ACT

Rapid Test Antara Pasar Tradisional dan Pasar Modern

0 102

Oleh : Muhammad Reza Hikmatullah

PERCEPATAN pemutusan jaringan atau mata rantai virus Corona (Covid-19) dilakukan tim gabungan Gugus Tugas Kalimantan Selatan dan Banjarmasin dengan melakukan rapid test serentak di enam pasar, usai di Pasar Sentra Antasari pada Sabtu (16/5/2020) lalu.

TES cepat dengan pengambilan sampel darah dari yang diperiksa, hingga dilanjutkan uji lendir dari reaktif guna membuktikan apakah terinfeksi atau tidak virus Covid-19 selama ini dinilai tepat. Apalagi, dengan itu, bisa dilakukan penelusuran atau tracking dalam membuka kasus Covid-19 yang sebenarnya terjadi di Banjarmasin, khususnya.

Pilihan jatuh ke pasar sangat tepat, karena tempat berkumpul pembeli dan penjual (pedagang). Bahkan, pasar dengan dengan animo kepadatan yang begitu padat di setiap harinya.

Ini ditambah pula, bagi penjual ataupun pembeli tidak mengetahui secara pasti siapa yang sehat dan siapa yang sedang sakit. Dipilih tempat untuk tes secara massal di pasar yang sangat rentan penularannya begitu cepat merupakan langkah awal yang tepat.

BACA : Enam Pasar di Banjarmasin Dilakukan Rapid Test, 129 Orang Reaktif

Dengan adanya tes cepat secara massal, percepatan penanganan kasus Covid-19 yang ditargetkan pemerintah bisa efektif. Walau tidak semua pasar tradisional di Banjarmasin tersentuh metode rapid test tersebut.

Namun, hasil dari rapid test yang reaktif cukup mencengangkan kita. Dari 1.361 orang yang menjalani rapid test di enam pasar itu dalam sehari, ternyata hasilnya ada 129 diantaranya reaktif atau 9,47 persen dari populasi atau sampel yang diambil gugus tugas.

Tentu dipilihnya pasar untuk tes cepat massal seperti Pasar Lama, Pasar Baru, Pasar Sudimampir, Pasar Pekauman, Pasar Sentra Antasari tentu harus didasarkan data akurat dan alasan kuat. Bagaimana pun, pasar tradisional memang lokasi yang sangat mudah dijangkau masyarakat kebanyakan. Bahkan, terjadi lalu lalang dan hilir mudik orang dalam jumlah banyak.

BACA JUGA : Terbukti Ada Kluster Sentra Antasari, 46 Warga Pasar Reaktif Rapid Test

Sepatutnya, usai melakukan rapid test dan dilanjutkan dengan strelisasi atau penyemprotan cairan disinfektan, maka pemerintah juga berkewajiban menyediakan tempat cuci tangan dan sabu yang diperbanyak tempat. Terutama di setiap pintu masuk dan keluar pasar tradisional. Termasuk, lokasi parkir sepeda motor dan mobil.

Jadi, ketika mereka datang ke parkiran, bisa diwajibkan mencuci tangan dengan bersih sebelum masuk atau setelah keluar dari pasar. Tentu saja, lokasi tempat cuci tangan publik harus mudah diakses di kawasan pasar.

Jadi, saat berada di pasar atau pulang dari berbelanja, maka semua pengunjung dan pedagang diwajibkan cuci tangan. Ini demi membiasakan diri warga pasar ini berperilaku hidup bersih dan sehat, karena fasilitas itu tersedia.

Untuk uang yang beredar di pasar, khususnya uang kembalian juga tidak bisa terdeteksi apakah tertempel kuman atau virus harus jadi perhatian. Bisa jadi, ketika imunitas seseorang lemah, virus bisa saja menginfeksinya.

Idealnya lagi di kawasan pasar juga harus disediakan alat pengecek suhu tubuh (thermogun) sehingga bisa diketahui calon pembeli datang ke pasar. Tak terkecuali, para pedagang yang baru datang, apakah rentan tertular atau rentan menularkan itu harus diantisipasi lewat alat itu.

BACA JUGA : Galang Donasi, Klinik Halim Medika Banjarbaru Gulirkan Program Rapid Test Gratis

Sebaiknya, tes cepat massal ini juga bisa dilakukan satu bulan sekali di tempat atau lokasi yang sama, sehingga bisa diketahui ada penurunan atau sebalinya ada lonjakan kenaikan di setiap bulannya.

Nah, kewajiban mengenakan masker juga jadi atensi pemerintah kota, karena setidaknya dengan pelindung mulut dan hidung itu bisa memutus jika ada orang tanpa gejala (OTG) batuk atau mengeluarkan cairan agar tak terjangkit kepada orang lain.

Untuk mengedukasi warga pasar, bisa dipasang pengeras suara yang berisi imbauan agar menaati protokol pencegahan penyebaran virus Corona.

Pemeriksaan juga harus dilakukan pemerintah kota tak hanya untuk pasar tradisional yang buka di pagi hari. Namun, juga pasar sore dan malam yang malah bertebaran di banyak tempat. Atau kita kenal dengan sebutan pasar tungging.

Apalagi, lokasinya berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Justru, potensi penularan dari pasar dadakan yang menggelar dagangan di malam hari ini juga patut diwaspadai.

BACA JUGA : Komisi VII DPR RI Dorong Lembaga Riset, Optimalkan Kajian Dan Produksi Rapid Test Secara Massal

Tak hanya pasar tradisional, pasar modern yang betebaran di Banjarmasin juga harus mendapat perhatian. Tes cepat juga bisa diterapkan untuk pengunjung dan karyawan pusat perbelanjaan modern, atau pasar modern seperti Lotte Mart, Giant, Ramayana, Matahari dan Hypermart serta Transmart, terutama di Duta mall.

Sebab, di akhir Ramadhan jelang Hari Raya Idul Fitri, animo masyarakat berbelanja juga tinggi di kawasan pasar modern dan minimarket. Inilah mengapa para pengelola atau pemilik pasar modern harus dilibatkan dalam pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19.(jejakrekam)

Penulis adalah Alumni FH Universitas Lambung Mangkurat

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.