Hasil Panen Melimpah, Harga Padi Varietas Lokal di Banjarmasin Masih Murah

0

PERSAWAHAN di pinggiran Kota Banjarmasin mulai memasuki masa panen. Ini terlihat di ruas Jalan AMD Sepakat, Pemurus Dalam, Banjarmasin Selatan. Ketika masa panen padi ternyata juga berdampak pada harga jual gabah.

HAL ini dirasakan Idris. Petani sawah perkotaan asal Kelayan ini mulai memanen padi di areal sawah miliknya seluas 300 borongan. Satu borongan sama dengan 289 meter persegi dikali 300. Padi yang telah disemainya sejak April 2021 lalu.

“Baru sekarang bisa dipanen, karena pada Agustus lalu mengalami banjir. Jadi, baru saat musim kering seperti sekarang bisa memanennya,” kata Idris kepada jejakrekam.com, Selasa (12/10/2021).

Ia memperkirakan dari hamparan benih padi yang telah menguning di sawahnya, bisa didapat sekitar 150 blek gabah kering (satu blek gabah setara 20 liter atau sekitar 10 kilogram). Padi jenis Siam Arjuna sengaja tumbuh alami, tanpa diberi pupuk sehingga lebih organik.

“Pemumpukan itu pada saat menyemai saja, kalau sudah tumbuh di pahumaan (sawah) bisa besar sendiri. Ya, memakan waktu sekitar lima sampai lima bulan sudah menguning dan siap panen,” kata Idris.

BACA : Sawah Makin Menepi, Menyemai Benih Padi di Tepi Jalan yang Ramai

Menurut dia, dengan sistem sawah pasang surut di Banjarmasin dan sekitarnya, maka varietas padi lokal lebih baik dibandingkan varietas lainnya. Idris bercerita jika nanti gabah kering ini sudah digiling, bisa menghasilkan sedikitnya 75 blek.

“Ya, separuh hilangnya, beratnya yang ada karena adanya kulit padi (sekam). Saat ini memang sudah memasuki masa panen hingga nanti berakhir pada Desember, saat memasuki musim hujan,” beber Idris.

Persawahan pinggiran Kota Banjarmasin di daerah Pemurus Dalam yang sudah siap panen. (Foto : Sirajuddin)

Dia berencana akan menyimpan hasil panennya. Sebab, menurut Idris, jika dijual sekarang justru harga gabah kering lebih murah, karena pasokan dari berbagai daerah penghasil masih melimpah. Harga jual untuk gabah kering berkisar Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per blek. Kalau sudah digiling dan menjadi beras, bisa menembus Rp 55 ribu sampai Rp 60 ribu per blek.

“Kalau padi setelah panen ini dijual namanya jadi beras hanyar. Kalau nanti disimpan setahun menjadi beras usang. Harganya jauh lebih tinggi bisa mencapai Rp 75 ribu per blek,” kata Idris. Metode Idris seperti menggunakan teori penawaran dan permintaan yang lazim dipakai para pebisnis.

BACA JUGA : Banjarmasin Ditarget Punya 20 Kampung Permainan Tradisional, Terbaru di Sungai Andai

Menurut dia, sebagian hasil panen ini akan disimpan untuk keperluan hidup sehari-hari. Hanya sebagian kecil yang akan dijual, termasuk membayar zakat hasil panen sesuai anjuran agama Islam. Idris mengatakan hasil panen ini akan segera digiling di pabrik penggilingan padi di dekat rumahnya.

“Sebagian kecil jadi bibit padi untuk ditanam kembali pada bulan keempat (maksudnya April 2022) nanti. Memang, varietas lokal ini hanya bisa panen sekali setahun. Saya tak berani menanam varietas luar yang belum tentu cocok dengan kondisi tanah berawa di Banjarmasin,” kata Idris.

Ia mengatakan harus cepat-cepat memanen dengan menggunakan arit, bukan ani-ani atau ranggaman seperti dalam tradisi petani Banjar pada umumnya. Menurut Idris, dengan menggunakan arit lebih cepat karena kondisi sawah masih berair.

BACA JUGA : Untuk Batola Dikucur Rp 43 Miliar, Mentan Ikut Panen Padi di Anjir Pasar

“Selain itu, bulir padinya masih kuat menempel di batangnya. Jadi, tidak jatuh ke tanah saat dipanen. Kalau pakai ranggaman langsung ke tangkai padi, kalau gunakan arit bisa memanen ke batangnya,” kata Idris.

Dengan menggunakan becak, Idris mengaku padi hasil panen itu akan segera dikumpulkan dalam kindai (lumbung padi). Untuk proses merapai atau memisahkan bulir padi dari batangnya bisa dilakukan di rumah. Karena hari itu, istrinya masih sibuk di rumah, Idris hanya sendirian memanen padi yang telah terhampar menguning.

“Selain lebih cepat menggunakan arit, kalau terlambat nanti akan diserbu burung pipit. Apalagi, saat ini, Banjarmasin masih diguyur hujan, jadi banyak rombongan burung pipit akan datang,” kata Idris sembari menunjuk rombongan burung pipit beterbangan di atas hamparan padi menguning dari sawah warisan orangtuanya itu.(jejakrekam)

Penulis Sirajuddin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.