Kisah Berlian Banjar di Rijskmuseum Amsterdam; Tragedi Sebuah Regalia

1

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

BERLIAN mengkilap terpajang indah di ruangan pajang Rijksmuseum Amsterdam, Belanda. Ditempatkan dalam kotak kaca seakan akan menggambarkan keagungan dan kekayaan bak simbol Kerajaan Banjar di masa lalu.

PADA labelnya tertulis The Banjarmasin Diamond, bernomor inventaris NG-C-2000-3. Ukuran panjang 21.86, lebar 17.37 serta tinggi 13.86mm, dengan berat 38,23 (metrik) karat 7,65 gram.

Di balik keindahan dan daya tariknya, ternyata banyak kisah dan realitas dari keberadaan berlian ini. Sejak dibawa dari Banjarmasin medio tahun 1859-1861, ternyata tidak pernah laku dijual. Bahkan ketika masih menjadi intan setelah di-cutting menjadi berlian dan ditawarkan dengan sangat murah. Wajar, muncul pendapat bahwa berlian ini mengandung kutukan. Benarkah? Bagaimana catatan historisnya hingga sampai di Benua Biru?

BACA : Intan Sultan Adam, Rampasan Perang Banjar yang Kini Dikoleksi Museum Belanda

Pada Maret 2022, berlian ini menjadi bagian riset Pilot project Provenance Research on Objects of the Colonial Era (PPROCE), yang dilaksanakan peneliti sejarah Belanda era kolonial, Klaas Stutje. Dibantu peneliti Sejarah Banjar dari Prodi Sejarah FKIP ULM, Mansyur akhirnya menghasilkan sebuah Laporan asal bertitel, The Banjarmasin Diamond.

Lukisan Sultan Adam, Sultan Banjar dengan surat wasiat dan intan yang menjadi regalia atau harta milik Kerajaan Banjar (Masin). (Foto Dokumentasi Mansyur)

Dari periode pra tahun 1859 terdapat beberapa sumber Belanda yang menunjukkan adanya berlian 70 karat milik Sultan Banjarmasin. Bahkan sumber lainnya berlian tersebut mulai muncul tiga puluh tahun sebelumnya, tepatnya tahun 1829.

BACA JUGA : Bahas Pengembalian Harta Kesultanan Banjar, Jurnalis Belanda Wawancara Keturunan Pangeran Hidayatullah

Dalam arsip Kementerian Koloni Belanda di Den Haag, dituliskan bahwa Intan Banjarmasin di Rijksmuseum diserahkan “secara sukarela” -tetapi di bawah tekanan ekstrim- oleh Sultan Tamdjidillah II (1817-1867) kepada perwakilan dari Negara kolonial Belanda. Pada hari setelah Sultan Tamdjidillah II turun tahta, tanggal 24 Juni 1859.

Setelah dua setengah tahun di ruang penyimpanan kolonial di Banjarmasin dan Batavia, Gubernur Jenderal Gouverneur mengirim berlian ke Belanda pada bulan Desember 1861. Dengan maksud untuk menawarkan kepada Belanda Raja William III.

BACA JUGA : Cerita Keris Abu Gagang dan Pangeran Hidayatullah di Tanah Pengasingan

Dewan Menteri memutuskan sebaliknya, dan dalam empat dekade berikutnya Kementerian Koloni berusaha menemukan lokasi yang cocok untuk menyimpan berlian (yang masih berbentuk intan) ini. Kementerian juga mencoba menjual berlian tiga kali, yang dipotong menjadi batu 38,23 metrik karat oleh AE Daniels & son (1813-1903) pada tahun 1869-1870.

Parade militer Belanda dalam lapangan terbuka di Banjarmasin pada 1900-an. (Foto KITLV Leiden Belanda)

Karena tidak laku, akhirnya, pada Agustus 1902, berlian itu dipinjamkan secara permanen ke Rijksmuseum di Amsterdam, “sebagai peringatan penaklukan Kerajaan Banjarmasin.”

BACA JUGA : Keraton Dibumihanguskan, Belanda Sita Regalia Kesultanan Banjar

Pada tahun 1862, batu tersebut tiba di Belanda berbentuk intan kasar yang beratnya 70 karat. Fransen van der Putte (1822-1902), mantan Menteri Koloni, pada tahun 1897 mengatakan bahwa sebelum dipotong/dicutting berlian itu “tidak menarik bagi orang awam, malah tampak seperti sepotong arang.”

Antara bulan Mei hingga Agustus tahun 1870, batu/intan itu kemudian dicutting (digosok) di Amsterdam, oleh A.E. Daniels & Son, direktur pelaksana dari pabrik mendiang ME Coster (1791-1849).

BACA JUGA : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Menurut analisis geologi S. Van Leeuwen dan JC Zwaan, berlian tersebut memiliki berat 38,23 karat, berukuran panjang 21,86, lebar 17,37 serta tinggi 13,86 mm. Berlian berbentuk persegi panjang dan digambarkan sebagai cuttingan hasil tambang lama yang dimodifikasi.

Sultan Banjar dan anggota keluarganya memegang hak eksklusif (apanaze) atas beberapa lokasi tambang dan menyewakan hak itu kepada orang lain. Intan tidak hanya berperan besar meningkatkan perekonomian Sultan. Intan berukuran besar yang didapatkan di pendulangan persembahkan ke Sultan yang kemudian dijadikan permata dan simbol kekuasaan (regalia). Satu diantaranya Intan Banjar di Rijksmuseum Amsterdam.

BACA JUGA : Hanya 3 Tahun Duduki Banjarmasin, Jepang Hapus Warisan Belanda di Ibukota Borneo Selatan

Sebagian besar sejarawan mencatat asal usul intan di Rijksmuseum Amsterdam sudah ada di tahun 1829 atau 1830-an. Terdapat dalam catatan perjalanan Salomon Müller (1804-1864), ahli zoologi Jerman, yang melakukan ekspedisi di Banjarmasin pada tahun 1836 dan menerbitkan catatan perjalanannya antara tahun 1839 hingga 1844.

Kantor Residen Belanda di Kampung Amerongan masuk ring Benteng Tatas dengan monumen Perang Banjar di Banjarmasin. (Foto KILTV Leiden Belanda)

Muller menuliskan bahwa Sultan Adam Al-Watsiq Billah (1771-1857) memiliki berlian kasar, yang menurut Sultan sendiri berukuran 77 karat. Berlian itu berbentuk “persegi delapan biasa.” Berlian kasar ini dibingkai emas, menjadi hiasan yang dikenakan sebagai bandul di leher Sultan dengan gantungan tali sederhana. Dianggap harta “paling berharga” Sultan.

BACA JUGA : Belanda Janji Kembalikan Berlian Sultan Banjar yang Dirampas ke Indonesia

Müller menggambarkan intan ini sebagai kontradiksi kemewahan diantara kekayaan Sultan dengan kondisi keraton Martapura yang buruk dan menyedihkan. Müller mengisahkan, intan 77 karat itu ditemukan di sebuah pertambangan intan tradisional di dekat Kampung Goenong-Lawak, yang dimiliki oleh Sultan dan putranya. Waktu itu penemunya hanya menerima 500 spaanse matten (dolar Spanyol) atau 1.275 gulden Belanda sebagai kompensasi.

Muller bukanlah orang Eropa pertama yang menulis tentang berlian besar yang dikenakan di leher Sultan. Dalam Surat Kabar Nieuwe Amsterdamsche Courant dan Algemeen Handelsblad yang terbit tahun 1833. Bahwa pada tahun 1823 putra bungsu Sultan Sulaiman Saidullah II (1761-1825) mengenakan berlian 68 karat. Tetapi menurut versi lain sebenarnya berukuran 72 karat yang dikenakan sebagai “kalung hijau” di leher putra Sultan.

BACA JUGA : Embrio Nama Kotabaru Berawal dari Konsesi Batubara Belanda Era Pangeran Amir Husin

Kemudian pada tahun 1829, “seorang penduduk Banjarmasin” mengunjungi tambang berlian Kesultanan dan menggambarkannya dalam Surat Kabar Javasche Courant. Bahwa sebuah berlian 77 karat, yang dibingkai pada pita emas dan gantungan hitam sederhana dikenakan sebagai kalung oleh Sultan sendiri.

Lampu penerangan atau lilin dalam Istana Sultan Banjar. (Foto FB Kesultanan Banjar)

Korthals (1807-1892) juga melaporkan tentang intan berbentuk “segi delapan biasa” yang didapatkan di tambang intan sekitar Goenong Lawak milik Sultan. Dalam publikasi ia menyatakan bahwa berlian itu berukuran 72 karat. Akan tetapi berbeda dengan pemaparan dalam buku hariannya, ia melaporkan bahwa berlian itu berukuran 76 karat.

BACA JUGA : Ekspedisi Militer Belanda dan Jatuhnya Benteng Ramonia, Basis Pertahanan Pejuang Banjar

Kesimpulannya, terdapat rincian berbeda tentang ukuran berlian tersebut, antara 68 dan 77 karat. Dibingkai dengan akord hitam atau hijau, dengan variasi hiasan emas atau perak. Kemudian terdapat kompensasi untuk para penambang yang mendapatkannya. Berbagai narasi serupa tapi tidak sama muncul tentang adanya sebuah berlian besar dikenakan di leher sultan.

Pada tahun 1857-1862, tepatnya pada tanggal 3 November 1857, dua hari setelah kematian Sultan Adam, Tamdjidillah al-Watsiq Billah lalu dilantik di Martapura sebagai sultan baru.

BACA JUGA : Benteng Oranje Nassau, Simbol Supremasi Belanda Pemicu Perang Banjar

Walaupun dalam wasiatnya, Sultan Adam menunjuk cucunya Pangeran Hidayatullah, Pemerintah Belanda malah lebih memilih Tamdjidillah (1817-1867), putra lain dari Pangeran Abdul Rakhman dan keponakan Prabu Anom, untuk menjadi Sultan. Tamjidillah menjalin hubungan baik dengan kalangan Eropa di Kota Banjarmasin dan telah berjanji untuk memberikan konsesi semua tambang batu bara di dalam perbatasan kesultanan Banjarmasin.

BACA JUGA : Cerita Sebutir Kelapa, Komoditas Berharga di Era Kolonial Belanda

Namun, Pangeran Tamjidillah ini kurang disukai (tidak populer) di kalangan penduduk Banjar, karena ibunya yang Tionghoa-Dayak bukan keturunan bangsawan (tutus). Kemudian Tamjidillah juga dianggap hanya menghabiskan sebagian besar waktunya berkumpul dengan orang orang Eropa di Kota Banjarmasin.

Suasana kampung Cina (Pecinan) di Banjarmasin dengan latar belakang rumah penduduk dan Istana Pangeran Tamjidillah. (Foto FB Kesultanan Banjar)

Kandidat Sultan terakhir adalah putra kedua Abdul Rakhman, Hidayatullah (1822-1903), yang ibunya juga keponakan Abdul Rakhman. Hidayatullah dengan demikian adalah keturunan dan pewaris kerajaan “ganda”. Umumnya orang Banjar menganggap Hidayatullah sebagai pewaris tahta yang sah.

BACA JUGA : Tergerak Beratib Beamal, Gusti Zaleha Angkat Senjata Lawan Kolonial Belanda (2)

Pada tanggal 1 November 1857, Sultan Adam meninggal dunia. Dua hari kemudian Tamdjidillah buru-buru dilantik oleh Residen menjadi sultan. Hal ini terjadi di luar dugaan “pewaris” takhta lainnya, yakni Praboe Anom yang didukung oleh ibunya Kemala Sari, dan Hidayatullah.

Menurut Van Rees, Kemala Sari, sebagai istri mendiang Sultan Adam, memegang sebagian besar regalia (pusaka kesultanan) dan sebagian lagi digunakan oleh keponakannya Kiai Adiphati Danu Redjo, serta Hidayatullah.

BACA JUGA : Mengintip Kejayaan Karet Kalsel Era Kolonial Belanda

Pada hari pelantikan Tamdjidillah, Ratu Kemala Sari dan Hidayatullah menolak untuk menyerahkan beberapa regalia penting yang mereka miliki. Hanya setelah pertimbangan panjang, mereka pun menyerahkan regalia dan peresmian Tamdjidillah dapat dilanjutkan.

Dari pernyataan ini dapat diasumsikan bahwa Tamdjidillah telah mengamankan semua regalia Banjarmasin, termasuk intan 70 karat.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Artikel disarikan dari Laporan asal bertitel, The Banjarmasin Diamond, Pilot project Provenance Research on Objects of the Colonial Era (PPROCE), yang disusun Klaas Stutje, kerjasama peneliti Sejarah Banjar, Mansyur (Prodi Sejarah FKIP ULM, Banjarmasin), Maret 2022.

1 Komentar
  1. anindya berkata

    hi, mampir ke website kampus aku yukk walisongo.ac.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.