Dikembangkan Era Residen Krosen, Kisah Kanal Oelin Hingga Kanal A Yani (2)

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

PENGEMBANGAN Banjarmasin sebagai kota kanal dimulai sejak tahun 1898 sejak era Residen Kroesen. Perkembangannya hingga tahun 1920-an, muncul rencana pembangunan kota Banjarmasin yang disusun Ir. Karsten.

WALAUPUN tidak terealisasi secara keseluruhan, di era ini sudah dibangun sepuluh kanal di pusat Kota Banjarmasin. Sekarang nama kanal ini dikenal dengan Kanal Raden, Kanal Jl. Sutoyo, Kanal Jl. Veteran, Kanal Jl. A Yani, Kanal Pirih, Kanal Benteng / Masjid Raya, Kanal Pangambangan, Kanal Jl. Mulawarman/Jl. Jafri Zam Zam, Kanal Awang serta Kanal Bilu.

Kusliansyah (2012) dalam kajiannya menuturkan khusus kanal Jl. A Yani, pada era kekinian merupakan jenis kanal tipe 3 dengan lebar 2×15 meter. Dibuat sepanjang jalan A Yani. Fungsi awal kanal sebagai transportasi dan drainase kota. Kekhususan kanal ini bahwa merupakan double kanal yang mengapit jalan raya hingga bermuara ke ke sungai martapura.

Lokasi kanal ini mengalir di area Banjarmasin Tengah, timur dan selatan dengan linkage menghubungkan ke Sungai Martapura. Sementara bentuk tipologis jalan kota di Banjamasin terdiri dari 7 tipe, jalan A. Yani sendiri termasuk tipe jalan dengan kedua sisinya diapit kanal – daratan.

BACA : Jejak Sejarah Era Kolonial, Ihwal Banjarmasin Menjadi Kota Kanal (1)

Dalam Tulisan Hekking maupun laporan Wentholt tahun 1938 disebutkan bahwa Pemerintah Hindia Belanda pada era itu mulai membangun jalan darat. Dari wilayah Banjarmasin hingga ke Martapura dan Hulu Sungai sudah dibangun jalan pos. Jalan ini dinamakan jalan Ulin sebagai jalan baru. Jalan ini adalah jalan alternatif lain disamping Jalan Martapura (jalan lama) yang sudah ada sebelumnya.

Suasana perkampungan di tepi kanal di Sungai Martapura (Foto : KITLV Leiden Belanda)

Diperkirakan jalan lama yang dimaksud adalah jalan yang diakses dari Banjarmasin melalui Sungai Tabuk hingga ke Martapura. Jalan lama ini dinilai terlalu sempit dan sepenuhnya mengikuti aliran sungai Martapura. Selain itu terdapat banyak bukit dengan banyak tikungan, di mana longsor sering menutup jalan. Jalan ini dianggap riskan karena sangat dipengaruhi kondisi geografis Sungai Martapura. Sejumlah besar dana yang dikeluarkan setiap tahun dipakai untuk membuat tanggul. Pada tahun ini jalan di sisi darat dilebarkan sampai satu meter.

Perbaikan jalan Ulin sekitar tahun 1938 ini, sebagai bagian dari upaya Pemerintah Hindia Belanda dalam mendukung keberadaan otonomi kota Banjarmasin yang mulai ditingkatkan ke status Stads Gemeente Banjarmasin karena Banjarmasin era itu berubah status sebagai ibukota Gouvernemen Borneo.

BACA JUGA : 10 Kanal Warisan Kolonial di Banjarmasin Tinggal Menunggu Ajal

Jalan lama (akses Martapura Lama) mulai digunakan sekitar tahun 1925 yang dibuka oleh PU. Jalan ini mulai tersaingi sejak adanya akses Jalan Ulin sebagai jalan baru dimana  sepanjang jalan yang ada lima kampung berpenduduk padat dibuka. Sayangnya di musim kemarau di lapisan jalan ini tampak gelombang sehingga mobil sewaan terutama masih memanfaatkan jalan lama. Walaupun demikian pemerintah Hindia Belanda mulai mengaspal jalan baru ini. Melangkapinya, jalan lalu-lintas lainnya dibangun jalan menuju perbatasan Pleihari sepanjang 17 kilometer.

Jalan darat ini terhubung dengan jalan menuju Rantau, terus ke Kandangan sampai Barabai, Amuntai dan Tabalong. Di Hulu Sungai, pusat pemerintahan ada di Kandangan, yang menjadi sentral posisi kontroler. Sebagian jalan menuju hulu sungai terus diperbaiki, dengan kondisi yang lumayan untuk lalu lintas mobil dan pedati yang ditarik hewan ternak, khususnya sapi. Mereka membawa jenis hasil kebun dan hutan yang dibawa sampai ke Banjarmasin.

BACA JUGA :  Jati Diri yang Telah Terlupakan, Banjarmasin Sebenarnya Kota Seribu Kanal

Jalan Ulin kembali mengalami perbaikan selama tahun 1938-1939 diaspal. Pada era ini, tahap pengaspalan pertama secara besar-besaran dimulai di seluruh jalan raya dari Banjarmasin ke Hulu Sungai. Angka-angka dalam sensus lalu-lintas  selama tahun-tahun terakhir tidak menunjukkan kenaikan memadai seperti sebelumnya, selain kenaikan sementara pada masa perkembangan karet awal tahun 1937.

Ruas Jalan A Yani pada tahun 1975 (Foto Banjarmasin Tempo dulu)

Kesulitan besar yang ditimbulkan oleh perawatan jalan ulin, bukan berasal dari padatnya lalu-lintas tetapi lebih pada kondisi cuaca (curah hujan yang berlebihan). Kemudian sedikitnya penduduk sehingga terlalu sedikit tenaga kerja yang tersedia untuk merawat jalan. Perawatan jalan, selain jalan Ulin dan bagian jalan Mataraman-Sungkai yang menjadi tanggungjawab Dinas Perhubungan dan Pengairan. Dalam pelaksanaannya, sepenuhnya dilakukan oleh pekerja wajib dengan para mandor.

Pada zaman Hindia Belanda dan Jepang, pembangunan jalan Ulin (sekarang A yani) umumnya menggunakan pohon galam ditebang kemudian dijadikan pondasi jalan raya. Khususnya di daerah rawa. Misalnya, kawasan dari Jalan A. Yani Kilometer 1 Banjarmasin (sekarang) hingga wilayah Banjarbaru. laporan dari Natuur in Zuid-en Oost Borneo (Elfde Jaarverslag 1936-1938) menjelaskan maraknya upaya Pemerintah Hindia Belanda dalam membangun jalan darat. Pada era kolonial inilah jalan Oeling mulai dilengkapi dengan kanal Oelin/Ulin.

BACA JUGA:  Denyut Kota Kanal Warisan Belanda yang Terabaikan

Kanal  Ulin (A Yani) bermuara di sekitar jembatan Coen, yang setelah Pelita III dikenal dengan nama jembatan A. Yani. Masyarakat lebih mengenal jembatan ini dengan Jembatan Dewi. Pada arah ke hilimya kiri kanan ditemukan toko-toko samping jembatan A. Yani, dahulu dibangun toko pada tepi sungai Martapura, sesudah kebakaran dibongkar. Pedagang kaki lima di jalan Jenderal Ahmad Yani.

Di dalam lingkungan jalan Jenderal Ahmad Yani, sebelum tahun 1979 merupakan lingkungan yang ramai. Di jalan ini, dahulu di kilometer satu, menjadi tempat terminal bus jurusan luar kota. Dengan sendirinya tempat ini menjadi ramai dengan pedagang-pedagang kecil yang memenuhi k,ebutuhan para penumpang3 8 ). Yang sering terlihat dijual di sini adalah barang makanan dan minuman ringan, buah-buahan dan sebagainya. Bila musim buah-buahan tiba, maka tempat ini menjadi ramai sebagai pasar buah-buahan.

Setelah kemerdekaan, menurut hasil riset Karyadi Kusliansyah (2012), hingga tahun 1970-1975 dalam masterplan Pelita I, pembangunan jalan A Yani kembali diperbaiki. Pada era inilah diperkirakan mulai perubahan nama dari jalan Ulin menjadi Jalan A yani. Pertumbuhan yang padat di wilayah kota Banjarmasin, mendorong pembukaan jalan darat –walaupun masih minim– dengan tipologis jalan kota yakni jalan aspal, jalan tanah dan jalan gang. Demikian halnya dalam perkembangannya hingga tahun 1976-1980  dalam masterplan Pelita II, memang kehidupan masyarakat masih ditunjang oleh sungai, masih minim jalan darat.

Foto Gerbang Banjarmasin yang dibangun era Walikota Effendi Ritonga di Jalan A Yani. (Foto M Effendi Ritonga)

Terdapat program Kampung Improvement Program (KIP), pengembangan pembangunan PDAM dan listrik untuk menunjang aktivitas warga Kota Madya Banjarmasin yang mulai dimekarkan menjadi empat Kecamatan dan 49 Kelurahan. Sayangnya, terjadi perubahan ketika tahun 1981-1985, dalam masterplan Pelita III, pelebaran jalan darat ternyata mulai menimbun kanal, pembangunan jalan yang makin marak hingga jembatan berorientasi darat.

BACA JUGA : Menghidupkan Kembali Ruh Kota Sungai ala Thomas Karsten

Demikian dalam perkembangannya hingga dekade pertama dan kedua abad 21, keberadaan kanal Oelin/A Yani makin menyempit. Orientasi masyarakat ke akses jalan darat lebih  memberi  kemudahan  bagi  pergerakan  masyarakat,  ditunjang  makin mudahnya memperoleh kendaraan darat daripada perahu, dan makin membaiknya kualitas jalan kota.

Kemudian ditandai kurangnya informasi dan pengetahuan lokal tentang kota sungai, yang diajarkan secara formal kepada masyarakat mengakibatkan arsitektur darat lebih dikenal dalam sehari-harinya. Selain itu, sebagian besar peraturan  tata ruang, pembangunan kota  berbasis darat dan diberlakukan secara  universal ke segala tipe  kota, kurang  memperhatikan  kekhususan  kota  sungai, menjadikan timbulnya kerancuan sektoral (jejakrekam/bersambung).

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.