Primbon dan Hitungan Mistis 1525; Jejak Hari Jadi Kota Banjarmasin ke-496

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

PADA 1525, Patih Masih dan para patih lainnya meminta Raden Samudera untuk menjadi raja. Mereka menyerbu Bandar Muara Bahan dan memindahkan bandar beserta seluruh pedagang dan penduduknya ke Desa Banjarmasih.

DESA itu pun berubah menjadi bandar, pusat kerajaan-sementara kekuasaan baru. Setelah terjadi pertempuran di Hujung Pulau Alalak dengan kekalahan Pangeran Tumenggung, maka mulailah perang blokade.

Orang-orang -pedalaman tak bisa ke pantai, orang-orang pantai tak bisa mendapat barang makanan dari pedalaman. Patih Masih melihat bahwa hal ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut karena merugikan Banjar.

Idwar Saleh (1982) menuliskan Patih Masih minta bantuan ke (Kesultanan) Demak di Jawa. Ini karena mengetahui Demak telah menggantikan Kerajaan Majapahit yang ditaklukkan pada 1521. Informasi teranyar adanya penaklukkan Banten pada 1524.

BACA : Di Era Sultan Suriansyah, Kerajaan Banjar Mulai Terapkan Hukum Islam

Berita semacam ini di kalangan pelayar dan pedagang tersebar cepat. Waktu enam bulan sampai satu tahun dalam masa orang-orang memakai kapal layar, baru mendengar berita dan peristiwa didaerah pulau lain, adalah termasuk cepat. Pelayaran ditentukan pula musim dan arah bertiupnya angin.

Perkampungan Kuin di Banjarmasin (Bandarmasih) yang menjadi cikal-bakal lahirnya Kerajaan Banjar. (Foto KILTV Leiden)

Pengiriman-pengiriman pasukan dengan logistik yang sederhana, kadang-kadang harus menunggu selesainya pemotongan padi untuk bekal di jalan. Apalagi logistik untuk satu pasukan sebesar seribu orang.

BACA JUGA : Blunder Van Twist Dudukkan Tamjidillah sebagai Sultan Muda Kerajaan Banjar

Demak bersedia membantu Banjarmasih dengan syarat masuk Islam. Hal itu disetujui pihak Keraton Banjarmasih. Hikayat Banjar menyebutkan bahwa Patih Balit harus balik ke Demak dalam musim timur membawa persetujuan Raja Banjar. Persiapan-persiapan armada guna mengangkut pasukan seribu orang dengan segala senjata dan perbekalan, memerlukan persiapan berbulan-bulan. Dalam musim barat tahun 1526, armada Demak ini pun akhirnya berangkat ke Banjarmasih.

Kebudayaan Jawa (Demak) pada umumnya, sekalipun telah dipengaruhi agama Islam, selama 4 abad sampai era kekinian, masih mengenal bermacam-macam pantangan, hari buruk dan hari baik untuk memulai sesuatu pekerjaan dan sebagainya.

BACA JUGA : Bubuhan di Era Kesultanan Banjar, Diberi Gelar Pembekal, Kiai hingga Andin (2-Habis)

Apalagi di abad-16, di mana tradisi lama masih kokoh sekali. Hal-hal serupa ini harus mendapat perhatian. Menurut hitungan Jawa dan Tarikh Hijriyah, tahun 1526 adalah tahun Hijrah 933 atau tahun Jimawal l445. Bulan puasa tahun 1526 ini terkena pada bulan Juni dan Juli. Meng-Islamkan orang-orang ” kafir ” (di sini adalah orang-orang Banjar yang beragama Syiwa, Budha atau Kaharingan), adalah pekerjaan yang mulia dan berpahala. Meng-Islamkan sebuah kerajaan dengan ribuan rakyatnya, tentu tidak dapat memakan waktu satu dua hari.

BACA JUGA : Khatib Dayan, Penghulu Kesultanan Banjar Pertama yang Diyakini Keturunan Sunan Gunung Jati

Busana bangsawan Jawa (Demak) serta busana penghulu (tokoh Islam) di Amuntai dan daerah-daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Banjar.(Foto KITLV Leiden)

Armada Demak ini datang menjelang bulan puasa. Maka kegiatan-kegiatan dipusatkan kepada persiapan-persiapan peng-Islaman, sambil menunggu kedatangan para sekutu dari daerah-daerah Kalimantan Timur, Tengah dan Barat. Karena soal meng-Islamkan raja dan rakyat kerajaannya berperang dan sebagainya.

BACA JUGA : Petaka Perjanjian 26 Ramadhan Bikin Kesultanan Banjar Tergadai

Termasuk hal-hal yang luar biasa, perlu dipilih hari-hari yang baik menurut primbon yang berlaku dalam hidup kebudayaan keraton Jawa dewasa itu. agar menjadi kebaikan dan kemaslahatan keraton dan pelaksana-pelaksananya. Pemilihan dan penentuan hari-hari dihitung dengan teliti dan cermat, karena kalau salah bisa membahayakan orang atau negara sesuai mistik yang berlaku.

Lagi pula dalam bulan puasa tidak boleh dijalankan kegiatan apa-apa kecuali ibadah yang ditentukan. Karena itu peng-Islaman hesaran rakyat dan raja Banjarmasih kalau dihitung menurut hari baiknya, kena hari Rabu Wage, 4 Syawal Jimawal 1444 Ehe (4 Syawal 932 Hijrah, Sabtu Pon) atau 23 Juli 1526 antara jam 08.30 – 13.00, tiga hari sesudah Hari Raya Idul fitri.

BACA JUGA : Jadi Bandar, Umur Pasar Terapung Muara Kuin Setua Kesultanan Banjar

Idwar Saleh (1982) juga menuliskan setelah para sekutu telah berdatangan dengan pasukan dengan senjatanya, namun tidak segera menyerbu kepedalaman, karena beberapa hal. Pertama, menunggu musim panen padi, agar cukup perbekalan pasukan ke pedalaman, dan padi di pedalaman Hulu Sungai juga sudah bisa diketam, apabila telah dikuasai.

Kondisi Pasar Terapung di Sungai Martapura Banjarmasin yang menjadi pusat perdagangan Kesultanan Banjar dan Kolonial Belanda. (Foto KILTV Lieden)

Banjarmasih sendiri selalu kekurangan beras. Untuk menutupi kekurangan beras tersebut senantiasa mendatangkan dari Jawa. Kemudian menunggu puncak kemarau bulan Agustus, karena pasang kemarau ini bisa menghanyutkan kapal-kapal layar besar sampai ke Negara Daha.

BACA JUGA : Keraton Dibumihanguskan, Belanda Sita Regalia Kesultanan Banjar

Pasang kemarau memudahkan anak-anak kapal mendayung kapal-kapal besarnya ke daerah pertahanan musuh di Parit Basar. Selanjutnya menunggu penetapan-penetapan hari bertempur yang menguntungkan. Karena itu, persiapan terakhir diadakan pada 20 Selo Jimawal 1444 Ehe (20 Zulkaidah 932 H) atau 6 September 1526 yang merupakan persiapan pertempuran terakhir setelah hampir 40 hari bertempur.

Pada tanggal 3 Besar Jimawal 1444 Ehe, Senin Pon, 19 September 1526 atau 3 Zulhijjah 932 H, dengan berkibar megahnya Tatunggul Wulung Wanara Pritih, Pangeran Samudera mendapatkan kemenangan terbesar dalam pertempuran, sehingga Arya Taranggana meminta agar kedua raja itu saja yang bertempur dan siapa yang menang dia yang menjadi raja.

BACA JUGA : Islam Banjar Perpaduan Kultur Demak dan Samudera Pasai

Rakyat Negara Daha sudah terlalu banyak yang binasa. Oleh Pangeran Samudera dan pimpinan pasukan Demak, hal ini disetujui dan pada hari baik 8 Besar 1444 Ehe, Sabtu Pon (8 Zulhijjah 932 H) atau 24 Septembar 1526 antara jam 06.00- 10.30 pagi. Hingga, berlangsunglah acara pertempuran terakhir antara Pangeran Samudera dengan Pangeran Tumenggung, masing-masing berdiri di muka (haluan) perahu talangkasan mereka.

Bangunan sebuah masjid diduga berada di Pelajau, Barabai, Hulu Sungai Tengah yang terpengaruh gaya arsitektur Demak (Jawa). (Foto KILTV Leiden)

Pengaruh hari baik temyata menguntungkan Pangeran Samudera. Begitu mendekat perahu tersebut Pangeran Samudera menyatakan tak mau melawan pamannya yang dianggapnya sebagai pengganti sang ayah (Raja Sukarama) yang sudah mati. Dia menyilahkan Pangeran Tumenggung untuk membunuhnya pula.

Pangeran Tumenggung melemparkan senjatanya. Kemudian, dia memeluk Pangeran Samudera, mengangkatnya pada hari itu juga sebagai raja dengan menyerahkan pusaka-pusaka kerajaan kepada kemenakannya tersebut.

BACA JUGA : Kitab Perukunan dan Sabilal Muhtadin, Bukti Ulama Banjar Berpengaruh di Dunia Islam Melayu

Dengan demikian maka tanggal 24 September 1526, hari Rabu adalah hari kemenangan Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah, cikal bakal raja-raja dinasti Kerajaan Banjar atas musuhnya. Kemudian hari diserahkannya regalia Kerajaan Negara daha, dan dirajakannya Pangeran Samudera oleh Pangeran Tumenggung.

Selanjutnya, hari ketentuan atau kemenangan Banjarmasih menjadi ibukota seluruh Kerajaan Banjar, sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat penyiaran agama Islam dan mata rantai baru dalam menghadapi penetrasi Portugis di Laut Jawa.

Kondisi Bandar Muara Bahan (Marabahan) di era kolonial Belanda yang dulunya merupakan pusat perekonomian Kerajaan Negara Daha. (Foto KILTV Leiden)

Akibat kemenangan mutlak, pada hari Rabu tanggal 24 September 1526 Pangeran Samudera didaulat menjadi raja dan menguasai seluruh pantai dan pedalaman Negara Dipa dan Negara Daha. Kekuasaan pemerintahan beralih dari pedalaman ke pantai (ke Banjarmasih) dan Banjarmasih jadi ibukota seluruh kerajaan yang baru di Kalimantan Selatan.

BACA JUGA : Nansarunai; Kerajaan Dayak Maanyan yang Merupakan Leluhur Urang Banjar

Penduduk ibukota yang baru terdiri dari penduduk lama Banjarmasih ketika masih desa, serta pedagang-pedagang asing dan penduduk Bandar Muara Bahan yang diangkut ke Banjarmasih di tahun 1525. Hal ini demi meningkatkan status desa Banjarmasih menjadi bandar dan pusat sementara kerajaan dan perlawanan terhadap Negara Daha.

Penduduk dan para pegawai Kerajaan Negara Daha yang diungsikan ke Banjarmasih dalam tahun 1526 tersebut. Banjarmasih menjadi pusat pengembangan agama Islam di Kalimantan Selatan, sebuah mata rantai baru dalam menghadapi penetrasi Portugis sesuai dengan politik Demak.

BACA JUGA : Penyimbolan Sunan Giri dalam Islamisasi Negara Daha

Seluruh penduduk Negara Daha diangkut ke Banjarmasih, kecuali 1.000 orang yang tinggal menjadi rakyat Pangeran Tumenggung dan berdiam di daerah (Batang) Alai. Negara Daha kosong dan hilang ditelan masa, dilupakan orang sebagai tempat pusat yang sebenarnya. Berangsur-angsur sungainya pun mati, tertutup lumpur.

Sebaliknya, Banjarmasih muncul menjadi ibukota Kerajaan Banjar. Untuk selanjutnya menjadi medan sejarah dan suksesi kekuasaan yang silih berganti.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.