Langgar Al-Hinduan, Kiprah Guru Tuha dan Saudagar Banjar di Muktamar NU Banjarmasin 1936

1

KEHADIRAN KH Abdul Wahab Chasbullah, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pencipta syair Ya Lal Wathon ke ajang Muktamar XI NU menjadi catatan sejarah begitu kuatnya pengaruh ormas Islam ini di Kalimantan Selatan.

PERHELATAN akbar para ulama, pengurus dan warga Nahdliyin itu pun berlangsung di masa kolonial Belanda. Tepatnya pada 19 Rabiul Awwal 1355 Hijriyah atau bertepatan 9 Juni 1936 Masehi di Banjaramsin.

Utusan-utusan dari ormas Islam itu pun berdatangan ke ibukota Borneo, ketika itu. Tak hanya dari tuan rumah, tapi juga datang dari luar Kalimantan. Ada lagi, pimpinan majelis konsul dan beberapa cabang, majelis wakil cabang, ranting NU wilayah Kalimantan sendiri.

“Saat itu yang hadir ke Muktamar XI NU dipusatkan di rumah Haji Saal adalah KH Abdul Wahab Chasbullah sekaligus membuka muktamar, bukan KH Hasyim Asy’ari (Rais Akbar) seperti yang selama ini ditulis sejumlah sejarawan,” ucap Katib Syuriah PWNU Kalsel, HM Syarbani Haira kepada jejakrekam.com, Kamis (14/10/2021).

Sementara, utusan muktamar, terutama dari luar Kalimantan, ditempatkan di rumah Haji Gusti Umar berlokasi di Sungai Mesa yang pada waktu itu berfungsi sebagai kantor NU cabang Banjarmasin.

BACA : Guru Tuha Ponpes Darussalam, Pejuang Gerilya Dan Pendiri NU Di Kalimantan

Ia menjelaskan sosok Haji Gusti Umar dan Haji Saal merupakan tokoh berpengaruh di Banjarmasin dan sekitarnya masa kolonial. Bahkan, Haji Gusti Umar dan Haji Saal merupakan seorang saudagar, sehingga rumah besarnya menjadi arena para ulama, pengurus dan perwakilan NU di muktamar itu.

“Sedangkan, posisi Langgar Al Hinduan itu memang berada bersebelahan, tapi bukan tempat utama muktamar. Tempat itu hanya untuk shalat peserta muktamar ketika itu,” kata Syarbani.

Dosen UNU Kalimantan Selatan ini tak memungkiri Langgar Al-Hinduan yang didirikan pada 1916 oleh Habib Salim bin Abubakar al-Kaff atas tanah wakaf istrinya, Syarifah Salmah Al-Hinduan, sangat berkontribusi dalam suksesnya muktamar di era penjajahan itu.

Saksi bisu Muktamar NU 1936 di Banjarmasin yang tersisa, Langgar AL Hinduan di Jalan Piere Tendean. (Foto Didi GS)

Mantan Ketua PWNU Kalsel ini mengungkap catatan sejarahnya, ketika itu sebenarnya suksesnya Muktamar XI berskala nasional dengan hadirnya banyak utusan, tak terlepas dari pengaruh ulama besar Madura, KH Muhammad Kholil atau Mbah Kholil Bangkalan.

“Nah, ketika ada restu dari Mbah Kholil, warga Madura yang ada di Banjarmasin bergotong royong dengan warga Banjar menyediakan rumahnya untuk penginapan peserta muktamar. Ketika itu, banyak peserta muktamar ditampung di rumah-rumah warga Madura di Sungai Baru dan perkampungan lainnya. Karena berdekatan dengan lokasi muktamar, bisa jalan kaki ya sekitar satu kilometer saja,” beber mantan wartawan ini.

BACA JUGA :  Hassan Basry Pencetus Peristiwa Tiga Selatan, Soekarno pun Dibuatnya Marah Besar

Syarbani menegaskan posisi Langgar Al-Hinduan ketika Muktamar XI NU di Kalimantan Selatan, bukan tempat rapat merumuskan keputusan. Kata Syarbani, Langgar Al-Hinduan yang awalnya berkonstruksi kayu telah berubah beton batu merupakan bangunan tempo dulu.

“Ya, umurnya sudah ratusan tahun. Bahkan, berdiri sebelum Indonesia merdeka. Ini nilai sejarahnya, kalau terkait Muktamar XI NU, tidak ada. Nah, kalau misalkan diusulkan masuk cagar budaya, hanya memenuhi bangunan tempo dulu yang menjadi saksi perkembangan Kota Banjarmasin, karena sudah ada di era kolonial Belanda,” papar Syarbani.

Tokoh NU di Kalimantan Selatan (Foto Berita Banjarmasin)

Sayangnya, menurut Syarbani, justru rumah kayu bertingkat dua dalam berita Nahdlatoel Oelama, disebut “Gedung Congres” Sungai Messa 23 milik Haji Saal di Jalan Piere Tendean (Pecinan Laut) persis di samping Langgar Al-Hinduan yang menjadi saksi bisu Muktamar NU di era kolonial, telah digusur. Rata dengan tanah.

Ini akibat proyek pembangunan wahana permainan Banjarmasin Park di era Walikota Sofyan Arpan periode 1999-2004, hingga di bekas lokasi proyek itu dilanjutkan dengan pembangunan siring Sungai Martapura bernama Siring Tendean.

BACA JUGA : Pemilu 1955, Ketika NU dan Masyumi Berbagi Kursi di Dapil Kalsel

Diakui Syarbani, mengapa NU di Kalsel begitu kuat dan menjadi poros kedua setelah Jawa Timur. Ini karena banyak tokoh ulama berpengaruh asal Tanah Banjar, ketika itu. Sebut saja, KH Abdul Qadir Hasan atau Guru Tuha. Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam, Martapura periode keempat (1940-1959), yang membawa NU ke Banua.

Ini setelah, Guru Tuha mendapat restu dari Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari, Guru Tuha pun dipercaya untuk mendirikan NU pertama di luar Pulau Jawa yaitu di Martapura, Kalimantan Selatan, usai mengikuti Muktamar NU pertama pada 21 Oktober 1926 di Surabaya.

“Ya, karena Guru Tuha juga berguru kepada KH Cholil (Bangkalan, Madura) dan KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang). Ini mengapa hubungannya erat dengan Guru Tuha sebagai pendiri awal NU di Kalimantan,” beber Syarbani.

Tokoh NU di era KH Idham Chalid di Kalimantan Selatan. (Foto FB Santri)

Mantan dosen IAIN (UIN) Antasari ini mengungkap kebesaran NU di Kalimantan Selatan, saat itu bisa merambah hingga ke Ampah, Sampit dan Kuala Kapuas yang kini masuk wilayah Kalimantan Tengah.

BACA JUGA : NU Mampu Redam Kekerasan 1965 di Kalimantan Selatan (3)

“NU Itu dibentuk berdasar aliran sungai. Makanya, ada cabang-cabang NU itu berdiri hampir di seluruh aliran sungai. Ya, seperti Alabio dan Kelua. Semua jaringan itu terkoneksi karena ketika masih menggunakan moda transportasi sungai, sehingga dari DAS Barito, DAS Martapura, sampai ke Kalimantan Tengah berdiri cabang-cabang NU,” ungkap Syarbani.

Ia mengungkap kesuksesan gelaran ‘kongres’ juga tak terlepas dari pengorbanan para pedagang dan saudagar tergabung ke NU maupun yang simpati dengan perjuangan ormas Islam. Terutama, pedagang-pedagang kain yang ada di Pasar Baru dan Pasar Ujung Murung.

“Makanya, ketika itu ada anggapan memperjuangkan NU adalah jihad. Bukan itu saja, bendera NU wajib dijaga, karena merupakan bagian dari jihad. Ini yang dipegang warga Nahdliyin sampai sekarang. Apalagi bagi generasi di bawah tahun 1960 dan 1970-an, terlebih  generasi awal NU di Kalsel,” ceritanya.  

BACA JUGA : Jejak Sunyi Jalan Spritual Sang Guru Politik NU, Idham Chalid

Berdasar catatan sejarah, Muktamar XI NU di Banjarmasin pun menghasilkan keputusan pendapat ormas Islam bahwa Indonesia (ketika masih dijajah Belanda) adalah dar al-islam sebagaimana diputuskan dalam Muktamar. Pada kemudian hari menjadi suatu keputusan yang kelak menjadi landasan para ulama mencetuskan Resolusi Jihad menghadapi Belanda dan sekutunya yang hendak menjajah kembali Indonesia pada 1945-1949.(jejakrekam)

Pencarian populer:Proyek pembangunan ruko jalan angsana kota martapura kalsel,sejarah mbah kholil bangkalan
Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi
1 Komentar
  1. Rouf haidar berkata

    Mhn maaf..pas membaca ada sdkit yg mungkin perlu koreksi,,ada restu Mbah Kholil utk menyediakan tempat muktamar, beliau yg mulia mbah Kholil sdh menghadap Allah sblm NU berdiri, yai Kholil (1820-1925), muktamar di Banjar tahun 1936..mhn maaf.

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.