Mengenang Metode Belajar Alquran Alif-Alifan dan Keikhlasan Penyusunnya

0

Oleh : Khairullah Zain

MASIH segar dalam ingatan, ketika dulu setiap ba’da Maghrib penulis mendatangi rumah Uwak, kakak tertua ibu penulis, untuk belajar membaca Alquran.  Penulis tidak sendirian, masih ada beberapa anak-anak lainnya turut belajar ngaji.

HAL ini berlangsung sejak rumah Uwak masih belum dipasang listrik, dan kami belajar menggunakan penerangan lampu minyak. Meski di rumah penulis, setiap ba’da Isya, ayah juga mengajar baca Alquran, tapi penulis tidak pernah ikut. Karena selain pesertanya orang-orang dewasa, belajar terhadap ayah sendiri terasa susah buat penulis.

Mungkin ini yang dimaksud dalam hadits, “Orang yang paling gengsi belajar pada seorang yang berilmu adalah keluarganya sendiri”. Bahkan, penulis juga tidak tertarik untuk belajar tilawah, melagukan bacaan Alquran, kepada ayah. Padahal, ayah seorang yang menyenangi tilawah. Beliau pernah belajar ke beberapa guru sehingga mempunyai sedikit kepandaian dalam tilawah.

BACA : Mengenal Metode Pembelajaran di Pesantren

Penulis masih ingat, setiap pekan sekali ayah menghadirkan guru tilawah yang mengajarkan melagukan bacaan Alquran. Ketika itu, di rumah kami banyak orang-orang dewasa turut belajar. Namun ayah bukan seorang yang suka ikut lomba tilawah. Karenanya, kepandaian ayah hanya beliau nikmati sendiri.

Kembali ke cerita penulis belajar ngaji. Dulu itu kitab yang menjadi panduan adalah Qaidah Baghdadiyah, kami menyebutnya Alif-Alifan. Berbeda dengan metode belakangan semacam Iqra, Tilawati dan lainnya, Alif-Alifan mengajarkan mengenal huruf tanpa harakat terlebih dahulu. Sebab itu, sebelum mengenal Dhommah, Fathah, Kasrah, dan Sukun, kami sudah hapal Alif, Ba, Ta, dan seterusnya. Mungkin inilah kenapa metode ini disebut dengan Alif-Alifan.

BACA JUGA : Sekolah Arab Vs Sekolah Belanda; Diskriminasi dalam Arus Zaman

Rata-rata, setiap orang yang belajar membaca Alquran di zaman dahulu menggunakan kitab ini. Tidak sedikit para ulama yang ahli dalam mengeksplorasi kitab kuning, awal belajar mengenal Huruf Hijaiyah dari Alif-Alifan. Karenanya, Alif-Alifan melegenda.

Namun, meski ia telah menjadi legenda dan banyak berjasa dalam memberantas buta Huruf Hijaiyah, sampai hari ini penulis belum mengetahui siapa penyusun metode ini. Penulis telah coba mencari tahu, tapi tidak menemukan jawaban.

BACA JUGA : Berkat KH As’ad Humam, Metode Iqro Membumi Gantikan Alip-Alipan

Unik memang. Kitabnya melegenda namun penyusunnya tidak diketahui entah siapa. Karenanya, penulis mencoba berasumsi, penyusun Qaidah Baghdadiyah adalah seorang yang tidak ingin dikenal. Beliau berusaha menjaga keikhlasan dalam berkarya dengan tidak mengenalkan siapa dirinya. Cukup karyanya saja yang dinikmati, ilmunya saja yang dipelajari. Urusan balasan dan semacamnya, cukup antara dia dengan Allah saja.

Sejatinya, hal ini bukan hal aneh dalam dunia Sufi. Para ulama zaman dahulu banyak yang menyembunyikan dirinya, meski karyanya menyebar. Tidak sedikit kitab-kitab yang baru diketahui siapa penyusunnnya setelah diadakan penelitian oleh generasi belakang.

BACA JUGA : Batamat Al-Qur’an, Tradisi Budaya Banjar Jelang Pernikahan

Para ulama zaman dahulu melakukan beragam cara untuk menjaga keikhlasannya. Sebut saja Ibnu Ruslan, ulama yang bernama asli Al-Imam al-`Allamah Syihabuddin Ahmad bin Husain bin Hasan bin Ali bin Yusuf bin Ali bin Arsilan ar-Ramli asy-Syafi’i, selesai menyusun kitab Nazhm Az Zubad, malah “membuang” ke laut. “Kalau memang aku ikhlas dalam menyusunnya, kitab ini tidak akan rusak oleh air laut”, ujarnya.

Benar saja, kelak kitab Az Zubad ditemukan oleh seorang nelayan. Oleh penemu, kitab Az Zubad diserahkan kepada seorang ulama. Setelah menelaah lembar demi lembar, ulama tersebut merasa takjub, menyaksikan keindahan susunan bahasa dan kedalaman makna kitab Fikih yang disusun berbentuk syair tersebut. Pastinya, ini tidak disusun oleh sembarang orang.

BACA JUGA : Doakan Nasib Bangsa, PWNU Kalsel Gelar Istighosah dan Khataman Alquran

Banyak orang pandai bersyair namun belum ahli dalam bidang Fikih. Sebaliknya banyak ulama Fikih, namun tidak pandai menilai syair. Tapi Az Zubad, bentuknya syair isinya Fikih. Kelak, Nazhm Az Zubad menjadi kitab legendaris dalam Fikih Madzhab Syafi’i.

Strategi menjaga keikhlasan ini dalam dunia Sufi masuk dalam kategori “mujahadah”. Yaitu berjuang melawan nafsu yang sarat dengan Hubbusy Syuhrah, alias keinginan untuk terkenal. Hubbusy Syuhrah adalah salah satu penyakit yang mengotori hati. Adanya penyakit ini membuat hati tidak bening, akibatnya tidak mampu memantulkan nur-nur ilahiyah berupa ilmu makrifat dan semacamnya.

BACA JUGA : Memasuki Akhir Ramadhan, Tradisi Batamat Alquran Dilestarikan

Embrio dari Hubbusy Syuhrah ini adalah Hubbul Jaah, alias adanya keinginan untuk mendapatkan kedudukan alias status terhormat di mata manusia. Apapun bentuknya. Dan sel telur dari Hubbul Jaah ini adalah Hubbud Dunia, alias Cinta Duniawi.

Cinta dunia membuat orang rela mengorbankan akhiratnya demi tercapainya target-target pencapaian duniawi. Karenanya, para Sufi senantiasa mewaspadai dirinya dari penyakit ini.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al Bayhaqi secara mursal dari Imam Hasan Al Bashri, Rasulullah shalallahu alayhi wasallam pernah bersabda, “Cinta Duniawi adalah biang keladi semua kesalalahan.”

BACA JUGA : Jadikan Alquran sebagai Sahabat, Banyak Manfaat yang Didapat

Kembali ke Alif-Alifan. Mungkin karena keikhlasan penyusunnya, kitab ini kelak melahirkan banyak para ulama yang ikhlas. Bahkan para pengajar kitab ini pun adalah orang-orang yang ikhlas. Mereka tidak pernah menuntut gaji atau bayaran. Setiap hari mengajarkan secara suka rela. Uwak penulis adalah salah satunya.

Wallahu A’lam, apakah ini pula yang membuat sebagian ulama kita tidak menyukai perlombaan dalam membaca Al Qur’an dan semacamnya? Penulis belum berani berasumsi.(jejakrekam)

Penulis adalah Mudir Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Banjar

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.