Agar Tak Punah, Regenerasi Seniman Lamut Harus Digeber Serius

0

SANG maestro lamut, Gusti Jamhar Akbar, kini telah berpulang. Sepeninggal Kai Jamhar, nasib kesenian lisan ini pun diprediksi seret penerus jika pemangku kebijakan berdiam diri.

ANTROPOLOG Universitas Lambung Mangkurat, Nasrullah mengaku khawatir akan punahnya seniman lamut di Banua lantaran minimnya regenerasi.

“Saat ini terdapat masalah terkait kurang masifnya upaya regenerasi untuk tetap bisa meneruskan perjuangan sosok Amang Jamhar,” katanya, Minggu (28/2/2021).

Ia menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan Balamut kurang diminati oleh generasi muda, sehingga keinginan untuk menjadi seniman lamut sangat minim.

BACA : Maestro Lamut Banua, Gusti Jamhar Akbar Tutup Usia

“Ini dikarenakan tingkat kepopuleran seni Lamut yang kurang. Tidak seperti kesenian lain seperti Mamanda, Madihin, Wayang Banjar dan kesenian lain,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Nasrullah, kurang populernya seni lamut juga ditambah dengan intensitas pementasan yang minim. Namun satu sisi, durasi pementasan Balamut juga menjadi persoalan di era saat ini.

Sebab, untuk memainkan Lamut tidak cukup dengan waktu singkat. Di era modern sekarang, panjangnya durasi pementasan Balamut bisa menjadikan orang lain bosan.

Ditambah lagi, yang membawakan lamut adalah seniman yang sudah berumur atau tua, Sehingga hanya komunitas tertentu saja yang menjadi peminat dan mendengarkannya.

“Karena itulah Lamut kurang diminati oleh generasi milenial, dan lama-kelamaan kehilangan daya tarik,” ujarnya.

BACA JUGA: Berkat Dedikasinya, DKB Dorong Nama Gusti Jamhar Akbar Diabadikan

Dosen Prodi Sosiologi dan Antropologi FKIP ULM itu menambahkan, panjangnya durasi pementasan itu juga menjadi penghalang bagi stasiun televisi untuk ikut andil dalam upaya pelestarian budaya Lamut.

Pasalnya, setiap program televisi pasti memiliki ketentuan tersendiri mengenai durasi penyiaran.

Tidak selesai sampai di situ, menurut Nasrullah, persoalan durasi juga berimbas terhadap daya minat warga untuk mengundang seniman Lamut dalam sebuah acar hajatan.

“Tidak seperti seniman Madihin yang waktunya bisa disesuaikan untuk diundang dalam acara-acara resmi. Sedangkan Lamut memerlukan waktu pementasan yang panjang, jadi orang berpikir dua kali untuk mengundang dalam sebuah pementasan atau acara resmi,” paparnya.

BACA JUGA: Gusti Jamhar Akbar: Lamut Ibarat Anak Tiri di Tanah Banjar

Jumlah pemain yang tampil dalam pementasan juga salah satu daya tarik. Tidak seperti Wayang Banjar yang jumlah pemainnya banyak, sehingga secara tidak langsung mengundang orang untuk menontonnya.

Ia menilai, Lamut yang dilakukan satu orang saja. Dan hanya mengandalkan kekuatan dari sang seniman akan kalah dengan kesenian yang lain.

“Perlu perhatian khusus seperti memberikan ruang yang banyak lah untuk pementasan lamut agar bisa menarik minat generasi muda,” ujarnya.

Usulan tersebut tentu harus ada konsekuensi tersendiri. Sehingga mau tidak mau harus bernegosiasi dengan durasi.

Kemudian, selain pemberian ruang pentas, untuk mengangkat minat generasi muda di bidang seni Lamut ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet.

“Youtube merupakan solusi nyata yang bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan seni Lamut. Karena disana tidak dibatasi waktu. Walaupun di upload dengan waktu yang panjang, orang bisa mencicillnya,” sambungnya.

Kemudian, permainan teknologi lain seperti sound system dan efek pencahayaan yang bisa menarik penonton jika digelar dalam suatu pementasan.

“Karena kekuatan teknis sangat berpengaruh untuk menambah nilai dan kekuatan tersendiri dari sebuah pementasan,” pungkasnya. (jejakrekam)

Penulis Riki
Editor Donny

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.