Demi Naik Haji, Urang Banjar Tempo Dulu Rela Berlayar Pertaruhkan Hidup

0

TAHUN ini 1442 Hijriyah, Indonesia termasuk Kalimantan Selatan hampir dipastikan tak memberangkatkan jamaah haji ke Tanah Suci Makkah dan Madinah.

IBADAH haji merupakan penyempurna bagi seorang muslim, karena merupakan puncak dalam menjalankan ajaran Islam. Tentu diawali syahadatain, shalat, puasa dan zakat, baru bagi yang mampu untuk berhaji.

Peneliti sejarah Islam UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy Ibnu Sami mengakui ada anggapan khususnya di masyarakat Banjar, jika orang alim belum menunaikan ibadah haji maka belum sempurna kealimannya.

“Begitu pula, tidak sempurna orang kaya Banjar, jika belum naik haji. Tidak hebat lagi tatuha (tetua) atau jagaw (jago) Banjar, jika tak pernah melaksanakan ibadah haji,” tuturnya kepada jejakrekam.com, Senin (14/6/2021).

Humaidy pun tak memungkiri begitu lekatnya naik haji di masyarakat Banjar, memunculkan mitos ciri orang yang bakal berhaji adalah memiliki tahi lalat di seputar kepala, entah satu, dua atau beberapa.

Berdasar catatan sejarah, Humaidy menyebut pada pertengahan abad ke-16, mulai banyak urang (orang) Banjar yang naik haji sebagai perjalanan pertaruhan hidup mati.

BACA : Bubuhan Haji dalam Perang Banjar Abad Ke-19

Dulu, beber Humaidy, ketika itu tidak menggunakan kapal api atau kapal bermesin, namun kapal layar yang tergantung tenaga angina berhembus. Menurut dia, perjalanan haji urang Banjar dimulai dari Pelabuhan Tatas (Fort Tatas) yang dikelola pemerintah kolonial Belanda. Rutenya kemudian singgah di Pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta).

“Baru kemudian terus ke Aceh menunggu kapal dari India yagn akan berlayar ke Hadramaut (Yaman) atau ke Jeddah (Saudi Arabia). Jarak tempuh memakan waktu hampir enam bulan atau lebih jika cuaca kurang bersahabat di laut,” papar Humaidy.

Perjalanan jamaah haji asal Tanjung Priok, Jakarta menuju Aceh, sebelum berlanjut ke Makkah. Foto tahun 1948 (sumber: KITLV Leiden)

Magister pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini juga mengutip buku tulisan Hasbi Salim berjudul Urang Banjar Naik Haji. Menurut Hasbi Salim, ketika orang Banjar sudah pada tahap daur hidup perkawinan, maka langkah selanjutnya adalah merencanakan naik haji, bukan membikin rumah atau memperbaiki usaha.

BACA JUGA : Sejarah Urang Banjar Naik Haji : Kisah Pendulang Intan ke Mekkah (3)

“Naik haji merupakan prioritas utama dan diusahakan segera dengan upaya menabung atau arisan. Motivasi kuat naik haji orang Banjar ini, tidak semata-mata ingin menuntas rukun Islam yang kelima, tapi juga janji status sosial sesudah usai berhaji yakni salah satu orang yang akan diperhitungkan di lingkungan kehidupan sosialnya. Ia sudah naik kelas, dari kelas baik menjadi kelas menengah bahkan kelas atas (elite),” urai Humaidy mengutip tulisan Hasbi Salim.

Bahkan, Humaidy mengungkapkan di era Kesultanan Banjar, sang Sultan menyediakan dana hampir tak terbatas bagi penuntut ilmu untuk berhaji dan memperdalam ilmu di Haramain (dua tanah suci, Mekkah dan Madinah) bahkan disediakan pemondokan di sana yang dikenal sebagai Barhat Banjar.

“Menjelang pemberangkatan haji, masyarakat Banjar, mempunyai kebiasaan beberapa hari sebelumnya melakukan ziarah ke makam orangtua, kalau sudah meninggal dunia,” tuturnya.

Kemudian, beber Humaidy, pada malam hari H dilaksanakan shalat Hajat bakda atau selepas Maghrib mengundang keluarga dan beberapa tetangga dengan masing-masing orang diberi amplop yang berisi uang ala kadarnya. Sedangkan, untuk Imam biasanya agak sedikit berlebih.

BACA JUGA : Sejarah Urang Banjar Naik Haji: Menumpang Kapal Tiga Sampai Enam Bulan (2)

“Habis shalat Hajat dilanjutkan dengan membaca surah Yasin dan shalawat Nariyah, kemudian ditutup dengan doa selamatan haji. Esok harinya saat mau turun dari rumah diadakan selamatan lagi dengan membaca surah Yasin, shalawat Nariyah dan doa selamat dengan calon haji duduk di atas sarung tujuh lapis,” beber Humaidy mengutip isi buku tersebut.

Suasana Pelabuhan Tatas di Sungai Martapura yang penuh dengan kapal layar di era kolonial Belanda (sumber foto : KITILV Leiden)

Sesudah itu, calon haji, dibimbing tuan guru untuk melafazkan niat haji dan umrah karena Allah ta’ala sambil membaca Asyhadu alla Ilaha illallah tiga kali, terus membaca bismillahi tawakkaltu ‘alallah wa la hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim, bismillahi majreiha wa mursaha.

“Dianjurkan saat turun dan keluar dari pintu jangan lagi menoleh ke belakang sambil terus berzikir, berwirid, shalawat dan membaca istighfar, ada salah seorang keluarga mengumandangkan azan mengantar keberangkatan,” ungkap peneliti senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini.

BACA JUGA : Sejarah Urang Banjar Naik Haji : Kontroversi Gelar dan Ujian Era Kolonial (1)

Humaidy mengungkapkan dalam perjalanan hati zaman dulu, masih menggunakan kapal laut. Satu yang terkenal adalah Kapal Gunung Jati. Saat berangkat untuk naik haji, banyak jamaah yang membawa bekal sebanyak-banyaknya.

“Ya, beras berkarung-karung, iwak wadi (ikan kering) bergadur-gadur), mandai dan lainnya. Ada pula yang membawa gula merah dibentuk bulat-bulat kecil yang diberikan kepada masyarkakat Arab yang bermukim di Makkah dan Madinah,” katanya.

Humaidy pun menyebut ada tradisi unik masyarakat Banjar saat berada di Tanah Suci, mewajibkan diri mencium Hajar Aswad entah bagaimanapun caranya?  Seakan-akan jika tak bisa, belum sempurna hajinya. Begitupula, air Zamzam yagn menjadi oleh-oleh, karena khasiatnya yang luar biasa.

Diperkirakan, saat di Tanah Suci, orang Banjar banyak yang meminum air zamzam bahkan sampai menyeka muka (batimpungas), membaauh tubuh dan mandi. “Ada pula yang minta disampaikan salam atau dipanggil agar bisa naik haji saat berada di Tanah Suci,” imbuhnya.(jejakrekam)

Pencarian populer:jamaah haji kalsel jaman dulu
Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.