Triangle Epidemiologi dalam Memutus Rantai Penularan Covid-19

1

Oleh : Prof. Dr. Husaini, SKM., M.Kes

COVID-19 merupakan salah satu penyakit yang memiliki rantai penularan yang sangat cepat. Peneliti penyakit menular di The University of Texas menyatakan waktu antara kasus dalam rantai penularan Covid-19 kurang dari satu minggu.

PENELITI juga menemukan bahwa lebih dari 10 persen pasien terinfeksi virus Corona disebabkan oleh seseorang yang memiliki virus, tetapi belum memiliki gejala (OTG).

Jumlah pasien yang positif terinfeksi virus Corona (Covid-19) di Indonesia per 10 April 2020 jadi 3.512 orang. Dari jumlah itu, 306 orang di antaranya meninggal dunia, dan 282 pasien dinyatakan sembuh. Dalam 24 jam terakhir di Indonesia ada penambahan 219 kasus baru dan 26 meninggal dunia.

Bagaimana cara memutus rantai penularan Covid-19? Covid-19 merupakan salah satu keluarga virus corona yang lazim menyebabkan flu. Anggota keluarga lain dari virus ini termasuk SARS dan MERS. Meski secara general terdapat virus yang punya kemampuan menyebar lewat udara, Covid-19 tidak termasuk dalam kelompok ini.

BACA : Berusia Renta, Satu PDP Covid-19 Asal Batola Dinyatakan Meninggal Dunia

Ia merupakan jenis virus yang bertransmisi lewat partikel droplet yang lebih mungkin ditransfer lewat jabat tangan atau benda-benda yang dipakai atau disentuh orang banyak. Kemudian virus di tangan masuk melewati kontak tangan ke area wajah seperti mata, hidung, dan mulut.

Karenanya WHO menganjurkan cuci tangan sebagai tindakan terbaik pencegahan virus ini. Tidak perlu panik berlebihan karena Covid-19 bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Menurut WHO, kebanyakan kasus infeksi virus tersebut  menyebabkan penyakit ringan, namun bila berlanjut bila tidak dikenali dan atau dibiarkan berakibat fatal. Kasus parah atau meninggal lebih banyak dialami kelompok orang tua atau individu dengan kondisi medis bawaan (seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, atau diabetes).

BACA JUGA : Belajar Dari Jakarta, Justru OTG Paling Berisiko Tularkan Virus Corona

Sebuah studi terhadap 72 ribu pasien Covid-19 di China turut menyimpulkan dari keseluruhan kasus COVID-19, sebanyak 81 persen tergolong ringan. Lalu 13,8 persen lainnya masuk kategori parah dengan gejala gangguan pernapasan, dan 4,7 persen sisanya kritis.

Dari sekitar 89 ribu kasus infeksi Covid-19, korban meninggal mencapai lebih dari tiga ribu orang, alias sekitar 3 persen. Lebih dari 45 ribu orang (50,5 persen) dilaporkan sembuh. Perlu diwaspadai dari penularan covid-19 yaitu serangan sekunder/gelombang kedua, karena disinyalir virus Covid-19 mampu bermutasi dengan lingkungan, serta mempunyai tipe-tipe genitik yang berbeda-beda dari Covid-19. Hal ini perlu serius kita amati dan waspadai dalam rangka penurunan penyebaran pandemi Covid-19 ini.

Dalam ilmu epidemiologi (ilmu tentang penyebaran penyakit), ada teori segitiga epidemiologi yaitu adalah alat yang digunakan para ilmuwan untuk mengatasi tiga komponen yang berkontribusi terhadap penyebaran penyakit: agen eksternal, host yang rentan dan lingkungan yang menyatukan agen dan host. 

BACA JUGA : Pemprov Kalsel Sebut Ketersediaan APD Tenaga Medis Covid-19 Mencukupi

Karena penyakit yang berbeda memerlukan keseimbangan dan interaksi yang berbeda antara ketiga faktor ini, penting untuk menilai sepenuhnya setiap komponen untuk mengembangkan kontrol dan langkah-langkah pencegahan yang efektif dan tiga faktor yang mempengaruhi adanya penyakit atau orang sakit tersebut yaitu :

1.   Host (Manusia)

Host mengacu pada manusia yang bisa terkena penyakit.  Memang host utama dari virus Corona ini pada awalnya disinyalir dari hewan oleh para ahli, tetapi sejak 2019 kemarin di Wuhan terjadi penularan ke manusia yang menyebabkan Pandemi di seluruh dunia. Akhirnya Covid-19 menjadi penyakit yang penularannya dari manusia ke manusia. Berbagai faktor intrinsik pada inang, kadang-kadang disebut faktor risiko, dapat memengaruhi paparan, kerentanan, atau respons individu terhadap agen penyebab. Peluang untuk terjadinya paparan dipengaruhi oleh kontak antar manusia. Sedangkan kerentanan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti komposisi genetik, status gizi dan imunologi, struktur anatomi, adanya penyakit atau obat-obatan, dan susunan psikologis.

2.   Agent (Virus)

Agen awalnya disebut mikroorganisme atau patogen infeksi: virus, bakteri, parasit, atau mikroba lainnya. Agen utama Covid-19 adalah virus Corona atau yang dikenal juga sebagai SARS-CoV-2.  Virus ini tidak tahan hidup di luar tubuh manusia terutama jika kena panas matahari, dan mati pada panas di atas 65 derajat celcius. Virus ini termasuk sangat kuat/ganas virulensinya. Masa inkubasi virus ini antara 2 – 14 hari. Artinya dalam rentang waktu tersebut jika masuk ke dalam tubuh manusia, akan muncul gejala penyakit Covid-19.

3.   Environment (Lingkungan)

Lingkungan mengacu pada faktor ekstrinsik yang memengaruhi agen dan peluang untuk terpapar. Faktor lingkungan meliputi faktor fisik seperti geologi dan iklim, faktor biologis seperti serangga yang mentransmisikan agen, dan faktor sosial ekonomi seperti crowding, sanitasi, dan ketersediaan layanan kesehatan. Lingkungan fisik seperti area yang kumuh, akan mempercepat penularan virus karena banyaknya kontak antar manusia. Jumlah fasilitas dan alat kesehatan (laboratorium) juga menjadi faktor yang berpengaruh. Sedangkan lingkungan sosial budaya yang dimaksud adalah adanya acara atau kegiatan yang mengumpulkan orang banyak.

BACA JUGA : Laju Virus Corona Tak Terkendali, Para Pakar Kritisi Kebijakan PSBB

Covid-19 akan muncul jika kondisi ketiga faktor tersebut terpenuhi. Jika salah satu tidak ada, maka penyakit tidak akan muncul.

1.   Host diseimbangkan

Pencegahan paling utama terhadap penyakit ini adalah peran host. Manusia harus selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungannya agar terhindar dari virus Corona. Perilaku masyarakat juga termasuk salah satu cara menyeimbangkan host dalam rangka memutus mata rantai penularan Covid-19, misalnya dengan cara menghindari kerumunan (physical distancing), menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun, tidak menyentuh area wajah sembarangan, memisahkan peralatan makan dan menjaga daya tahan tubuh (imunitas). Jika kondisi host dapat diseimbangkan maka Covid-19 tidak akan muncul.

Salah satu strategi untuk menyeimbangkan host adalah emantau status demam harian warga, memberi arahan istirahat di rumah, memantau pergerakan warga, membantu proses diagnostik dini, membantu proses rujukan dan memantau status suhu Orang Tanpa Gejala (OTG) yang berasal dari daerah tertular. Proses pemantauan dapat memanfaatkan kemajuan internet atau menggunakan instrumen sederhana berupa simbol status kesehatan.

2.   Agent diseimbangkan

Menyeimbangkan agent yakni virus Corona termasuk hal yang cukup sulit karena belum ditemukannya vaksin dan obat yang mampu membunuh virus ini. Namun, karakteristik virus yang tidak tahan suhu tinggi serta tidak mampu bertahan lama di luar tubuh manusia, cara yang paling efektif adalah menjaga lingkungan tetap bersih. Khususnya tempat atau benda yang sering disentuh manusia agar selalu dicuci dan dijaga kebersihannya. Apalagi sebagian besar orang positif Covid-19 tidak menunjukkan gejala. Sehingga kita tidak tahu keberadaan virus pada manusia sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium.

3.   Environment diseimbangkan

Lingkungan yang mendukung pencegahan Covid-19 yaitu lingkungan yang bersih dan tidak banyak kerumunan orang. Untuk menegakkan ini semua, perlu adanya kebijakan yang bersifat represif yang memaksa masyarakat untuk turut patuh dan aktif menjaga kondisi lingkungan mereka aman (tidak berkerumun) dan bersih dari virus Corona. Strategi bisa dilakukan adalah mengatasi kekurangan kebutuhan fasilitas kesehatan, mengurangi dampak sosial-ekonomi yang terjadi, dan berdasarkan pada sistem dan sumber daya yang ada.

Strategi berikutnya yang bisa dijalankan adalah penyediaan tiga jenis fasilitas kesehatan dengan kebutuhan yang berbeda, pertama, pusat karantina untuk merawat ODP dan PDP. Berdayakan fasilitas layanan primer (puskesmas) dan tempat-tempat umum di daerah. Kedua, pembangunan RS khusus Covid-19 untuk merawat kasus konfirmasi dengan gejala ringan dan sedang. Ketiga, RS rujukan untuk kasus konfirmasi dengan gejala klinis serius hingga berat. Pusat karantina bisa menggunakan alih fungsi gedung-gedung yang ada di daerah.

Keseimbangan ketiga faktor tersebut (segitiga epidemiologi) memutus rantai penularan Covid-19 secara efektif.(jejakrekam)

Penulis adalah Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat-FK ULM Banjarmasin

Ketua Dewan Pakar DPD Forum Intelektual Dayak Nasional (FIDN) Kalsel

Pencarian populer:analisis kejadian covid dengan pendekatan trias epidemiologi,hubungan trias epidemiologi terhadap penularan covid
1 Komentar
  1. Ahmad Sairani berkata

    Terimakasih atas sumbangsih pemikirannya Prof. Husaini.. Semoga bisa jadi acuan bagi Pemerintah dalam memutus penularan Covid-19.

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.