Kenapa Kota Barabai dan Sekitarnya Selalu Langganan Banjir? Ini Beragam Pendapat Warga HST

0

JIKA hujan berdurasi cukup lama dengan intensitas tinggi, maka banjir pun melanda Kota Barabai dan sejumlah wilayah di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

ADA apa dengan Barabai dan sekitarnya kenapa harus menjadi langganan banjir? Terhitung dalam tahun 2022 ini, lebih dari tiga kali banjir telah melanda Kabupaten HST, terkhusus serbuan air melanda ibukotanya, Barabai.

Laporan warga Barabai soal banjir hampir memenuhi platform media sosial. Seperti kondisi Pasar Barabai yang jadi titik berkumpulnya air, ketika hujan tinggi atau luapan dari sungai-sungai di sekelilingnya seperti terjadi pada Minggu (25/9/2022).

BACA : Dampak Curah Hujan Tinggi, Desa-Desa di Haruyan dan Batu Benawa di Kabupaten HST Diserbu Banjir

Pemilik Pahuluan Rescue, Noor Siwan mengakui Barabai dan sekitarnya memang langganan banjir ketika curah hujan tinggi, apalagi durasinya lama hampir seharian.

“Sebenarnya, bukan hanya hujan yang disalahkan. Tapi, memang ada pendangkalan Sungai Barabai dan lainnya sehingga daya tampungnya menurun, ketika ada limpahan air hujan dan turunnya air dari pegunungan,” ucap Noor Siwan kepada jejakrekam.com, Senin (26/9/2022).

BACA JUGA : Banjir Barabai dan Sekitarnya Tak Terulang Lagi, Ini Solusi dari Eks Wabup HST

Ia mengakui Pemkab HST sudah maksimal dengan melebarkan Sungai Barabai di Kampung Kadi sampai Pajukungan. Namun, proyek pengerukan dan pendalaman sungai tidak menyapa sungai-sungai lainnya.

“Apalagi, di bantaran sungai masih banyak pemukiman warga. Ya, selama 2022, sudah lebih dari tiga kali Barabai dilanda banjir, memang tak separah dengan kejadian pada 2021 lalu,” ucap Incus, sapaan akrabnya.

BACA JUGA : 3 Kecamatan Diterjang Banjir, Pemkab HST Tetapkan Status Siaga 1 Darurat Bencana

Posisi Barabai seperti berada di permukaan ‘mangkok’ karena dikelilingi barisan Pegunungan Meratus, serta sungai-sungai lainnya yang bermuara ke kota itu. Seperti Sungai Haruyan, Sungai Batang Alai dan Sungai Barabai, ketika meluap maka akan menyasar Kota Barabai dan sekitarnya.

Kondisi ruas jalan di Kota Barabai terendam banjir pada Minggu (25/9/2022) akibat tngginya curah hujan. (Foto Habar Banua Kalimantan)

“Sebenarnya, bukan soal sistem atau jaringan drainase di Kota Barabai yang bermasalah, atau ada embung untuk menampung. Karena Barabai merupakan kawasan hilir, justru yang terjadi adalah permasalahan itu di bagian hulu. Ketika bagian hulu rusak, maka bagian hilir akan sulit itu menangkal banjir,” kata Incus.

BACA JUGA : Banjir Landa Hantakan dan Batu Benawa, Bocah 2 Tahun Tewas Hanyut Terbawa Arus

Mantan Wakil Ketua DPRD HST dari Fraksi PPP, Jainudin Bahrani mengakui banjir yang dialami Barabai merupakan dampak dari daerah hulu Pegunungan Meratus.

“Saat ini debit air sudah mulai turun di Barabai. Memang banjir sempat mengalami kenaikan di Desa Aluan, Kecamatan Batu Benawa,” kata Jainuddin.

Dia pun tak memungkiri sungai-sungai yang hilirnya berada di Barabai juga mengalami pendangkalan. “Ini juga akibat dampak banjir bandang yang membawa lumpur dari arah atas (Pegunungan Meratus). Memang sungai-sungai di Barabai harus dikeruk untuk mendalamkan daya tampungnya,” tutur Ketua DPC PPP HST ini.

BACA JUGA : HST Hitung Total Kerugian Banjir Capai Rp 151 Miliar, Ini Analisis dari UGM

Mantan Wakil Bupati HST Berry Nahdian Forqan pun mengakui banyak faktor menyebabkan Barabai menjadi daerah langganan banjir.

“Multi faktor. Selain curah hujan, topografi, juga faktor hutan alamnya yang semakin berkurang dan kemampuan daya dukung daya tampung di hilirnya,” ucap mantan Direktur Eksekutif Walhi Nasional ini.

Ia mengakui Pemkab HST belum serius dalam membuat rekayasa sungai dengan sodetan yang dibuat. Memang adanya sodetan di Sungai Barabai dan lainnya cukup mengurangi rendaman di kota, namun justru berdampak pada daerah lain yang dilewati sodetan.

BACA JUGA : Mana Suara Saiful Rasyid dan Rifqinizamy! Istana Negara Butuh Didemo DPRD HST

“Ada pembuatan embung, namun yang mau dibuat masih terkesan lambat. Sementara upaya pemulihan di hulu daerah tangkapan air di gunung, belum dapat perhatian serius,” kata Sekretaris PWNU Kalsel ini.

Dikutip dari LPSE HST, ada beberapa proyek penanganan banjir dilelang oleh Pemkab HST melalui Dinas PUPR maupun Dinas Pertanian. Seperti normalisasi kanal banjir dan sungai. Hingga, ada proyek Amdal kolam pengendali banjir Kabupaten HST senilai Rp 500 juta yang terpaksa ditender ulang pada 2022 ini.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.