Husairi Abdi

Konsep Kota Taman Banjarmasin Thomas Karsten dan Banjarbaru ala Van der Pijl

0

Oleh : Didi G Sanusi

DUA arsitek Belanda, Herman Thomas Karsten dan Dirk Andries Willem Van der Pijl sama-sama turut merancang kota di Kalimantan Selatan yang sebelumnya bernama Borneo Bagian Selatan di era kolonial Belanda. Banjarmasin dan Banjarbaru yang menjadi kota terpenting.

KONSEP Garden City (Kota Taman) dibawa kedua arsitek kawakan Belanda. Thomas Karsten memperkenalkan konsep rancangan kota taman ini ke Indonesia, kemudian disusul Van der Pijl saat merancang Kota Banjarbaru.

Konsep Garden City ini merupakan karya Ebenezer Howard pada 1898, lewat bukunya berjudul “To-morrow: A Peaceful Path to Real Reform”.  Hingga buku ini diperbarui lagi pada 1902, berjudul “Garden Cities of To-Morrow”. Konsep ini pun banyak diadopsi para perancang kota sebagai perancangan kota modern di Indonesia.

Thomas Karsten pun menerapkan model Garden City di beberapa kota di Indonesia, saat mendapat tugas selaku penasihat perencanaan kota (adviseur gemeente) pada 1920-1930. Karya Thomas Karsten yang lebih menghargai kearifan lokal dan lingkungan dituangkan dalam rancangan kota, termasuk di Banjarmasin.

BACA : Menghidupkan Kembali Ruh Kota Sungai ala Thomas Karsten

Meski kemudian, Thomas Karsten, sang arsitek lulusan Universitas Amsterdam, dan kemudian menjadi staf pengajar planologi di Institut Teknologi Bandung (ITB) di era kemerdekaan atas permintaan Presiden Soekarno, merupakan pelopor lahirnya arsitek-arsitek di Indonesia.

Herman Thomas Karsten, arsitek Belanda yang didatangkan menata kota-kota di Indoensia termasuk Banjarmasin. (Foto Boombastis.com)

Saat ini, model kota taman yang dirancang Thomas Karsten, memang tak tersisa lagi. Namun, sistem kanalisasi yang diperkenalkan sang arsitek ini masih bisa disaksikan. Seperti 10 kanal warisan Belanda yang dibangun pada 1770-1945,  kini terabaikan. Yakni, Kanal Sutoyo S (Teluk Dalam), Kanal Veteran, Kanal Raden (Antasan Raden), Kanal A Yani, Kanal Pirih, Kanal Benteng Tatas (Sungai Tatas/Masjid Raya Sabilal Muhtadin), Kanal Pangambangan, Kanal Besar (Jalan Anyar Mulawarman/Jalan Jafri Zamzam), Kanal Awang dan Kanal Bilu. Kanal-kanal ini pun terkoneksi ke Sungai Barito dan Sungai Martapura.

BACA JUGA : Dikembangkan Era Residen Krosen, Kisah Kanal Oelin Hingga Kanal A Yani (2)

Namun, jika mengamati koleksi foto lawas dari KITLV Leiden Belanda, tampak jelas begitu hijaunya Kota Banjarmasin yang dihiasi taman-taman kota dengan latar belakang kantor Residen di kawasan Pulau Tatas dan sekitarnya. Ini ditandainya dengan adanya Lapangan Merdeka yang kini telah menjadi kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Termasuk, ruas-ruas jalan di Banjarmasin tempo dulu, teduh dengan pepohonan dan taman-taman.

Kantor Residen Belanda di Pulau Tatas yang menjadi pusat pemerintahan lengkap dengan taman-taman publik dan lapangan Merdeka. (Foto KITLV Leiden)

Rupanya konsep Garden City kembali dihidupkan Van der Pijl. Ini usai mendapat perintah dari Gubernur Kalimantan (Selatan) Raden Tumenggung Arya Milono pada 9 Juli 1954, saat mengusulkan ke pemerintah pusat untuk memindahkan ibukota Kalsel ke Banjarbaru dari Banjarmasin.

BACA JUGA : Badai Pengangkatan Walikotamadya Banjarmasin

Dikutip dari jurnal Studi Tata Ruang Kota Rancangan Van Der Pijl Kasus: Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan karya Naimatul Aufal dan Pakhri Anhar pada 2012 diterbitkan Biro Penerbit Planologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, mengungkapkan adanya hubungan dari kedua arsitek berdarah Belanda dalam merancang kota-kota di Indonesia, khususnya Banjarmasin dan Banjarbaru.

Thomas Karsten datang ke Indonesia atas undangan Maclaine Point, hingga meninggalkan Belanda demi merancang perumahan dan perkotaan di Indonesia. Kota-kota yang menjadi buah karya Thomas Karsten di antaranya Medan, Palembang, Padang, Banjarmasin, Semarang, Bandung, Jakarta, Magelang, Malang, Bogor, Madiun, Cirebon, Jatinegara, Purwokerto, Yogyakarta dan Surakarta.

Kondisi pemukiman warga Eropa di seputaran Benteng Tatas yang tertata dengan konsep jalan dan pepohonan rindang di Banjarmasin. (Foto KTILV Leiden)

BACA JUGA : Hargai Jasa Bapak Pembangunan, Pemkot Banjarbaru Dirikan Baliho Biografi Van Der Pijl

“Memang tidak ditemukan hubungan antara Thomas Karsten dengan Van der Pijl, baik hubungan darah, guru-murid maupun hubungan kerja. Kesamaan kedua arsitek ini berdarah Belanda dan pernah berdomisili di Bandung,” tulis Naimatul Aufal.

Menurut dia, Van der Pijl didatngkan langsung dari Belanda pada 1929, sebelum merancang Kota Banjarbaru, sempat tinggal di Bandung, Cirebon dan Balikpapan. “Memang, konsep Garden City mempengaruhi Van Der Pijl mulai dari Belanda hingga tiba di Indonesia. Konsep kota taman ini juga diterapkan di kota-kota di Eropa,” tulis Naimatul Aufal.

Arsitek Belanda Van der Pijl yang merancang Kota Banjarbaru dengan konsep kota taman. (Foto Bumibanjar.blogspot.com)

Nah, keterlibatan Van der Pijl merancang Banjarbaru karena ketika itu wacana pemindahan ibukota Kalsel digaungkan Gubernur Kalimantan Milono, melanjutkan usulan Gubernur Dr Moerdjani, periode 14 Agustus 1950-1953.

BACA JUGA : Melacak Jejak Keraton Banjar, Apakah di Kuin atau Pulau Tatas?

Namun, Banjarbaru gagal sebagai ibukota, karena hanya disematkan berstatus sebagai kota administratif pada 17 Agustus 1968 masuk wilayah Kabupaten Banjar. Baru, pada 27 April 1999 berdasar UU Nomor 9 Tahun 1999, Banjarbaru bisa menjadi kotamadya berpisah dari induknya.

Inilah peran Van der Pijl merancang Banjarbaru karena mulai terjadi urban sprawl (perluasan kota yang tak terkontrol). Dari riset Naimatul Aufal, awalnya rancangan perkantoran yang disiapkan Van der Pijl untuk Gubernur Kalsel, namun kemudian kini dipakai menjadi pusat pemerintahan Pemkot Banjarbaru atau Balai Kota.

BACA JUGA : Dari Benteng Tatas, Tata Kota Banjarmasin Digagas

“Berdasar temuan lapangan, sekarang bangunan Van deer Pijl difungsikan sebagai kantor Dinas Perindustrian Perdagangan, Badan Kepegawaian Daerah, Kantor Dinas Tenaga Kerja, Kantor Dinas Tata Kota dan Dinas Kesehatan, Kantor Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Peternakan, Kantor Dinas Pertanian dan Kantor Dinas Perhubungan,” tulis Naimatul Aufal.

Pembangunan Kantor Gubernur Kalsel yang kini jadi Balai Kota Banjarbaru di Jalan Panglima Batur. (Foto Bumibanjar.blogspot.com)

Dia juga mengatakan selain lahan dengan fungsi perkantoran, ada pula kawasan dengan fungsi permukiman, pendidikan dan perdagangan serta fungsi ruang terbuka hijau. Kawasan-kawasan ini juga masih dapat dengan mudah dikenali sesuai dengan fungsinya masing-masing karena pada kawasan-kawasan tersebut masih terdapat bangunan-bangunan asli rancangan Van der Pijl.

BACA JUGA : Hanya 3 Tahun Duduki Banjarmasin, Jepang Hapus Warisan Belanda di Ibukota Borneo Selatan

Ciri bangunan gaya Belanda karya Van der Pijl di Balai Kota Banjarbaru yang awalnya untuk Kantor Gubernur Kalsel. (Foto Banjarbaru tempo dulu)

Meski begitu, Naimatul Aufal mengungkap tata ruang Kota Banjarbaru masih berciri kota-kota rancangan arsitek Belanda di Indonesia. Yakni, kawasan pusat pemerintahan dan ruang terbuka hijau (RTH) dengan adanya Lapangan Murdjani.

“Inilah konsep Garden City yang diperkenalkan Ebenezer Howard yakni taman kota yang menjadi unsur terpenting dalam konsep kota taman. Sebab, taman kota ini menjadi ruang publik yang memiliki peranan utama dalam menyelaraskan pola kehidupan masyarakat,” tulisnya.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Jejakrekam.com

Koordinator Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Biro Banjarmasin Cabang Balikpapan

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.