Realisme Revolusioner Misbach Tamrin dalam Buku Karya Hajriansyah

0
USAI dibedah di Bentara Budaya Yogyakarta, Kotabaru, Yogyakarta pada medio Desember 2023, buku Realisme Revolusioner dibincangkan di Kampung Buku (Kambuk) Banjarmasin.

BUKU karya Hajriansyah, mahasiswa doktoral UIN Antasari Banjarmasin menangkap semangat Realisme Revolusioner para pelukis kawakan; Misbach Tamrin, Amrus dan Pekik.

Buku ini dicetak dan didiskusikan pada Galeri Nasional Indonesia (GNI) Jakarta beriringan dengan pameran tunggal Misbach Tamrin pada tahun 2015. Hingga, saat pameran Dua Petarung (SBT) di Bentara Budaya Yogyakarta, bersama Misbach Tamrin dan EZ Halim, buku itu juga dibedah pada akhir 2023 lalu.

“Buku tentang Realisme Revolusioner Misbach Tamrin ini merupakan skripsi saya. Kemudian, buku ini direvisi, dengan tambahan paparan karya Amrus Natalsya dan Djoko Pekik yang juga merupakan eksponen Sanggar Bumi Tarung (SBT),” ucap Hajriansyah kepada jejakrekam.com, Senin (29/1/2024).

BACA : Penulis Muda dari Komunitas Arkalitera Bedah Buku Antologi Puisi Hajriansyah

Ketua Dewan Kesenian (DK) Kota Banjarmasin ini bercerita pada terbitan pertama oleh penerbit Gading Yogyakarta, tern yata cukup laris dan diminati para pembica, sehingga terjual habis di Yogyakarta.

“Kemudian, timbul inisiatif untuk mencetak ulang dengan, catatan dari penerbit, menambahkan analisis karya pelukis SBT lainnya,” kata pelukis Banua ini.

Dalam diskusi kedua di Kambuk Banjarmasin pada Minggu (28/1/2024) malam, wartawan senior Sandi Firly yang juga pegiat seni rupa didapuk sebagai pembedah buku.

BACA JUGA : Pameran Tunggal Seni Rupa Bertajuk ‘Suluk’ Hajriansyah Digeber di Kampung Buku Banjarmasin

Sandi, yang juga dikenal menjadi sastrawan dan jurnalis plus pelukis, memaparkan kaitan aliran realisme revolusioner dengan sejarah revolusi dunia, seperti revolusi Perancis, Rusia dan China.

“Dengan memahami aspek kesejarahan ini kita dapat menempatkan realisme revolusioner sebagai identitas kekaryaan hasil dialektika sejarah, terutama melalui Misbach dan kawan-kawannya di Sanggar Bumi Tarung,” tutur Sandi, dalam analisisnya.

BACA JUGA : Menangkap Kisah Mistis dan Problema Sosial Masyarakat Sungai dalam Buku Tumbukan Banyu

Dimoderatori oleh Arif Rahman, dosen sosiologi/antropologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), diskusi ini berlangsung hangat. Bahkan, sejumlah peserta memberi pandangan terhadap buku karya Hajriansyah.

“Melalui buku ini pula dipaparkan kontribusi SBT dalam sejarah pemikiran seni rupa Indonesia dan ketokohan Misbach Tamrin sebagai perupa dan seorang pemikir kebudayaan,” ucap Iki, pelukis muda Banjarmasin.(jejakrekam)

Penulis Sirajuddin
Editor Ipik Gandamana

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.