Husairi Abdi

Sawah Makin Menepi, Menyemai Benih Padi di Tepi Jalan yang Ramai

0

LAHAH pertanian makin terdesak, akibat masifnya industri perumahan di Banjarmasin. Banyak areal persawahan yang subur telah berubah menjadi deretan rumah-rumah warga. Akhirnya, para petani penggarap memutar otak, memanfaatkan sejengkal tanah termasuk bahu jalan yang lembur untuk menyemai bibit padi.

CARA inilah yang dipilih pasangan suami istri, Markidi dan Maria Ulfah. Sejoli yang memilih pekerjaan sebagai petani penggarap ini memilih bahu Jalan AMD Raya Tembus Beruntung Jaya. Bulir-bulir padi varietas unggulan siam arjuna pun disemai. Metode tugal yang lazim dilakukan di ladang dipakai.

Bermodal tongkat kayu yang runcing, Maria Ulfah pun membuat lubang di tanah gembur. Selanjutnya, benih padi sebanyak lima liter, ditebar di lubang-lubang yang telah ditugalnya. Maria Ulfah mengaku sudah melakoni hal itu selama 12 tahun lamanya. Menyemai padi di tepi jalan yang cukup ramai.

BACA : 10 Ribu Hektare Sawah Kabupaten Banjar Berubah Jadi Komplek Perumahan

“Kami tak punya sawah sendiri, hanya memanfaatkan lahan kosong milik orang kaya warga keturunan Tionghoa. Memang, tidak ada perjanjian sewa. Ya, kalau panen, kami biasanya memberi padi sekarung. Ya, sebanyak 2,5 blek (setara 20 liter atau 10 kilogram) padi siam arjuna,” kata Maria Ulfah kepada jejakrekam.com, Jumat (23/11/2018).

Agak jauh jaraknya antara sawah dengan tempat keduanya, menyemai bibit padi. Sawahnya berada di Tatah Bangkal, Kelayan Timur. Sementara, Markidi dan Maria Ulfah memilih menyemai benih padi di Jalan Tembus AMD Raya, Kelurahan Pemurus Dalam. Sebuah ruas jalan yang menghubungkan Kelayan dengan Pemurus Dalam.

“Bibit-bibit padi arjuna ini kami dapat dari hasil panen tahun lalu. Ya, disimpan untuk dijadikan benih tahun ini. Memang menyemai padi di tempat ini lebih aman. Kami juga tak pernah diganggu atau dilarang selama ini,” ucap Ulfah.

Usai ditabur, benih padi itu ditutup dengan abu gosok, atau kulit padi dari pabrik penggilingan padi. Agar lebih aman, kemudian ditutup lagi dengan rerumputan atau batang padi yang telah mongering.  “Nantinya, kalau sudah seminggu tumbuh, padi ini akan kami ditanam di sawah yang kami garap. Tidak terlalu luas, hanya 25 borongan,” kata Ulfah.

Untuk satu borongan diukur 35 depa persegi atau 1/6 hektare. Berarti, sawah yang digarap Markidi dan Maria Ulfah itu sekitar 4,16 hektare. Ulfah mengaku agak sedikit gusar. Ini gara-gara hasil panen musim 2017-2018, rusak diserang hama tikus.

Menurut dia, hasil panen padi siam arjuna pada September 2018, tak begitu besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Walau padinya sudah dipupuk pakai urea, toh serangan hama tikus dan burung gereja tetap menjadi ancaman bagi para petani di wilayah perkotaan.

“Memang, padi siam arjuna ini cocok ditanam di tanah yang lunak. Makanya, nanti pada awal Februari, baru bisa menanam padi lagi di sawah. Saat ini, hanya menyemai dan membesarkan bibit padi untuk ditanam,” kata Ulfah.

BACA JUGA : Sawah HPS Jejangkit Diserang Tikus, Senjata Penyemprot Rakitan Diturunkan

Senada Ulfah, sang suami, Markidi mengaku sudah puluhan tahun tinggal di Banjarmasin. Pria yang asli Tulungagung, Jawa Timur ini merantau ke Kalsel, pada 1986. Pernah tinggal di Pelaihari, Tanah Laut, dan memilih menetap di Banjarmasin.

“Pola menamam padi arjuna dengan sistem tugal, kemudian baru ditanam di sawah, paling pas. Memang, cara semacam ini lazimnya dipakai warga Dayak di ladang. Tapi, melihat kondisi sawah di Banjarmasin, metode semacam ini juga cocok,” ucap Markidi.

Menurut dia, varietas padi arjuna memang paling tahan terhadap serangan hama seperti wereng atau pemakan batang padi. Yang jadi masalah lagi-lagi, karena serangan tikus dan burung gereja. Padahal, bulir padi baru saja menguning, sudah habis dimakan kedua hewan itu.

“Normalnya, satu borongan sawah itu bisa menghasilkan 9 blek padi. Memang, karena sawah di sini banyak lumpur keras, hasilnya tak maksimal dibandingkan sawah yang lembur atau sesudah dibajak,” kata pria yang juga bekerja serabutan ini.

Markidi menceritakan sawah yang digarapnya justru di Tatah Bangkal, Kelayan Timur itu persis berada di tepi sungai kecil. Makanya, ketika air asin datang, juga jadi kendala. “Ini belum lagi, sawah-sawah yang ada terus berkurang, karena banyak berdiri perumahan,” kata Markidi.

BACA LAGI : Memaksimalkan Sawah Perkotaan di Tengah Menyempitnya Lahan

Tak ada pilihan lain bagi Markidi dan Maria Ulfah untuk menghidupi rumah tangganya. Bertani atau ‘bahuma’ dalam tradisi Banjar menjadi pilihan sebagai tabungan tahunan. “Untuk sehari-hari, ya bekerja sebagai buruh bangunan. Kalau tahunan untuk tabungan, ya bertani. Memang, sawah yang kami garap punya orang Tionghoa. Namun, dia memberi izin untuk menggarap, hasilnya pun hanya disetor sedikit,” katanya.

Bagi Markidi, bertani di tengah kota dan padatnya pemukiman menjadi tantangan tersendiri. Dibandingkan ketika dia pernah menetap di Tanah Laut, yang cukup luas lahan pertaniannya. “Namanya juga sawah pasang surut, jadi kita harus benar-benar telaten. Setidaknya, bisa mengolah lahan yang tak produktif, bisa menghasilkan padi yang berkualitas,” pungkasnya.(jejakrekam)

 

Penulis Sirajuddin
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.