ACT

Buku dan Film Itu Membangkitkan Libido dan Andrenalin Intelektualku

0 139

Oleh : Muhammad Uhaib As’ad

ADALAH Daron Acemoglo dan James A. Robinson penulis buku Why Nations Fail: The Origins of Power, Properity, and Poverty (2012). Buku setebal lebih 200 halaman dan 15 bab itu adalah buku menarik dibaca, khususnya bagi orang-orang yang berpikiran kritis dan independen.

SEKILAS melihat judul buku itu terkesan provokatif, dongkol, marah, dan menggambarakan sebuah kegellisahan serta penjelajahan dari sebuah renungan intelektul mendalam dari penulis buku. Ya, kesan saya begitu ketika membaca dari pengantar sampai pada kesimpulan buku Why Nation Fail itu.

Fokus utama yang menjadi sasaran penjelajahan dari seorang Acemoglu dan Robison adalah  berusaha menyajikan sejumlah fakta (empirical evidences) tetang realitas politik, ketimpangan ekonomi, kemiskinan, konflik-kekerasan, dan persengkongkolan aparatur negara dengan pemilik modal untuk menguasai institusi kekuasaan.

Sejumlah penguasa di Afrika (Sierra Leone dan beberapa negara Sub-Sahara Afrika) mengalami kemiskinan struktural. Kemiskinan struktural ini terjadi karena sistem kekuasaan sudah terjebak pada kekuasaan oligarki yang merepresentasikan bentuk-bentuk kekuasaan otoriter yang dilindungi oleh kekuatan militer.

BACA : Mengharumkan Uniska, Uhaib As’ad Masuk Deretan Editor Jurnal Internasional

Negara secara tidak lagi hadir sebagai sebuah institusi yang melindungi dan menesejahterakan rakyat nya, justru menjadi komparador bagi kepetingan para elit politik dan elite bisnis.

Kemiskinan yang terstruktur di sujumah negara Afrika, bukan karena miskinnya sumber daya alam. Selain faktor sistem kekuasaan politik dan penguasanya bermental otoriter, faktor lain adalah para penguasa daerah dan pusat telah menggunakan posisi kekuasaan untuk menguasai sumber daya politik dan ekonomi dengan berkolaborasi dengan kekuatan militer dan pengusaha untuk kepentingan para kroni politik, kroni bisnis dan kroni yang berada dalam lingkaran kekuasaan yang mendapatkan perlindungan dari aparat keamanan.

Hukum tidak lagi menjadi tempat pencarian rasa keadilan bagi rakyat, tapi justru menjadi alat bagi para penguasa diktator untuk memprotek kepentingan kekuasaan politik dan ekonomi dan para kroni penguasa.

Menurut Acemuglu dan Robinson, konflik dan kekerasan berkepanjangan, seperti konflik antara negara dengan rakyat yang dibekingi oleh militer, konflik rakyat dengan pengusaha, dan konflik antara kelompok.

BACA JUGA : Ritual Pemilukada dalam Perspektif Teori Dramaturgi

Konflik berkepanjangan ini telah terstruktur bagaikan lingkaran setan, bagaikan benang kusut yang sulit diuarai ujung pangkalnya. The main epicentrum of the conflict adalah kehadiran negara (state) sebagai komparador bagi para oligarchs yang telah menguasai lembaga-lembaga kekuasaan negara dan partai politik.

Sementara itu, rakyat berada dalam wilayah keterasingan secara politik dan politik. Perasaan dari keterasingan dari ketidak hadiran negara dalam realitas politik dan ekonomi sebagai realitas stateless feeling.

Film Blood of Dimond yang bercerita secara apik mengenai perebutan sumber daya ekonomi berlian yang berdarah itu adalah realitas sesungguhnya di negara Sierra Leone itu. Negara Sierra Leone adalah fenomena negara gagal. Negara terjebak pada pusaran kemiskian di tengah melimpahnya sumber daya ekonomi intan-berlian kelas wahid di dunia.

Miskin karena dimiskinkan oleh penguasanya sendiri yang terjebak dalam elite capture corruption dan rent – seeking behaviour. Rakyat hidup dengan narasi dan pikirannya sendiri. Nothing conducting from the state.

Para pengusaha berlian dengan  bekerjasama dengan militer menguasai tanah-tanah penduduk Sierra Leone secara paksa. “Because the country has extensive areas of land that it needs to exploit by cultivation using the multitute of workers”, demikan kata Acemoglu dan Robinson.

Miskin di tengah sumber daya alam. Diksi kata mewakili  realitas soso-ekonomi dan politik di sebagai negara di Afrika. Secara teori, kekacauan dan konflik ekonomi dan politik suatu negara adalah gambaran dari pemimpin dari negara itu. Realitas ekonomi dan politik dari suatu kehidupan negara dan rakyat adalah pantulan dari world view dari pemimpin negara itu.

Pemimpin yang cerdas dan bijaksana akan terpantul pada realitas kehidupan rakyatnya. Sebaliknya, penguasa atau pemimpin dungu pun akan tergambar dan merefleksikan suatu realitas di tengah kehidupan rakyatnya.

BACA LAGI : Penjajahan Kapitalisme, Demokrasi dan Runtuhnya Dominasi Negara

Realitas Sierra Leone mewakili  gambaran realitas penguasa sakit pikiran dan jiwa. Tipe pemimpin ala Sierra Leone itu hanya ada satu kata: how to use opportunity, how to use power and political institution to acumulate and exploite economic and political resources to protect the power.

Bagi saya, film Blood of Dimond adalah film yang mewakili perasaan para gelandangan-gelandangan, para pencari kerja yang sedang antri, para maling-maling sandal dan ayam, para sarjana yang lulus berjubel tiap tahun, sementara negara sedang lunglai dan sedang berada pada situasi getting old (kepikunan).

BACA LAGI : HRS dan Gerakan 212 dalam Pusaran Politik Indonesia

Film Blood of Dimond adalah gambaran dari kefrustasian sosial, politik dan ekonomi ditengah para penguasa, para elit berlomba-melomba menumpuk harta dan kekuasaan secara koruptif. Event-event kontestasi elektoral tidak lebih sebagai  upacara ritual demokrasi yang sudah kehilangan aura demokrasi, martabat demokrasi, dan pesta-pesta yang melelahlan bagi para kandidat penguasa dan rakyat.

Ya, film Blood of Dimond enak ditonton dan diresapi. Hadir ditengah di tengah gemuruh film-film kaleng-kaleng, cengeng, lebai, film bersimbah air mata karena ditinggal atau dikhianati olah sang pacar. Ya, untuk sementara kita masih atau sedang menikmati yang berbau-mitos, aroma erotisme ekomoi dan politik yang tidak pernah hadir dalam hati dan pikiran. Semua adalah panggung.

Panggung itu disebut Dramaturgi. Semua panggung hasil desain para oligark, para komparador para rezim partai yang menginjeksi struktur saraf-saraf neurolgi publik untuk masuk ke dalam wilayah mitos dan menyaksikan panggung-panggung meaningless itu.

Bagi ibu-ibu rumah tangga, bisa saja menghabiskan waktu menyaksikan film India berjam-jam sambil memasak sayur kaladi, sayur kalakai, menggoreng ikan saluwang picak sambil sesekali menyekat air mata kesedihan. Betapa film India itu telah berhasil mengaduk-aduk emosi kesedihan air mata Acil Inah. Acil Inah sungguh menghayati lakon para artis-artis India itu. Panggung dihiasi sejumlah ornamen mahal dan latar belakang gunung kapur yang menambah romatisme film India itu.

BACA LAGI : Pasar Politik di Tengah Demokrasi yang Melelahkan

Film itu sangat kapitalistik. Mobilisasi para pemain itu pun memerlukan dana besar. Para artis India itu bukan artis sembarang atau artis kaleng-kaleng apalagi aritis karbitan karena hubungan patronase dengan sang sutradara atau rezim film Yeh Vaada Raha, Salim Anarkali, Swabiman, dan Kasam.

Para artis film India sesungguhnya berlatar belakang anak kampung, anak desa, anak penjual roti canai, pedagang asongan teh tarik. Zaher Syah sebagai pemain film Kasam menjadi film favorit ibu-ibu cantik dan gadis-gadis mileneal. Acil Inah, Mbak Retno Kusuma Astui, dan ibu-ibu cantik itu tidak mau peduli soal latar belakng track record atau digital record.

Yang mereka tahu bahwa artis India sunggung elok, kemayu, mbalelo, seksi, erotis, pintar menarik secara sempurna.   Lapangan luas tempat menari para artis di lapangan becek itu telah disulap, didandani secara apik dangan karpet mahal berwarna-warna dan memberikan kesan pada rakyat bahwa lapangan itu indah dan asri.

Tukang hiasnya pun di datang jauh dari Pulau Sembilan, bernama Indo Siti Kumala Sari. Parade tarian erotisme diatas alter warna-warni itu telah membangkitkan libido seksual bagi Pak Rasulin nun jauh di Pulau Masalembu  dan Haji Ikup di Samuda Sampit.

Struktur imajinasi Pak Rasulin dan Haji Ikup itu telah mengeliminasi rasionalitas dan kecerdasan dan memilih  kedunguan instant. Pak Rasulin beristerikan Bu Sutiyah dan Haji Ukup beristrikan Hajjah Naiyyah. Kedua laki-laki ini kurang memperhatikan kecantikan isteri dan tidak penah diajak ke salon kecantikan. Sejatinya, Pak Rasulin dan Haji Ikup pun bisa memoles isteri melebihi kecantikan artis India,  Heha Melani dan kegantengan Zaher Syah. Zaher Syah adalah anak kampung, anak penjual roti canai. Syah kecil suka bermin-main di pinggiran sungai suci Gangga. Syah kecil pun buang air besari di batang kayu tanpa ada toilet produk kapitalis.

Berapa galon air mata ibu-ibu di negeri ini yang tertumpah dari tontonan film-film India itu. Keindahan narasi, alur cerita, ornamen panggung, lekuk tubuh, dan liuk-liuk tarian erotisme itu adalah skenario dari para rezim-rezim film di Bollywood itu. Markas Bollywood itu tidak terlalu istemewa.

BACA JUGA : Denny Indrayana Akui Politik Kalsel Masih Dikuasai Oligarki Lokal

Sarapan pagi para rezim-rezim BollyWood itu bisa-biasa saja. Kopi panas, rebus singkong, iwak samu, sayur keladi. Masalahnya adalah sosiologi dan antropologi bangsa ini dtelah di-framing atau dibingkai halusinasi, mitos-mitos politik, mitos ekonomi, mitos budaya yang tidak mencerdaskan.

Terakhir, kita boleh meneteskan air mata saat nonton film India yang erotis dan glamor yang mewakili hiruk-pikuk dunia kapitalis. Film Blood of Dimond itu pun layak ditonton oleh kita semua, namun air mata sangat pelit menetes. Sungguh, film itu adalah gambaran seorang penguasa jahat penindas rakyat sendiri dengan cara-cara represif. Aku ingin buat film The Blood of Mining produk House of Democracy and Civil Society Banjarmasin  untuk menandingi The Blood of Dimond di Sierra Leone itu.(jejakrekam)

Penulis adalah Peneliti pada Institute of Politics and Public Policy Studies Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.