dikuasai oleh datunya (buyut), Raden Ngabe Jayanegara dari Yogyakarta. Sedangkan, Raden Ngabe belajar lamut saat menjadi utusan Kerajaan Banjar yang bertugas di Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara,” tulis Syaiful Anwar.

BACA JUGA : Petisi untuk Maestro Seni Lamut Demi Menara Pandang Gusti Jamhar Akbar

Dia merincikan masa keemasan Jamhar mulai tahun 1960-an hingga 1985-an. Saat itu, setiap kali ia memainkan lamut, penonton berdesakan. Mereka tak beranjak semalam suntuk mendengarkan kisahnya. Pada masa itu hampir setiap malam ia diundang warga untuk balamut.

Atraksi Balamut dari Maestro Gusti Jamhar Akbar semasa hidupnya dalam menjaga tradisi sastra lisan Banjar. (Foto FB Sainul Hermawan)

“Undangan tak hanya di Kalsel, tetapi dia berlamut sampai ke Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota di Kalimantan Tengah. Tamu yang datang ke rumahnya untuk berobat dengan Balamut malah ada Sulawesi Selatan hingga Thailand,” beber Syaiful Anwar.

BACA JUGA : Agar Tak Punah, Regenerasi Seniman Lamut Harus Digeber Serius

Kesenian Balamut sendiri usianya boleh dibilang cukup tua. Berdasarkan buku berjudul Pantun, Madihin, Lamut yang ditulis Drs H M Thaha MPd dan Drs H Bakhtiar Sanderta, kesenian asli Kalsel ini diperkirakan ada sejak zaman kuno yaitu tahun masehi dan menginjak zaman baru (1500-1800).

Lalu, berdasarkan cerita maeatro Balamut, M Jamhar, kesenian Balamut itu lahir di Amuntai, Hulu Sungai Utara, tahun 1816. “Terlepas mana yang benar tentang munculnya kesenian yang cerita pakem bahasa Banjar dan memakai properti terbang berukuran besar, ternyata ada cerita mistiknya,” tulis Syaiful Anwar lagi.

BACA JUGA : Kenalkan Lamut yang Hampir Punah, 135 Penari Hipnotis Ribuan Pasang Mata

Menurut dia, kesenian Balamut merupakan sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial, budaya Banjar. “Balamut merupakan seni cerita bertutur, seperti wayang atau Cianjuran. Bedanya, wayang atau Cianjuran dimainkan dengan seperangkat gamelan dan kecapi, sedangkan lamut dibawakan dengan terbang,” tuturnya.

Nama Lamut sebagai atribut kesenian ini diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yakni Paman Lamut. Kesenian ini sangat sederhana, arena materi cerita disampaikan oleh satu-satunya seniman yang dikenal sebagai palamutan.

BACA JUGA : Kalsel Kembali Berduka, Maestro Seniman Bapandung Banjar Abdussukur MH Tutup Usia

Beda dengan Sukur. Dia menekuni kesenian secara total sejak lulus SMA. Waktu itu almarhum berhenti bekerja dari perusahaan dan akhirnya memilih menjadi pemain teater tradisi Banjar, baik itu Mamanda dan Bapandung serta bergabung di Teater Mamanda.

Maestro Bapandung Abdussukur MH dan pewarisnya Farah Latifa Andini yang tampil dalam beberapa even. (Foto Syaiful Anwar)

Namun, lelaki kelahiran 3 Desember 1966 ini diminta maestro Mamanda, Bakhtiar Sanderta (almarhum) di tahun 1995 secara khusus, menekuni kesenian Bapandung yang waktu tidak ada yang berminat mempelajarinya, supaya tak punah.

“Sukur pun dengan tekun mempelajari stand up komedi asli Banjar dan sering tampil diberbagai acara baik di Taman Budaya, acara HUT Provinsi Kota Banjarmasin, HUT Kalsel, RRI, TVRI hingga ‘mengajar’ di seniman masuk sekolah,” beber Syaiful Anwar.

BACA JUGA : Taman Budaya Umumkan Para Juara Lomba Puisi Bahasa Banjar, Juri Beri Sejumlah Catatan

Seiring berkembangnya zaman, Bapandung jarang tampil akibat tergerus kesenian modern dan banyak alternatif hiburan. Kesenian Bapandung, berusia hampir sepadan dengan Mamanda pun senasib dengan Balamut, hampir punah, karena kesenian ini cukup rumit dan cuma dimainkan oleh satu orang dengan aneka peran.

Seniman Bapandung yang disebut Pamandungan kerap menggunakan kostum berlapis-lapis. Satu kostum untuk satu tokoh. Penyebab lain, Bapandung hampir punah, cerita almarhum Sukur kepada Syaiful Anwar semasa hidup, ada semacam prinsip malu kalau bermain di wilayah tradisi, sedang stand up budaya barat.

BACA JUGA : Bahasa Banjar Zaman Dulu dan Rumah Lanting Diusulkan ke Kemendikbud

“Jadi, kata Sukur, tukang pandung sebenarnya banyak bibit yang sudah diajari dan mampu melakukan pengembangan. Kendalanya, mereka masih belum mau totalitas,” kata Syaiful Anwar, mengutip pernyataan Abdussukur.

Bapandung berasal dari kata Pandung, artinya menirukan tingkah laku manusia, bahkan hewan. Bapandung berkembang dalam masyarakat suku Banjar Hulu di Kabupaten Barito Kuala. Seni ini mulai dipertunjukkan oleh seorang petani di Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala pada awal tahun 1960-an. Teater Bapandung ini berupa monolog yang menggunakan bahasa Banjar.

BACA JUGA : Walau Tak Punya Aksara, Bahasa Banjar Kaya dengan Karya Sastra

“Namun, bapandung berbeda dengan bercerita bahasa Banjar. Kalau bercerita pemain sebagai objek penikmat kisah, sedangkan bapandung lebih ke seni keterampilan bercerita seperti menirukan tingkah laku seseorang,” tutur lulusan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.

Menurut Syaiful Anwar, pemain Bapandung disebut juga pandung. Seorang pandung bebas ingin menunjukan apa yang ingin disampaikannya. Tokoh dalam bapandung atau pandung biasanya menggunakan pakaian sehari-hari dalam pentas dan tidak banyak menggunakan properti tambahan.

“Nah, akankah kesenian Banjar, Balamut dan Bapandung akan punah seperti Tari Bagandut setelah maestronya meninggal dunia?” ucap wartawan senior ini.

BACA JUGA : Mengenang Kocaknya John Tralala, Pentaskan Madihin Kolosal

Bagi Syaiful Anwar, di kesenian Balamut dan Bapandung sebenarnya ada dua generasi muda yang menekuninya. Ambil contoh, di Balamut, ada Muhammad Maulidan Anwar yang pernah ‘berguru’ secara langsung dengan maestro Jamhar Akbar.

Aksi Maestro Bapandung Banjar Abdussukur MH dalam sebuah acara gelaran KPU Kota Banjarbaru pada 2015 silam. (Foto KPU Banjarbaru)

Hanya saja, Syaiful Anwar memberi catatan remaja kelahiran Banjarmasin, 24 Mei 2003 ini saat ini konsentrasi melanjutkan kuliah di Prodi Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Surabaya, Jawa Timur. Seabrek tugas dan tinggal di negeri seberang, membuat Maulidan tak bisa totalitas tampil Balamut.

“Ditambah minimnya pementasan di berbagai event, membuat terbang milik Maulidan lebih banyak nganggur,” kata Syaiful Anwar.

BACA JUGA : Nama Jembatan ‘Ading Basit’ di Madihin Warnai Paripurna Istimewa Harjad Banjarmasin

Dalam catatan Syaiful Anwar, sebenarnya ada beberapa anak muda yang mencoba belajar Balamut, kendalanya kesulitan mempelajari cerita yang pakem dan pukulan setiap cerita beda-beda. Ditambah jarangnya tampil di event, membuat kawula muda mundur.

“Begitu juga di kesenian Bapandung, ada Farah Latifa Andini yang cukup intens tampil di kesenian ini. Usianya pun terbilang muda, 11 tahun tahun, tepatnya lahir di Banjarmasin, 15 September 2011,” tulis Syaiful Anwar.

Hanya saja, Syaiful Anwar mengatakan kedua kawula milineal ini perlu panggung yang banyak dalam pementasan dalam setiap event HUT kabupaten/kota maupun provinsi untuk mengasah kemampuannya serta memotivasi menekuni Balamut dan Bapandung.

BACA JUGA : Suguhkan Tari Kreasi dan Lokakarya Madihin, ULM Sukses Gelar Kongres AP2SENI IV

“Terlebih lagi di Balamut, bila sangat jarang ditampilkan hanya 4-5 tahun sekali, sementara kesenian lain rutin dipentaskan 3-4 kali dalam setahun, dikhawatirkan Balamut maupun Bapandung akan punah,” kata Syaiful Anwar, memberi catatan kekhawatirannya.

“Siapa lagi yang peduli dengan kesenian tradisi Banjar, kalau bukan kita, masyarakat, instansi pemerintah dan seniman itu sendiri,” pungkas Syaiful Anwar.(jejakrekam)

Penulis Rahim Arza/Asyikin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.