Permata dari Boomstraat, Jejak Sejarah de Javasche Bank di Banjarmasin

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

KOTA Banjarmasin masih menyimpan memori keberadaan bank yakni De Javasche Bank Bandjermasin atau Bank Indonesia. Walaupun bangunannya sudah tidak ada lagi berganti bangunan megah bertingkat, tetapi banyak cerita di balik bangunan yang dirancang arsitek Cuypers dan A.A. Fermont ini.

BANGUNAN ini diresmikan tahun 1923 dengan alamat resmi di Jalan de Resident de Hans, Bandjermasin. Sekarang tepatnya di Gedung Bank Indonesia, Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

Dalam rentang tahun 1870–1942, De Javasche Bank (DJB) telah membuka 15 kantor cabang di kota-kota yang dianggap strategis di Hindia Belanda. Mulai dari Yogyakarta (1879), Pontianak (1906), Bengkalis (1907), Medan (1907). Kemudian di Bandjermasin (1907), Tanjungbalai (1908), Tanjungpura (1908), Bandung (1909), Palembang (1909), Manado (1910), Malang (1916), Kutaraja (1918), Kediri (1923), Pematang Siantar (1923), serta Madiun (1928).

BACA : Nostalgia Hotel Bandjer, Berburu Tanggui di Pasar Kuin

Dari informasi ini diketahui bahwa kantor DJB Agentschap Bandjermasin dibuka pada tahun 1907, namun proses perencanaan bangunan kantornya tercatat dimulai pada tahun 1919 dan diresmikan pada tahun 1923.

Dalam baboon “Bank Indonesia dalam Lintasan Sejarah Kalimantan Selatan” (2022) dituliskan Kantor DJB Bandjermasin sejak 1907–1923 menempati rumah dinas pemimpin cabang (agen) DJB Bandjermasin di Jalan Resident De Haan Weg (Boomstraat atau Jalan Lambung Mangkurat sekarang). Rumah ini lokasinya berdekatan dengan kantor DJB Bandjermasin yang kemudian dibangun dan diresmikan tahun 1923.

De Javasche Bank Bandjermasin saat diresmikan di Jalan Resident De Haan Weg (Boomstraat) dihadiri pengusaha dan pemerintahan Hindia Belanda. (Foto KITLV Leiden)

BACA JUGA : Ketika Arsitek Belanda Bertanya Bangunan Lawas

Awalnya kantor DJB Bandjermasin dari 1907–1923 adalah rumah dinas agen, berada di kavling 47, Banjarmasin. Menurut catatan dalam The Directory & Chronicle for China, etc, tahun 1912 bank cabang Banjarmasin dipimpin direktur bernama W. Jolles.

Kemudian pada tahun 1919 di kavling 49 mulai dirancang dan dibangun kantor DJB Bandjermasin oleh Biro Arsitek Biro Hullswit-Cuypers, diresmikan dan dipergunakan pada tahun 1923–1986. Pada kavling 48 tahun 1955 diperkirakan dibangun Rumah Dinas Pimpinan Bank Indonesia, dan selanjutnya dari 1986 di lahan tersebut (kavling 47 dan 48) berdiri gedung Bank Indonesia Kalimantan Selatan yang dapat dilihat hingga sekarang ini (kavling 49 menjadi area parkir).

BACA JUGA : Hanya 3 Tahun Duduki Banjarmasin, Jepang Hapus Warisan Belanda di Ibukota Borneo Selatan

Proses perencanaan dan pembangunan bangunan kantor DJB Bandjermasin dirintis mulai tahun 1919. Hal ini berdasarkan surat dari pimpinan cabang DJB Bandjermasin ke Presiden Direktur DJB di Batavia Nomor 92/2 tanggal 21 November 1919 dan kemudian dilanjutkan dengan Surat Nomor 93/1 tanggal 14 Juni 1920 tentang “Borsumij en Nieuwe Gebouw van De Javasche Bank Bandjermasin” (Borsumij dan bangunan baru DJB Bandjermasin)”.

Bangunan megah De Javasche Bank Bandjermasin di Jalan Lambung Mangkurat (dulu Boomstraat) dengan ruas jalan lebar. (Foto KILTV Leiden)

Dalam laporan Verslag van den President van De Javasche Bank en van den Raad van Commissarissen (1936) pada awalnya, pembangunan gedung-gedung De Javasche Bank di Hindia Belanda sejak tahun 1910, ditangani agensi Arsitek Ed. Cuypers en Hulswit. Pada saat itu, Eduard Cuypers beserta Marius J. Hulswit, merupakan agensi arsitektur terbesar di Hindia Belanda, yang disebut Agensi Hulswit-Fermont, Batavia and Cuypers, Amsterdam. Pemba-ngunan gedung de Javasche Bank dengan sistem kontrak yang berdurasi 25 tahun. Artinya, pembangunan gedung akan dibangun biro ini sejak tahun 1910 hingga 1935.

BACA JUGA : Benarkah Banjarmasin Itu Lahir pada 24 September 1526?

Bangunan DJB dibangun terhitung sejak 1910 hingga 1935 oleh N.V. Architecten-Ingenieursbureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam (Biro Fermont-Cuypers). Perusahaan itu pun merupakan perusahaan yang baru berdiri di tahun itu (1910) atas prakarsa M. J. Hulswit dan Eduard H.G.H Cuypers.

Namun sebelum proyek pembangunan itu selesai, pada tahun 1921 M. J. Hulswit meninggal dunia. Proyek perencanaan dan pembangunan DJB, termasuk DJB Bandjermasin, dilanjutkan oleh Eduard H. G. H Cuypers yang bekerja sama dengan Arthur Amandus Fermont (Fermont).

Tampak depan bangunan De Javasche Bank di Banjarmasin dengan megah sebagai bank berjaringan di Hindia Belanda dan berpusat di Belanda. (Foto KITLV Leiden)

Dalam agensi ini, Cuypers bekerjasama dengan A.A. Fermont bernaung di bawah Naamloze Vennootschap (NV) Architecten Ingenieurs-bureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam atau Agensi Fermont-Cuypers. Surat pertama (8 April 1922) berupa laporan dari pimpinan cabang DJB Bandjermasin kepada Direktur DJB pusat tentang pengerjaan ruang khazanah DJB Bandjermasin yang menggunakan beton bertulang oleh Tuan Dumans.

BACA JUGA : 1 Juli 1919 ; Metamorfosa Banjarmasin Menjadi Kotamadya di Era Kolonial Belanda

Sementara surat kedua (22 April 1922) berupa tanggapan atas surat pertama yang menyatakan bahwa pihak Direktur DJB pusat di Batavia tidak keberatan dengan pekerjaan Tuan Dumans.Pengerjaan bangunan DJB Bandjermasin selesai di tahun 1923 yang kemudian diresmikan pada 28 Februari 1923.

Sumber Primer tentang peresmian DJB Banjarmasin satu diantaranya dituliskan dalam Surat Kabar Bataviaasch nieuwsblad, edisi Jumat, 9-Maret-1923. Dalam artikel berjudul “Javasche Bank di Bandjarmasin, dituliskan bahwa pada dua hari sebelumnya Rabu, 7 Maret 1923 lalu gedung baru Javasche Bank dibuka.

BACA JUGA : Intan Sultan Adam, Rampasan Perang Banjar yang Kini Dikoleksi Museum Belanda

Menurut seorang koresponden van de Loc, banyak warga menanggapi undangan untuk menghadiri upacara ini. Pejabat pemerintahan dan militer terwakili dengan baik. Setelah Ny. Van Eck telah membuka kunci gedung itu, dilanjutkan peninjauan ke gedung yang sederhana dan rapi tersebut.

Kemudian agen Javasche Bank memberikan sambutan, yang menceritakan berbagai detail tentang bangunan, yang terdiri dari bingkai kayu, dengan dinding déployé logam yang diplester dan fondasi caissons dari beton bertulang, sehingga bangunan itu benar-benar mengapung di atas lumpur (rawa).

BACA JUGA : Dari Militaire Weg ke Jalan Kalimantan hingga Jalan S Parman

Selanjutnya sambutan diberikan oleh Mr. Van Eck, sebagai perwakilan dari residen, yang telah berangkat ke Jawa sehubungan dengan konferensi para pejabat daerah, dan oleh Mr. Breyer, agen K-P.M. atas nama perdagangan, pelayaran dan industri. Bangunan ini terletak dengan baik dan juga membuat kesan yang menyenangkan dari luar.

Selain itu, merupakan satu-satunya bangunan di Bandjarmasin yang tidak seluruhnya terbuat dari kayu. Ciri khas lainnya arsitektur bangunan DJB sebagai salah satu bangunan yang berdiri di atas rawa dan memiliki ciri khas lokal.

Jajarfan direksi dan bankir De Javasche Bank Bandjermasin bersama pegawai serta pesuruh pribumi berfoto bersama di depan bangunan bank. (Foto KITLV Leiden)

Ciri khas lainnya gedung De Javasche Bank Bandjermasin, memiliki ciri arsitektur yang beragam dari bentuk atap bangunan yang menyerupai atap rumah Joglo/ limasan. Gedung-gedung tersebut menjadi unik karena meng-kombinasikan arsitektur bergaya Eropa dan lokal. Gaya inilah yang dominan pada bangunan Hindia Belanda yang digarap setelah tahun 1920. Djoko Sukiman menyebutnya dengan arsitektur Indis.

BACA JUGA : Konsep Kota Taman Banjarmasin Thomas Karsten dan Banjarbaru ala Van der Pijl

Sejak diberlakukannya Bankwet 1922 hingga masa datangnya kekuasaan Jepang, De Javasche Bank yang berpusat di Batavia dipim-pin oleh E.A. Zeilinga (1922-1924), Mr. L.J.A. Trip (1924-1929), dan Mr. Dr. G.G. van Buttingha Wichers (1929-1945).

Sejak itu, DJB Bandjermasin beroperasi hingga tahun 1949 saat Kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan penuh atas Indonesia dan mengakui Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. Empat tahun setelahnya, pemerintah Indonesia menerbitkan UU Nomor 11 Tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia, bahwa terhitung mulai 1 Juli 1953 DJB berubah menjadi Bank Indonesia (BI) dan secara resmi BI sebagai Bank Sentral Republik Indonesia.

Undang-Undang tersebut sekaligus menjelaskan adanya pembelian saham oleh BI dan sejak itu seluruh aset DJB menjadi aset BI.  DJB Bandjermasin akhirnya diakuisisi menjadi kantor BI Kalimantan Selatan.

Bangunan lawas De Javasche Bank Bandjermasin yang lama dengan bangunan baru Bank Indonesia di Jalan Lambung Mangkurat era Kemerdekaan RI. (Foto Bank Indonesia)

BACA JUGA : Kisah Tuan B. Broers, Pemilik Tanah Kelayan Banjarmasin di Era Kolonial Belanda

Namun, bangunan DJB Bandjermasin tidak banyak diubah dan bertahan hingga dilakukan pembongkaran pada tahun 1985. Dan di tahun 1986 bangunan BI mulai dibangun dan diremajakan. Sejak kantor DJB Bandjermasin diresmikan hingga periode awal kemerdekaan, bangunan DJB Bandjermasin ini tidak banyak mengalami perubahan.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa penambahan ruang diketahui terjadi hanya pada ruang khazanah. Penambahan ruang ini diperkirakan terjadi pada tahun 1953–1967. Bangunan DJB Bandjermasin bertahan hingga tahun 1985.Masa Orde Baru, perekonomian Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pemerintah RI mengeluarkan kebijakan terkait pembangunan kantor-kantor BI di berbagai daerah, termasuk di Kota Banjarmasin.

Bangunan Bank Bumi Daya yang kini jadi Bank Mandiri di Jalan Lambung Mangkurat yang sezaman dengan pembangunan De Javasche Bank Bandjermasin di era Kolonial Belanda. (Foto Portal Banjarmasin)

Dalam proses pembangunan itu, pemerintah memberikan kesempatan dua cara selama, antara lain: renovasi total, renovasi sebagian, pembangunan baru di lokasi yang baru, demolisi atau pembongkaran bangunan lama, dan penambahan bangunan baru di lokasi yang sama.

BACA JUGA : Dikembangkan Era Residen Krosen, Kisah Kanal Oelin Hingga Kanal A Yani (2)

Untuk BI Kalimantan Selatan dilakukan penambahan bangunan baru di lokasi yang sama. Perencanaan bangunan baru itu dibuat oleh konsultan PT Bina Karya pada 1982. Namun, dalam pelaksanaannya pembangunan atas bangunan baru BI Kalimantan Selatan dilakukan oleh kontraktor PT Hammer Sakti.

Dalam perencanaan pembangunan itu, ada upaya untukmempertahankan bentuk bangunan lama dari DJB Bandjermasin, namun kemudian pada 1985–1986 rencana itu tidak direalisasikan. Bangunan lama DJB Bandjermasin kemudian didemolisi pada tahun 1985–1986 sehingga rekam jejak wujud fisik arsitektur lama tidak dapat ditemukan lagi pada saat peresmian bangunan baru BI Kalimantan Selatan, 6 Desember 1986.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.