Bawaslu Oke

Bahasa Banjar Zaman Dulu dan Rumah Lanting Diusulkan ke Kemendikbud

0 543

KONGRES Bahasa Banjar yang dihelat Pemkot Banjarmasin di Hotel Best Western Kindai melibatkan tokoh budaya, tokoh masyarakat dan generasi milenial akan merumuskan arah dan pengembangan Bahasa Banjar, terutama bahasa yang dituturkan pada zaman dulu.

RUMUSAN dari Kongres Bahasa Banjar akan dibawa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Banjarmasin di Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk diakui sebagai warisan budaya tak benda.

Kepala Disbudpar Kota Banjarmasin Ikhsan Alhaq juga memastikan tak hanya bahasa Banjar pada tahun ini juga akan didaftarkan rumah lanting sebagai warisan budaya tak benda yang ada di Kalsel.

BACA : Hikayat Sang Penyusun Kamus Bahasa Banjar, Prof Djebar Hapip

“Saat ini, bahasa Banjar zaman dulu banyak dilupakan generasi sekarang. Makanya, melalui Kongres Budaya Banjar bisa disebarluaskan kepada generasi muda melalui online, hasil rumusan bahasa Banjar zaman dulu itu. Termasuk, didaftarkan kepada  pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesiaseabgai warisan budaya tak benda di Kalimantan Selatan,” papar Ikhsan.

Ia berharap melalui Kongres Bahasa Banjar ini  bisa didapat rumusan untuk diajukan ke pemerintah pusat sebagai bagian dari kekayaan budaya yang ada di Kalimantan Selatan.

Senada itu, Walikota Banjarmasin Ibnu Sina pun menilai bahasa Banjar merupakan bagian tak terpisahkan dari khazanah budaya Kalsel. Menurut dia, untuk memperkuat hal itu, maka perlu dibuat dalam bentuk sastra lisan dan tulisan. Tujuannya, agar tidak punah di muka bumi.

Mantan anggota DPRD Kalsel ini mencontohkan apa yang dilakukan pakar bahasa Banjar, Prof Abdul Djebar Hapip yang membuat Kamus Bahasa Banjar. Kemudian, ada pula kerjasama antara UIN Antasari Banjarmasin dengan MUI Kalsel menerbitkan Alquran terjemah bahasa Banjar.

“Sedangkan, dari aspek sastra lisan dan tulisan, masuh terjaga keasliannya. Ya, seperti dalam bentuk sastra lisan seperti Madihin, Balamut, Mamanda, Pantun, Basair, dan Bapandung,” tutur Ibnu Sina.

BACA JUGA : Digerus Bahasa Banjar, Penutur Bahasa Berangas yang Kian Langka

Ia mengaku bersyukur karena masih banyak penulis andal yang ikut melestarikan bahasa Banjar melalui tulisannya. Menurut Ibnu Sina, tugas semua pihak untuk menjaga dan memeliharanya.

“Apalagi, Kongres Bahasa Banjar ini baru pertama kali dihelat Pemkot Banarmasin. Saya berharap semua pihak bisa mengapresiasinya,” imbuh Ibnu Sina.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.