Asal Usul dan Catatan Historis Kampung Pekapuran Banjarmasin

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

NAMA kampung Pekapuran mungkin sudah tidak asing lagi bagi warga Kalimantan Selatan. Nama ini kerap dijumpai di beberapa wilayah di Banua.

DI ANTARANYA Desa Pakapuran, di Amuntai Utara, Hulu Sungai Utara (HSU). Kemudian Desa Pakapuran Kecil, di Daha Utara, Hulu Sungai Selatan. Selanjutnya menjadi nama kelurahan di Kota Banjarmasin yakni Kelurahan Pekapuran Raya dan Pekapuran Laut.

Khusus asal usul penamaan wilayah Pekapuran di Banjarmasin, terdapat beberapa versi. Di antaranya istilah Pekapuran atau Pakapuran dalam Bahasa Banjar berarti tempat (membeli) kapur.

Hanya belum jelas kapur apa yang diperjualbelikan, apakah kapur sirih atau kapur kinang yang biasanya dipakai menginang dimana bahannya adalah daun sirih, kapur kinang, gambir, serbuk pinang, dan tembakau. Atau, bisa juga jenis kapur yang lain.

Pada era kekinian, di wilayah Kelurahan Pekapuran Raya dan Pekapuran Laut di Kota Banjarmasin tidak terdapat lagi lokasi berupa sentra produksi dan sebagainya yang menunjukkan peninggalan bahwa memang pernah terdapat komoditi kapur di area ini.

BACA : Dulu Bernama Jalan Kleteng, Nostalgia Bangunan Tua Oentjeng di Sungai Baru

Dalam tinjauan budaya, umumnya penamaan kampung yang didasari jenis keahlian masyarakat di suatu wilayah memang kerap dipakai Urang Banjar. Biasanya jenis keaslian ini dihasilkan atau digunakan kelompok masyarakat atau bubuhan.

Misalnya, bubuhan paiwakan, bubuhan partukangan, bubuhan panyupiran, bubuhan juragan kapal, bubuhan panggurijaan, bubuhan palukahan, bubuhan pangayuan, bubuhan pajukungan, bubuhan pahayaman dan lain-lain. Apakah nama Pekapuran berasal dari nama bubuhan Pakapuran atau pangapuran? Masih perlu pendalaman kajian toponim.

Potret perempuan dan anak-anak pribumi Banjarmasin di masa kolonial Belanda. (Foto KITLV Leiden)

Berikutnya, setiap istilah bubuhan memiliki nilai pijakan filosofis yang berlainan, sesuai sebutan yang melekat pada mereka. Dari istilah yang melekat pada bubuhan itu, tergambar nilai etika dan moral yang mereka miliki.

BACA JUGA : Patut Dijaga, Wajah Banjarmasin Jadul masih Bisa Dinikmati di Kawasan Hasanuddin HM

Terbentuknya idiom yang melekat pada status bubuhan disebabkan karena perilaku yang mereka lakukan sesuai dengan kondisi realitas dalam kehidupan mereka. Artinya, orang Banjar telah memiliki konsep jelas dalam menentukan falsafah hidup suatu bubuhan dalam komunitas tertentu.

Terkadang sebutan tersebut melekat pada sebuah kampung. Misalnya, karena sebuah kampung dengan komunitas memiliki keahlian menebang kayu, mengolah kayu menjadi papan, dan menjual kayu-kayu dan papan-papan tersebut, maka kampung itu dikenal sebagai kampung pangayuan. Kampung yang masyarakatnya banyak mencari dan menebang pohon galam, disebut kampung panggalaman.

BACA JUGA : Konsep Kota Taman Banjarmasin Thomas Karsten dan Banjarbaru ala Van der Pijl

Demikian halnya kampung dengan komunitas penjual kembang melati, kenanga, mawar dan sebagainya disebut kampung pangambangan. Begitulah seterusnya. Dapat dipastikan sama halnya dengan “kasus” Kampung yang masyarakatnya banyak memproduksi dan menjual kapur dinamakan Kampung Pakapuran/Pekapuran.  Hal ini tentu juga memerlukan data pembanding.

Kampung Pekapuran semula merupakan bagian dari wilayah Desa Sungai Baru, Banjarmasin yang lebih luas. Semula kantor kepala desa berkedudukan di Kantor Lurah Pekapuran Laut sekarang. Pada tahun 1984, beberapa wilayah bagian dari kecamatan di Banjarmasin masih menjadi desa.

BACA JUGA : Punya Koleksi 700 Benda Bersejarah, Museum Banjarmasin di Teluk Kelayan Segera Terealisasi

Di antaranya Kecamatan Banjarmasin Timur dengan wilayahnya Desa Sungai Baru. Desa Sungai Baru dimekarkan dan berubah status administratif menjadi Kelurahan Pekapuran Laut, Kelurahan Pekapuran Raya, Kelurahan Karang Mekar dan Kelurahan Sungai Baru.

Pabrik kayu dan tikar yang terdapat di Kelayan di era kolonial Belanda yang mempekerjakan pribumi Banjar. (Foto KTIVL Leiden)

Walaupun secara administratif baru ada di tahun 1984, wilayah Pekapuran Banjarmasin sudah lama tercatat dalam sejarah pemerintahan di Banjarmasin khususnya. Kampung Pekapuran yang telah ada pada tahun 824. Terletak di sebelah selatan Kampung Sungai Baru. Pada tahun tersebut terdapat terdapat 18 kampung diantaranya Kampung Cina, Kampung Loji, Antasan Besar, Amarong, Kween, Gayam, Benyiur, Antasan Kecil, Rawa Kuin, Bindjei, Jawa Baru, Sungai Baru, Pekapuran, Kalayan Besar, Bagauw, Bahauer, Besiri, dan van Tuil.

BACA JUGA : Langgar Al-Hinduan, Kiprah Guru Tuha dan Saudagar Banjar di Muktamar NU Banjarmasin 1936

Setidaknya demikian yang tercatat dalam Tijdschrijft voor Neerland’s Indie (1838) maupun perbandingan dengan Peta Sketsa Ibukota Banjarmasin dan Sekitarnya, tahun 1916. Hal sama juga dituliskan dalam Kamus Geografi dan Statistik Hindia Belanda yang diterbitkan tahun 1869.

Pada sumber tersebut dituliskan bahwa Pekapoeran/Pekapuran adalah salah satu desa termasuk wilayah Kota Banjarmasin, Afdeling Borneo bagian Selatan dan Timur.

Area Pekapuran membentang di sekitar Sungai Pekapuran. Pada Peta Sketsa Ibukota Banjarmasin dan Sekitarnya, tahun 1916 melukiskan Sungai Pekapuran adalah anak Sungai Martapura yang membentang hingga anak Sungai Badjang dan Sungai Lumbah. Kemudian terdapat kanal yang menghubungkan antara Sungai Pekapuran dengan Sungai Takkong (sekarang Sungai Veteran). Setelah percabangan Sungai Lumbah. Arah Sungai Pekapuran terhubung ke Sungai Kalajan (Kelayan).

BACA JUGA : Demi Naik Haji, Urang Banjar Tempo Dulu Rela Berlayar Pertaruhkan Hidup

Pada era kekinian, Sungai Pekapuran mengalir lewat Sungai Baru, kemudian wilayah Jalan Pekapuran A dan Pekapuran B Laut hingga wilayah Pekapuran Raya. Sungai ini tercatat sebagai bagian batas Kota Banjarmasin seperti yang tercatat dalam Lembaran Negara No. 17, tahun 1893. Tercatat batas bagian sebelah selatan Banjarmasin adalah jalan di sepanjang tepi kiri Martapura, hingga bertemu Sungai Pekapuran sampai garis batas timur laut.

Holland Chinesche School (HCS) I yang dikelola Gereja Katolik Roma di Pecinan (kini Jalan Piere Tendean). (Foto KITLV Leiden)

Sementara itu pada peta Kota Banjarmasin yang diterbitkan Dinas Topograsi tahun 1916, menunjukkan perubahan data kampung di Kota Banjarmasin. Adapun kampung yarng masuk di dalam batas wilayah ibukota hanyalah Kampung Antasan Kecil Barat, Bugis, Pasar Lama, Antasan Besar, Telok Dalam, Kertek Baru (Kertak Baru), Talawang, Taloek Tiram (Teluk Tiram), Banjioer (Banyiur), Basirih, Rantauan Koeliling Ilir, Pekapuran, Sungai Baru, Kampung Cina, dan Sungai Mesa.

BACA JUGA : Badai Pengangkatan Walikotamadya Banjarmasin

Lukisan visual tentang wilayah Pekapuran baru muncul pada tahun 1900-an, dimana terdapat dokumentasi foto hitam putih yang melukiskan pemandangan Kampung Pekapuran. Telihat jalan/titian kayu menuju tempat mandi dan kondisi rumah-rumah di sepanjang sungai Pekapuran. Foto ini diabadikan Mr. M. J. A. Oostwoud Wijdenes tahun 1939.

Fakta sejarah lainnya bahwa wilayah Pekapuran sejak era Hindia Belanda sudah terbagi, yakni Pekapuran A dan Pekapuran B. Kemungkinan inilah yang menjadi embrio di kemudian hari muncul penamaan Jalan Pekapuran A dan Jalan Pekapuran B yang termasuk wilayah Kelurahan Pekapuran Laut sekarang.

Terdapat perkembangan pada tahun 1930-an, dibangun Holland Chinesche School (HCS) II di Kampung Pekapuran. Hal ini dilatarbelakangi perkembangan jumlah siswa di sekitar area kampung ini. Sebelumnya, pada awal abad ke-20 (sekitar 1901-1916) sebuah sekolah yakni Holland Chinesche School (HCS) I yang dikelola pihak Gereja Katolik Roma dibangun di lingkungan Kampung Pecinan (kini Jl. Nasution). Sekolah ini awalnya memisahkan antara kelas perempuan dan laki-laki. Karena banyaknya jumlah siswa dibangun sekolah berikutnya di Pekapuran.

BACA JUGA : Potret Pasar Lama, Episentrum Peradaban Warga Banjarmasin yang Majemuk

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan fasilitas publik di wilayah Banjarmasin, pada Koran Soerabaijasch handelsblad, edisi 8 Juli 1932 dituliskan bahwa Ketua Dewan Kota Banjarmasin menyampaikan urgensi tiga usulan kepada Pemerintah. Di antaranya untuk mendapatkan subsidi perbaikan yakni Jalan Belakang, Jalan Pekapuran A dan B dan sebagian jalan Telok-Dalam (Teluk Dalam).

Peresmian Langgar Pekapuran pada 1932 yang dimuat dalam Majalah Pandji Poestaka yang menelan dana cukup besar di masa kolonial Belanda di Banjarmasin. (Foto Majalah Pandji Puestaka)

Sebagai bagian dari peningkatan fasilitas di Kampung Pekapuran, pada tahun 1932 diadakan peresmian sebuah Langgar (Surau) baru di muara Sungai Pekapuran Banjarmasin. Era itu, Pekapuran adalah sebuah Kampung dalam Gemeente (Kotamadya) Banjarmasin. Majalah Pandji Poestaka menuliskan langgar ini adalah langgar terbagus dan menelan biaya pembangunan mahal dibandingkan dengan langgar lainnya di wilayah Banjarmasin.

BACA JUGA : Ditanam Sejak Sultan Suriansyah, Banjarmasin Pusat Lada Dunia

Langgar ini didirikan oleh warga Kampung Pekapuran dan Sungai baru yang dikepalai oleh Tuan Hadji M. Idris dan Tuan Hadji Abdulgafur sebagai penulis dan bendahara. Dalam perkembangannya setelah kemerdekaan, untuk menunjang kelancara transportasi masyarakat, pada tahun 1960-an Pemerintah Dati II Banjarmasin membangun beberapa buah jembatan. Diantaranya Jembatan 2 Pekapuran.

Selain itu daerah ini diwarnai bencana kebakaran besar yang terjadi pada tahun 1970. Perumahan sempit yang dihuni penduduk padat, mengakibatkan perumahan tidak teratur letaknya dan berdesakan. Kemudian tidak memenuhi syarat perkampungan. Karena itulah sering ditimpa bencana kebakaran yang sukar diatasi.

BACA JUGA : Dari Bandarmasih, Transformasi Banjarmasin dari Peta-Peta Kuno Penulis Eropa

Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pada tahun 1980-an digagas Program Kampung Improvement Project (KIP) oleh Pemerintah Kotamadya Banjarmasin. Kegiatan pada tahun itu, terutama ditujukan pada usaha perintisan perbaikan lingkungan perumahan. Berikutnya, pada tahun anggaran 1981/1982 sasaran kampung yang diperbaiki adalah Kelurahan Kelayan Barat, Kelayan Tengah dan Pekapuran Laut.(jejakrekam)

Penulis adalah Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan

Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.