Ada Bopak Castello, Syuting Film Jendela Seribu Sungai Dihelat di Kawasan Hasanuddin HM

0

USAI mengambil lokasi syuting film berjudul Jendela Seribu Sungai di kawasan SDN Pengambangan 6, Jalan Keramat Raya, kini giliran kru film berbiaya Rp 6,6 miliar ini mengambil adegan (scene) di kawasan Hasanuddin HM.

MENARIKNYA, kali sejumlah figuran dari para pedagang kaki lima (PKL), sopir taksi Hulu Sungai berupa minibus colt dan petugas parkir di kawasan pusat kota dekat kawasan Bandarmasih Tempo Doelo, turut dilibatkan kru film yang dimotori artis senior, Mathias Muchus bersama Radepa Studio.

Sebagai bintang adalah komedian dan aktor asal Banua; Bopak Castello memerankan Daim bersama para pemainnya tengah naik taksi Hulu Sungai putih tujuan Kandangan guna selanjutnya menuju Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Jarak Banjarmasin menuju Loksado ditempuh dengan jalur darat itu mencapai 170,5 kilometer ditempuh dengan waktu sekira 4 jam 5 menit melewati ruas Jalan A Yani, penghubung utama Kalimantan Selatan ke arah Hulu Sungai.

BACA : Gandeng Aktor Kawakan Mathias Muchus, Film Jendela Seribu Sungai Ditarget Tayang Di Bioskop Pada 2023

“Baru pertama kali ini, saya bisa menyaksikan secara langsung pembuatan film di Banjarmasin. Ternyata, banyak sekali kru yang terlibat,” ucap Muhammad, warga Banjarmasin yang sengaja melihat beberapa pengambilan adegan film kepada jejakrekam.com, Senin (21/11/2022).

Dia mengaku mengenal sosok Bopak Castello yang dikenal sebagai pelawak bernama asli Indrayana Bidwy, kelahiran Banjarmasin pada 19 Mei 1967 (55 tahun). “Siapa yang tak kenal dengan Bopak Castello, yang kerap dalam lawakannya menggunakan bahasa Banjar,” ucap Muhammad.

BACA JUGA : Dibintangi Pevita Pearce? Film Jendela Seribu Sungai Ditarget Produksi September 2022

Jadilah, kehadiran Bopak Castello dengan penampilan khas berambut ‘silver’ jadi perhatian masyarakat. Bahkan, kawasan pusat kota terutama di kawasan Pasar Sudimampir Baru dan Hasanuddin HM ini yang menjadi lokasi syuting (scene) berubah jadi tontonan warga.

Selain Bopak Castello, ada pula pentolan Radja Band, Ian Kasela yang menggarap soundtrack Film Jendela Seribu Sungai lewat lagu barunya berjudul ‘Ada Jalan’. Kemudian, ada pula artis kelahiran Banjarmasin, Olla Ramlan dan Elma Istiana turut bermain dalam film yang diadaptasi dari novel berjudul Jendela Seribu Sungai karya Miranda dan Avesina Soebli, diterbitkan Grasindo.

BACA JUGA : Ongkos Bikin Film Jendela Seribu Sungai Rp 6 Miliar di APBD, DPRD Kota Banjarmasin Malah Tak Tahu

Film ini pun menceritakan pertemuan masyarakat kultur sungai di Banjarmasin dengan masyarakat Dayak di Pegunungan Meratus di Loksado, Kabupaten HSS.

Kru film Jendela Seribu Sungai saat take scene di kawasan Jalan Hasanuddin HM, menceritakan para pemain utama naik taksi hulu sungai. (Foto Sirajuddin)

Film berbiaya Rp 6,6 miliar ini digarap pada awal November, ditargetkan selesai syuting pada Desember 2022. Atau ada 21 hari untuk proses syuting di dua lokasi; Banjarmasin dan Loksado didukung tenaga kreatif lokal.

Film ini menceritakan mengenai mimpi dan cita-cita anak yang mengalir layaknya sungai. Tiga anak yang menjadi figur utama adalah Arian, Bunga, dan Kejora dengan sang guru, Ibu Sheilla.

Arian diceritakan seorang anak yang memiliki sang ayah seorang seniman kuriding, justru tak ingin sang anak mewarisi keahlian. Sedangkan, Kejora bercita-cita ingin menjadi dokter yang ditentang sang bapak karena trauma dengan dokter puskesmas yang menyebabkan sang istri meninggal dunia, karena dianggap telah dibunuh oleh dokter.

BACA JUGA : Disbudporapar Banjarmasin Siap Buka-Bukaan, Walikota Ibnu Sina; Film Jendela Seribu Sungai Seperti Laskar Pelangi

Sementara, Bunga diceritakan tak ingin mengembangkan bakat tarinya, padahal berasal dari keluarga yang berkecukupan. Hingga orangtuanya tak mendukung Bunga untuk menjadi seorang penari.

Dalam tulisannya, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudpopar) Kota Banjarmasin, Zulfaisal Putera mengatakan mengapa novel Jendela Seribu Sungai karya Miranda Seftiana yang diliris pada 15 September 2018 diadaptasi menjadi film layar lebar dengan judul yang sama.

“Pembuatan film ini juga terilhami dari pertemuan saya dengan Produser Film Laskar Pelangi, Avesina Soebli, tiga tahun yang lalu ketika datang ke Banjarmasin. Waktu itu, Avesina mengatakan bagaimana obsesinya membuat film di Banjarmasin, belajar dari keberhasilan film Laskar Pelangi yang mampu mendongkrak pariwisata Belitung menjadi 1.800 persen,” tulis Zulfaisal Putera.(jejakrekam)

Penulis Sirajuddin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.