Islam Banjar Perpaduan Kultur Demak dan Samudera Pasai

0 2.356

KONFLIK antara paman dan keponakan menjadi puncak datangnya Islam secara resmi di Tanah Banjar. Ya, Kerajaan Negara Daha yang diperintah Pangeran Temenggung, di satu sisi sang putera mahkota yang terbuang, Pangeran Samudera yang kemudian diangkat menjadi raja di Kampung Kuin.

SEDIKITNYA ada lima tokoh yang sangat berperan dalam mengangkat kembali supremasi Pangeran Samudera sebagai pewaris sah Kerajaan Negara Daha, yakni Patih Masih, Patih Balit, Patih Muhur, Patih Kuin dan Patih Balitung. Atas saran Patih Masih, Pangeran Samudera yang dalam pelarian politiknya dari istana Negara Daha bernama Samidri ini, harus menjalin kongsi politik dan militer dengan Kesultanan Demak di Pulau Jawa. Tujuannya, kekuataan militer Kerajaan Negara Daha tak bisa ditandingi koalisi Pangeran Samudera dan pendukung para tokoh itu plus bantuan dari kerajaan-kerajaan lain yang bersimpatik, tanpa tentara terlatih.

Mengapa pengaruh Kesultanan Demak begitu kuat saat itu? Dalam buku Majapahit Peradaban Maritim (Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia) yang ditulis Irawan Djoko Nugroho, menyebutkan pasca Majapahit ditaklukkan Kesultanan Demak di bawah komando Raden Fatah, diteruskan Pati Unus  dan Sultan Trenggana, maka Demak dan Panjang menjelma jadi kekuatan militer terbesar di Pulau Jawa.

Bahkan, dari riset Irawan Djoko Nugroho yang merupakan ahli filologi atau naskah-naskah manuskrip ini menggambarkan jika pasukan Kesultanan Demak itu telah dilengkapi baju perang yang disulam dengan rantai besi (zirah) atau waju rante, serta membentuk kesatuan-kesatuan tentara yang kuat dan terkomando dengan baik, warisan dari sistem ketentaraan Kerajaan Majapahit. Seperti, adanya pasukan tempur, pasukan cadangan (wadwa haji), serta bhayangkari (pasukan penjaga raja).

Lantas, mengapa Patih Masih meminta bantuan Demak? Syarif Bistami yang merupakan keturunan Khatib Dayan di Kuin Utara ini mengakui jika perkampungan Kuin pada awalnya adalah perkampungan multietnis. “Patih Masih itu merupakan perantau asal Sumatera, tepatnya dari Sriwijaya. Namun, di Kampung Kuin dulu, banyak pula tokoh-tokoh dari Jawa, bahkan mereka sudah memeluk agama Islam,” ucap Syarif Bistami, beberapa waktu lalu.

Dia menyebut nama Datu Pelaminan yang merupakan penyebar Islam, sebelum kedatangan Khatib Dayan secara resmi dikirim dari Pulau Jawa ke Tanah Banjar. “Memang, Islam saat itu belum massif penyebarannya. Hanya dipeluk per individu saja,” ucap Syarif Bistami. Nah, hubungan antara Pelabuhan Bandarmasih dengan pedagang dari Jawa sangat intens, pertimbangan menghadirkan Demak dalam sengketa perebutan takhta antara Pangeran Temunggung dan Pangeran Samudera jauh lebih mudah, dibandingkan kerajaan lain.

Dalam buku Kesultanan Banjar pada Abad ke-19, Ita Syamtasiyah Ahat mengungkapkan hasil risetnya bahwa sejak zaman Negara Dipa, orang-orang Nagara memang sangat ahli membuat perahu baik untuk raja, pejabat maupun pedagang. Termasuk, untuk keperluan perang laut atau sungai. Tak mengherankan, jika Negara Daha sebagai penerus Negara Dipa cukup disegani kerajaan lain, karena memiliki armada sungai dan laut yang cukup kuat di Kalimantan.

“Pilihan untuk meminta bantuan militer ke Demak itu sangat logis. Karena, saat itu, Demak merupakan kekuataan militer yang mampu menandingi Kerajaan Negara Daha,” ucap DR Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin. Perundingan Patih Balit selaku duta Pangeran Samudera, yang juga membawa beberapa cinderamata dari Tanah Banjar, dengan Kesultanan Demak, menghasilkan beberapa kesepakatan.

Dalam buku Urang Banjar dan Kebudayaannya, sejarawan FKIP Universitas Lambung Mangkurat, M Zainal Arifin Anis meyakini pengiriman Khatib Dayan oleh Kesultanan Demak itu, tak hanya dibungkus ekspedisi militer, melainkan misi penyebaran Islam di Tanah Banjar. Sedangkan, Artum Artha menambahkan dalam bukunya Sedjarah Kota Bandjarmasin, perjanjian dengan Demak juga mengandung klausul perdagangan antara Banjar dan Jawa, terutama komoditas rempah-rempah dan pakaian yang jadi komoditi perdagangan nusantara ketika itu.

Peperangan antara pasukan Pangeran Temunggung dan Pangeran Samudera tak terelakkan. Para sejarawan, termasuk buku Hikayat Banjar menggambarkan pertempuran di muara Sungai Alalak, kemudian merembet ke Muara Bahan (Marabahan) sangat sengit. Pangeran Samudera yang dibantu tentara terlatih Kesultanan Demak, plus pasukan tambahan dari Kerajaan Kutai, dan kerajaan lainnya, berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Negara Daha. Hingga akhirnya, jalan perundingan antara kedua pihak bersengketa, antara Pangeran Temunggung dan Pangeran Samudera jadi pilihan, karena melihat begitu banyaknya tentara yang gugur dalam peperangan tersebut. Ada dua tokoh yang berhasil melakukan rekonsiliasi, yakni Patih Masih di pihak Pangeran Samudera, dan kubu Negara Daha, Aria Terenggana.

Walhasil, Pangeran Temunggung menyerahkan segala pusaka, mahkota dan regalia Kerajaan Negara Daha ke tangan keponakannya, Pangeran Samudera. Sebagai penguasa baru, Pangeran Samudera kemudian diislamkan penghulu Kesultanan Demak, Khatib Dayan dengan gelar baru Sultan Suriansyah yang tercatat versi Begawan Sejarah Banjar Profesor Idwar Saleh pada 24 September 1526.  Sejak itu, Islam menjadi agama resmi kerajaan yang dimulai dengan pengislaman para pembesar seperti Patih Masih dan kawan-kawan. Kemudian, dipeluk rakyat Banjar.

Namun, dosen senior Fakultas Ilmu Budaya Univeritas Indonesia, DR Ita Syamtasiyah Ahyat dalam tesisnya justru mempertanyakan siapa yang diutus mengislamkan Banjar, meski yang masyhur adalah Khatib Dayan.  Dia mengutip Hikayat Hasanuddin bahwa ada lima imam (penghulu) yang berhak mengislamkan seorang raja di Kesultanan Demak, yakni Sunang Bonang atau Pangeran Bonang, Makdum Sampang, Kiai Pambayun, Penghulu Rahmatullah atau Sunan Kudus (Pangeran Kudus), putera Penghulu Rahmatullah pada 1524. “Di antara para imam itu, dua di antaranya merupakan Walisongo. Apakah mereka yang melantik Sultan Suriansyah?” ucap Ita Syamtasiyah, dalam bukunya.

Berbeda dengan Ita, dalam catatan keluarga Syarif Bistamy yang dituangkannya dalam buku Riwayat Singkat Raja-Raja dan Kaum Bangsawan di Kompleks Makam Sultan Suriansyah, justru menyakini jika Khatib Dayan yang bernama asli Syaikh Maulana Syarif Hidayatullah Al-Idrus ini berasal dari Samudera Pasai. “Karena saat itu, Malaka dikuasai Portugis, beliau akhirnya merantau ke Pulau Jawa. Saat itu, Demak dipimpin Sultan Trenggana. Atas kepiawaian beliau menggempur Portugis di Jawa, makanya beliau yang diutus ke Tanah Banjar,” tutur Syarif Bistamy.

Dia mengungkapkan kehadiran Khatib Dayan tak hanya menyebarkan Islam, tapi juga menghimpun kekuatan poros kesultanan Islam menghadapi aksi penjajahan yang mulai menjarah nusantara baik Belanda maupun Portugis. Syarif Bistamy juga mengakui jika Islam yang ada di Tanah Banjar merupakan perpaduan antara syiar ala Walisongo di Jawa, serta sentuhan ulama-ulama dari Samudera Pasai.

“Untuk membantu Khatib Dayan menyebarkan Islam di Tanah Banjar, ulama dari Samudera Pasai juga datang seperti Syekh Abdul Malik Al-Pasai atau dikenal dengan Tuan Besar Haji Batu, serta Sayyid Ahmad Al-Idrus,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis : Didi GS

Editor   : Didi G Sanusi

Foto     : Museum Tropen Belanda

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.