Potret Pasar Lama, Episentrum Peradaban Warga Banjarmasin yang Majemuk

0 418

PASAR Lama atau Pasar Abadi di Jalan Perintis Kemerdekaan, Banjarmasin, merupakan salah satu situs sejarah berharga bagi perjalanan kehidupan warga ibukota Kalimantan Selatan ini.

PASAR Lama terletak di pusat kota, tepatnya Kelurahan Pasar Lama, Banjarmasin Tengah awalnya merupakan perkampungan lawas bersejarah karena menjadi tempat bertemu dan berinteraksi berbagai suku bangsa yang ada bahkan majemuk di Nusantara.

Peneliti sejarah Islam UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy Ibnu Sami mengungkapkan Pasar Lama merupakan episentrum yang mempertemukan atau menjadi titik temu dari keragaman atau kemajemukan yang mengelilinginya.

Di sebelah barat, ada Kampung Bugis dan Kampung Arab. Di sebelah timur ada kampung Cina (Pacinan), kampung Gadang (Madura), Seberang Masjid, Sungai Mesa. Kemudian, di sebelah Utara ada kampung Jawa dan kampung Sumatera (Andalas). Sedangkan, di sebelah selatan, terdapat Kampung Sungai Jingah, Sungai Miai, Antasan Kecil Barat dan Antasan Kecil Timur.

BACA : Misi Pekabaran Injil dan Kampung Kristen Banjarmasin

“Bukan itu saja bahkan berbagai organisasi Islam dengan lembaga pendidikannya tumbuh dan berkembang di sekitar Pasar Lama ini. Contohnya, Syarikat Islam (SI) dengan lembaga sekolahnya berbasis di daerah Seberang Masjid,” ucap Humaidy kepada jejakrekam.com, Senin (29/9/2020).

Menurut dia, ormas Islam terbesar seperti  Nahdlatul Ulama (NU) dengan berbagai underbouwnya berada di Sungai Mesa. Begitupula, Muhammadiyah (MD) dengan beragam sekolahnya bermukim di Kampung Kristen (kini Jalan S Parman, Jalan Kalimantan dan Sungai Kidaung).

BACA JUGA : Dari Benteng Tatas, Tata Kota Banjarmasin Digagas

Termasuk pula, Al-Irsyad dengan Sekolah Arab Ashriyahnya berdiri dan berkembang di Kampung Bugis (sekarang Jalan Sulawesi, Jalan Antasan Kecil Barat dan Kampung Arab).

Ada pula, Musyawaratut Tholibin dan SMIPnya berpusat di Sungai Jingah tepatnya di Masjid Jami’ yang mempunyai Pondok Hunafa dan STAI Al-Jami’, dan SPIAIN punya pemerintah di Kampung Melayu (sekarang menjadi MAN I).

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari ini mengakui dari desain ruang kota yang mengkotak-kotakkan berdasarkan etnis ini, dicanangkan pemerintah kolonial Belanda pada mulanya untuk bisa mudah mengontrol, mengawasi dan mengadu domba.

“Ternyata, sebaliknya yang terjadi justru menjadi sambung rasa, interaksi dan silaturrahmi antar suku bangsa yang merasa senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa terjajah,” beber magister pendidikan Islam lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

BACA JUGA : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Menurut Humaidy, khusus bagi masyarakat Banjar menjadi sudah terbiasa dengan berbagai perbedaan dan keragaman. Berangkat dari keragaman ini, tumbuh secara perlahan kultur demokrasi pada masyarakat Banjar dan masyarakat lainnya.

“Bisa dikatakan representasi dari Indonesia mini minus suku Betawi dan suku Sunda. Masyarakat Pasar Lama dan sekitarnya mempunyai solidaritas yang kuat, toleransi yang berderajat tinggi dan kegotong-royongan yang mengakar,” tutur Humaidy.

Peneliti senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini menyebut dari Pasar Lama pula, nyaris tidak pernah ada gejolak masalah pendirian tempat ibadah, ada masjid, gereja, vihara dan klenteng.

“Jadi, bisa dikatakan masyarakat Pasar Lama dan sekitarnya telah bertumbuh menjadi masyakat terpelajar dan demokratis. Demokrasi terus bertumbuh dan berkecambah baik secara sosial, politik dan ekonomi,” katanya.

BACA JUGA : Musyawaratutthalibin, Ruh Perjuangan Organisasi Islam Terbesar di Tanah Kalimantan

Menurut dia, demokrasi yang dimaksud adalah demokrasi ekonomi nampak pada pembagian secara alami barang yang didagangkan di Pasar Lama. Konkretnya, seperti orang Arab, kebanyakan menjual minyak harum, jamu dan obat-obatan, Kemudian, kalangan Tionghoa pada umumnya berdagang onderdil kendaraan, sepeda dan segala perlengkapannya.

“Sedangkan, orang-orang Madura mengambil jatah berjualan daging dan tukang potong rambut. Ada lagi, orang Jawa memilih berdagang tahu, tempe dan kacang-kacangan. Begitu pula, orang Bugis menjual berbagai ikan laut yang masih segar,” urainya.

Sementara, masih menurut Humaidy, orang Banjar Kuala berdagang beras, telur dan pancarekenan. Berbeda dengan orang Banjar Hulu yang datang dari wilayah Banua Anam memilih berjualan kasur, bantal, guling, peralatan masak, menjahit pakaian dan pancarekenan.

“Sedangkan, orang Banjar Batang Banyu (didominasi orang Nagara) berprofesi sebagai pedagang kain, pakaian jadi dan perhiasan,” kata Humaidy.

BACA JUGA : Menepi Digilas Zaman, Kilau Pasar Kong yang Terus Memudar

Ia mengaku miris justru bangunan Pasar Lama dibiarkan tradisional, seolah tidak tertata, padahal di dalamnya penuh tepo seliro dan kebersamaan. Bahkan, hampir tak ada bangunan megah dan bertingkat sehingga tak ada kesenjangan satu sama lain.

Berdasar catatan sejarah, dulu hingga awal abad 20, daerah Pasar Lama bernama Sungai Parit. Dinamaikan Sungai Parit karena ada alur sungai yang bercabang-cabang dan dalam.

“Ada yang menyatakan parit itu merupakan selokan-selokan yang dalam sebagai wilayah benteng pertahanan dan biasanya dekat dengan daerah pelabuhan. Kemudian berubah menjadi Pasar Lama karena di sana bermula pasar di daratan memperlihatkan eksistensi. Sebab, sebelumnya pasar pada umumnya tempo dulu berada di atas air (sungai) atau dikenal sebagai pasar terapung,” kata Humaidy.

Lantas kenapa disebut Pasar Lama tidak Pasar Lawas ? Jawabnya menurut Humaidy, karena mungkin kata “lama” pada waktu itu termasuk bagian dari bahasa Banjar atau orang di sekitarnya terdiri dari berbagai etnis. Kemudian, dicarikan kata yang bisa dipahami oleh semua.

“Jadi, begitulah Pasar Lama menjadi candradimuka pertumbuhan dan perkembangan kultur demokrasi hingga menjadi tradisi yang panjang yang terus dirawat dan dilestarikan,” katanya.

BACA JUGA : Dua Jembatan Bersejarah; Pasar Lama dan Sudimampir, Kokoh di Usia Uzur

Bahkan, dalam pengamatan budayawan NU ini, justru hmpir tak pernah terjadi konflik terbuka antar etnis yang ada. Hanya ada sedikit letupan dua suku bangsa (Arab vs Madura) pada tahun 1985 yang dikenal sebagai ‘peristiwa ninja” yang tidak berlangsung lama.

Menurut dia, keterpelajaran masyarakat sekitar Pasar Lama, di samping beragamnya ormas Islam yang ada dan melakukan kegiatan pendidikan, juga tak bisa dibantah adanya ulama-ulama yang membuka majlis pengajian.

Ia mencontohkan seperti Surgi Mufti Jamaluddin di Sungai Jingah, Datu Anggah Amin di Sungai Parit (kemudian pindah ke Benua Anyar), Tuan Guru H. Hanafie Gobet di Masjid Jami’ dan Tuan Guru H. Muhammad Sani yang tinggal di Antasan Kecil Timur (Pendiri Pondok Al-Falah Banjarbaru).(jejakrekam) 

Penulis Didi GS
Editor DidI G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.