1 Juli 1919 ; Metamorfosa Banjarmasin Menjadi Kotamadya di Era Kolonial Belanda

0 565

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

DALAM kondisi ancaman merebaknya wabah flu Spanyol tahun 1918 di Hindia Belanda, Kota Banjarmasin bak ketiban durian runtuh. Tepatnya, pada 1918, Banjarmasin, ditetapkan menjadi ibukota Residentie Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo (Karesidenan Borneo bagian Selatan dan Timur).

WILAYAH ini setingkat provinsi yang membawahi wilayah Kaltim, Kalsel dan Kalteng sekarang. Setahun kemudian Banjarmasin mendapat status Gemeente atau setingkat Kotamadya. Mulai diberlakukan terhitung sejak 1 Juli 1919.

Pada zaman kolonial Belanda, sebuah kotamadya juga disebut gemeente, dan pemimpinnya ialah burgemeester (walikota). Cuma berbeda kasus di Banjarmasin, sementara masih dipimpin hoofd Plaatselijk Bestuur (setingkat asisten residen/walikota), PJFD van de Riviera.

BACA : Khatib Dayan, Penghulu Kesultanan Banjar Pertama yang Diyakini Keturunan Sunan Gunung Jati

Gemeente dilengkapi dengan lembaga yang namanya Gemeenteraad. Lembaga tersebut kadang-kadang berperan mirip legislatif, karena merepresentasikan golongan etnis yang tinggal di kota bersangkutan.

Namun, terkadang juga berperan sebagai organisasi eksekutif karena dipimpin oleh asisten residen. Lembaga tersebut mutlak dibentuk karena undang-undang mensyaratkan bahwa gemeente harus bersifat kolegial.

Gemeente (Kotamadya) Banjarmasin ditetapkan berdasarkan Staatsblad van Nederlandsch-Indie (Lembaran Negara Hindia Belanda) Tahun 1919 Nomor 252 tanggal 28 Mei 1919 yang berlaku mulai 1 Juli 1919.  Berdasarkan surat keputusan tersebut, dinyatakan beberapa hal.

BACA JUGA : Jejak Kampung Amerong, Perkampungan Elit Eropa di Banjarmasin

Di antaranya bahwa ibukota karesidenan “Zuider en Oosterafdeling van Borneo” yakni Banjarmasin dijadikan Gemeente Banjarmasin. Kemudian bahwa Gemeente Banjarmasin diberi bantuan khusus uang 43.500 gulden tiap tahun.

Hal lainnya bahwa Gemeente Banjarmasin melakukan tugas pemeliharaan, perbaikan, pembuatan jalan, penerangan jalan, pemadaman kebakaran, kuburan dan sebagainya.

Dalam Gemeente Banjarmasin dibentuk Gemeenteraad (Dewan Haminte) dengan nama Gemeenteraad Bandjermasin. Personalia atau keanggotaan Gemeenteraad Bandjermasin ada dua kemungkinan yakni ada yang diangkat dan ada pula yang dipilih. Ketika pertama kali dibentuk, personalia Gemeenteraad Bandjermasin diangkat (benoemd) berdasarkan Staatsblad 252 tanggal 1 Juli 1919.

BACA JUGA : Antara AM Hendropriyono dan Raden Tumenggung Suria Kesuma, Ronggo Pribumi Banjar

Ketua sekaligus Assistent Resident Afdeling Banjarmasin PJFD van de Riviera. Adapun anggota-anggota, mewakili golongan Warga Belanda adalah B.J.W.E. Broers, A.H. Dewald, Dr. H.M.G. Dikshoorn, Mr. L.C.A. Eldik Thieme, C.L. Gosen, J. Stofkooper serta J.C. Vergouwen.

Berikutnya, golongan Warga Bumiputera (Banjar), bukan Belanda diwakili Pangeran Mohamad Ali, Amir Hassan Bondan, Hairul Ali serta Mohamad Lelang. Sementara Golongan Warga bukan Bumiputera & Belanda (Cina), diwakili oleh Lie Jauw Phek dan Chie San Cong.

Menurut Idwar Saleh (1982), walaupun pada kulitnya pembentukan Gemeente Banjarmasin dan Gemeente Raad menyangkut segi politik semua golongan masyarakat Banjarmasin, dalam pelaksanaan selanjutnya meliputi segi-segi kepentingan golongan kulit putih semata.

BACA JUGA : Riwayat Pelabuhan Martapura Lama Era Belanda dan Jepang

Kepentingan pemerintah dan pengusaha Belanda, pendidikan anak-anak kulit putih, rekreasi kulit putih, kebersihan kota, penerangan, air minum dan sebagainya seperti terlihat pada jalanan kampung Belanda (Resident de Haanweg).

Pada era ini, bahasa Belanda menjadi bahasa golongan yang terpelajar dan lapisan atas. Perkembangan modernisasi kota Banjarmasin dengan pusat-pusat perkantoran, bank, firma-firma Belanda, gereja, jalanan kampung Belanda, pasar, alun-alun, sungai hingga dibangunnya jembatan ringkap.

Selanjutnya, terjadi difusi budaya modern mendesak yang tradisional. Misalnya bentuk dan jenis pakaian mulai berubah baik pada pria maupun wanita, pemakaian gramofoon dengan lagu klasik dan kroncong, film bisu, sandiwara, tonil dan radio menggeser gamelan Banjar, tari topeng, wayang kulit Banjar dan wayang gung.

Kantor Geemente (Kotamadya) Banjarmasin pada tahun 1919 bertempat di Jalan Heerengracht, yang pada masa kemerdekaan berubah nama menjadi Jalan Jawa dan Jalan DI Panjaitan (belakang bekas Kantor Gubernur Kalsel, Banjarmasin).

BACA JUGA : Banjarmasin, Kota Sungai Dihantui Bayang Krisis Air Bersih ‘Abadi’

Kantor ini dikenal ‘urang Banjar’ sebagai kantor Haminta. Pada masa masuknya Jepang tahun 1942, kantor ini dipindahkan Jepang ke lokasi Toko Jerman Neuffer & Co. Pada tahun 1960, gedung ini menjadi Wisma Catur Sakti, dengan perombakan pada bagian atap, bermodel rumah bubungan tinggi.

Di masa Orde Baru, Kantor Kotamadya Banjarmasin pindah ke Jalan RE Martadinata Kertak Baru Ilir, Kecamatan Banjarmasin Tengah, yang dulunya merupakan bekas pangkalan Angkatan Laut Jepang, era pendudukan atau dikenal pula dengan sebutan Kodamar atau Kodapel masa awal kemerdekaan.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.