Batamat Al-Qur’an, Tradisi Budaya Banjar Jelang Pernikahan

0

DALAM tradisi budaya Banjar apabila akan me laksanakan acara sakral, seperti pernikahan dan pesta perkawinan, sering kali diawali dengan melakukan amalan baik seperti membaca dan mendengarkan lantunan ayat-ayat AL-Qur’an.

SEPERTI pantauan jejakrekam.com, keluarga mempelai wanita di Teluk Tiram Gang 34 akan melaksanakan pesta perkawinan. Calon pengantin didampingi seorang guru mengajinya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan beberapa warga yang berhadir turut mendengarkan dengan khusyuk.

Tak ketinggalan, si pembaca yang saat itu sedang menamatkan membaca Al-Qur’an dipayungi dengan payung kembang, dan dihadapannya disuguhi berbagai macam makanan menambah kemeriahan tradisi ‘Betamat’ mejelang pernikahan.

Idrus pemerhati budaya Banjar memaparkan, dalam konteks pernikahan, tradisi Batamat Al-Qur’an merupakan ritus perjalanan yang harus dilalui pengantin. Pelaksanaannya diadakan satu malam sebelum akad nikah di rumah masing-masing mempelai. Yang dibaca pada saat itu adalah surah Ad-Dhuha hingga surah terakhir, dan ditutup dengan doa Khatmil Qur’an.

BACA: Memasuki Akhir Ramadhan, Tradisi Batamat Alquran Dilestarikan

Tradisi Batamat Al-Qur’an diperkirakan muncul dan tersebar sejak abad ke-14 masehi, beriringan dengan kedatangan Islam di tanah Banjar.

Menurut Hidayat Salam dalam tulisannya ‘Tradisi Batamat Al-Qur’an Pada Masyarakat Banjar Kalimanta Selatan’ tradisi ini dibawa dari Sumatera. Karena corak keagamaan masyarakat Banjar berkaitan erat dengan kultur keagamaan masyarakat Melayu, tanah pertama kedatangan Islam di Nusantara.

Hubungan erat masyarakat Banjar dengan masyarakat Melayu dapat dilihat dari genealogi jaringan ulama Nusantara. Misalnya, Syekh Muhammad Arsyad al-Bajari, ulama tanah banjar yang memiliki tali ikatan seperguruan dengan Syekh Abdul al-Shamad al-Palimbani. Keduanya sama-sama menuntut ilmu ke Timur Tengah. Lebih jauh, Syekh Arsyad pernah menulis kitab Sabilal Muhtadin yang merupakan syarah dari kitab Shiratal Mustaqim karya Nuruddin al-Raniri.

Meskipun serupa dengan tradisi Khatmil Qur’an di Suamtera dan daerah lain, namun bukan berarti tradisi Batamat Al-Qur’an tidak mengalami transformasi.

Disebutkan bahwa di dalam tradisi Batamat Al-Qur’an terjadi akulturasi dengan budaya-budaya lokal seperti budaya Dayak, Hindu, dan Budha yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Banjar. Akulturasi ini secara gamblang dapat dilihat dalam prosesi Batamat Al-Qur’an.(jejakrekam)

Penulis Sirajuddin
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.