Dibangun Berbiaya Rp 4,2 Miliar Lebih, Museum Kota Banjarmasin Segera Perkuat Status JKPI

0

IMPIAN warga Banjarmasin punya museum sendiri segera terwujud. Ini karena, pada APBD 2022 telah digelontorkan dana berpagu segede Rp 4.706.370.091.

PROYEK bernilai miliaran rupiah dari Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Banjarmasin ini digarap kontraktor pelaksana; CV Mitra Maida Dita (Banjarmasin) dengan nilai kontrak Rp 4,2 miliar lebih.

Museum Kota Banjarmasin ini terletak di Jalan Teluk Kelayan RT 05 RW 01, Kelayan Luar, Banjarmasin Selatan, merupakan bangunan lawas bergaya arsitektur Banjar, menghadap ke Sungai Martapura.

Selama ini di Banjarmasin, hanya ada Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) dengan koleksi 500 benda bersejarah perjuangan rakyat Kalsel. Museum ini milik Pemprov Kalsel di Kampung Kenanga RT 14, Gang H Andir, Jalan Sultan Adam, Sungai Jingah. Sedangkan, satunya lagi, Museum Lambung Mangkurat di Jalan A Yani Km 35,5 Banjarbaru.

BACA : Kisah Berlian Banjar di Rijskmuseum Amsterdam; Tragedi Sebuah Regalia

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Kota Banjarmasin, Zulfaisal Putera menjelaskan dalam catatan sejarah Banjarmasin sebenarnya punya museum. Namanya, Museum Borneo (1907) dikelola oleh sejarawan Banjar, Amir Hasan Bondan.

“Museum yang didirikan Pemerintah Belanda ini berakhir ketika masa pendudukan Jepang. Hingga akhirnya, Gubernur Milono mendirikan Museum Kalimantan pada 22 Desember 1955,” tutur Zulfaisal Putera dalam postingannya di akun FB dikutip jejakrekam.com, Rabu (4/1/2023).

BACA JUGA : Punya Koleksi 700 Benda Bersejarah, Museum Banjarmasin di Teluk Kelayan Segera Terealisasi

Dia menjelaskan separuh koleksi Museum Kalimantan ini merupakan milik Amir Hasan Bondan. Hingga akhirnya, dalam Konferensi Kebudayaan pada 1957 di Banjarmasin, Museum Kalimantan berganti nama menjadi Museum Banjar pada 1967.

Begitu berakhir, koleksi Museum Banjar pun dipindah ke Museum Lambung Mangkurat yang dibangun pada 1974. Kemudian, diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef pada 10 Januari 1979.

BACA JUGA : Ziarah ke Raja Banjar, Walikota Ibnu Sina Sebut Koleksi Museum Sultan Suriansyah Mulai Lengkap

Menurut Zulfaisal Putera, kini jelang usia Banjarmasin ke-497, Banjarmasin punya museum sendiri. Bangunan museum ini merupakan aset yang diselamatkan dalam pembebasan kawasan Teluk Kelayan oleh Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Banjarmasin.

Rancang bangun Museum Kota Banjarmasin di Teluk Kelayan, yang telah rampung digarap tinggal pengoperasian. (Foto FB Zulfaisal Putera)

“Ternyata, dalam bangunan itu, ada 700 benda pusaka berupa keris, mandau, dan peralatan perang lainnya, serta perabot rumah tangga warisan tempo dulu,” kata Zulfaisal Putera.

BACA JUGA : Tahun Depan Kawasan Sekumpul Dipercantik Dilengkapi Museum Peradaban Islam Banjar

Masih kata dia, rumah dan koleksi benda pusaka itu milik H Abdullah, yang dibeli dari saudagar dari Cina (Tionghoa). Pemeliharaan rumah dan isinya itu kemudian dipercayakan kepada anaknya, H Basiruddin merupakan salah satu pejuang Tanah Banjar yang melawan kolonialisme Belanda di masa revolusi.

“Sekarang rumah berarsitektur Banjar dan 700 benda pusakanya  dipelihara dengan apik oleh cucunya, yaitu Syarifuddin Noor,” kata pria yang juga aktif di dunia seni budaya Banjar ini.

BACA JUGA : Menghidupkan Museum Borneo Demi Keabadian Sejarah

Hingga, Walikota Ibnu Sina pada 28 Februari 2018 tertarik dengan koleksi benda pusaka di bangunan lawas tepi sungai itu. Hinga, ditetapkan jadi Museum Kota Banjarmasin.

Zulfaisal menjelaskan ada dua alasan kenapa bangunan itu dijadikan museum. Yakni, karena Banjarmasin belum mempunyai satu pun museum. Kedua, Banjarmasin adalah anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), di mana salah satu programnya adalah mendirikan museum.

“Lahan dan bangunan rumah itu sendiri sudah dibeli Pemkot Banjarmasin jadi bagian dari pembebasan lahan pembangunan muara Kelayan dan siring Teluk Kelayan. Yang jadi persoalan tinggal bagaimana 700 benda pusaka itu jadi materi yang mengisi museum,” tutur Zulfaisal.

BACA JUGA : Minta Dukungan Komisi X DPR RI, Walikota Ingin Segera Miliki Museum Kota

Dia menjelaskan konstruksi bangunan lawas tetap dipertahankan, baik bahan dan bentuknya. Hingga pada 2018 dibuat Detail Engineering Design (DED) atau Rancang Bangun Rinci Museum Kota Banjarmasin.

“Tahun 2020 dan 2021, tidak bisa dikerjakan pembangunan Museum Kota Banjarmasin karena pandemi Covid-19. Hingga, tahun 2022 ini bisa terealisasi,” kata Zulfaisal.

Diawali pada 22 Juni, hingga pada akhir tahun 2022, usai digarap selama 180 hari kerja, Museum Kota Banjarmasin dinyatakan rampung. Berdiri di atas lahan seluas 208,00 m2 dengan tinggi bangunan 7,02 meter.

BACA JUGA : Museum Wasaka, Rumah Banjar yang Didesain Arsitek Singapura

“Dibangun semirip mungkin dengan bangunan asli, dengan berbahan dominan kayu ulin dan  atap sirap. Sementara pintu dan jendelanya dibuat dengan cukup besar tinggi, seperti rumah Banjar bahari,” kata Zulfaisal.

Saat ini, kondisinya masih kosong, Zulfaisal memastikan pada 2023 dianggarkan untuk pengisi meja, lemari, papan display untuk meletakkan benda-benda pusaka serta perlengkapan lainnya laiknya sebuah museum.

“Kami juga harus berkonsultasi dengan Kemendikbudristek untuk pendaftaran registrasi museum dan ke Museum Nasional bagaimana pengelolaan museum. Mungkin secara fisik sudah siap dikunjungi pada triwulan keempat 2023,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Sirajuddin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.