Ibnu-Arifin-Calon

Khatib Dayan, Penghulu Kesultanan Banjar Pertama yang Diyakini Keturunan Sunan Gunung Jati

0 651

MAKAM Khatib Dayan berada di satu komplek dengan pusara Sultan Suriansyah, raja pertama dan pendiri Kesultanan Banjar yang berkuasa pada 1520-1540. Letaknya di Jalan Kuin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

PENELITI sejarah Islam UIN Antasari Banjarmasin Humaidy Ibnu Sami mengungkapkan dari catatan sejarah, Khatib Dayan merupakan penatagama atau penghulu Islam pertama di Tanah Banjar, yang kabarnya dikirim khusus Kerajaan Demak era Sultan Trenggono.

Berdasar argumen Arthum Artha, wartawan yang penulis buku Sejarah Banjar menguraikan Khatib Dayan bernama asli Sayyid Abdurrahman.

“Berdasar Babad Jawa dan Babad Banjar, Abdurrahman ini ditulis sebagai Ngabdulrahman Penatagama. Abdurrahman, sangat setia kepada Sultan Suriansyah,” ucap Humaidy kepada jejakrekam.com, beberapa waktu lalu.

BACA : Islam Banjar Perpaduan Kultur Demak Dan Samudera Pasai

Khatib Dayan yang pertama kali mengislamkan Pangeran Samudera hingga bergelar Sultan Suriansyah, memimpin fusi beberapa kerajaan kecil menjadi Kesultanan Banjar. Posisi Khatib Dayan sangat sentral di Kesultanan Banjar era awalnya, karena sebagai penasihat sekaligus penghulu utama agama Islam di Tanah Banjar.

Sedangkan, beber dia, Amir Hassan Kiai Bondan dalam bukunya Suluh Sedjarah Kalimantan (1957) mengutarakan bahwa  Khatib Dayyan mempunyai pembantu setia dalam mengislamkan penduduk di lingkungan kerajaan dan mensyiarkan Islam yang masyhur bernama Haji Batu (Syekh Abdul Malik).

“Haji Batu merupakan seorang ulama yang banyak mempunyai kesaktian. Bisa dikatakan ilmunya hampir setanding saja dengan Khatib Dayan,” tutur Humaidy.

BACA JUGA : Ditanam Sejak Sultan Suriansyah, Banjarmasin Pusat Lada Dunia

Peneliti senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini juga mengutip versi tutur tokoh masyarakat Kuin yang menyebut  Khatib Dayyan merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati, pendiri kraton Cirebon yang bernama asli Syarif Hidayatullah.

Sunan Gunung Jati, yang dikenal sebagai salah satu Walisongo dan bertugas di Cirebon merupakan keturunan dari waliyullah Muhammad Shahib Mirbath.

Sedangkan, Muhammmad Shahib Mirbath adalah keturunan generasi ke-16 dari Nabi Muhammad SAW.  Jadi, silsilah Syarif Hidayatullah (keturunan ke-24) tersambung dari orangtuanya Abdullah bin Ali Nurul Alam bin Jamaluddin Husin bin Ahmad Jalaluddin bin Abdullah Khan bin Abdul Malik bin Alwi Umul Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath.

BACA JUGA : Jadi Bandar, Umur Pasar Terapung Muara Kuin Setua Kesultanan Banjar

Nah, masih menurut Humaidy, Sunan Gunung Jati juga memiliki putra bernama Sultan Hasanudin (Sultan Banten I). “Berdasar sumber Kuin, Khatib Dayan merupakan buyut dari Sultan Hasanudin. Ayah dari Khatib Dayan adalah Sultan Maulana Ahmad (Cirebon) bin Sultan Yusuf (Cirebon) bin Sultan Hasanudin,” ungkapnya.

Budayawan Nahdlatul Ulama (NU) Kalsel ini mengatakan Khatib Dayyan dikabarkan menikah dengan seorang putri Sultan Suriansyah. Dari perkawinan itu lahir Khatib Hamid yang tinggal di Kuin Utara.

Versi yang dikutip Humaidy bersumber dari catatan keluarga besar Syarif Bistami, warga Kuin Utara yang merupakan keturunan dari Khatib Dayan. Terlebih lagi di era Kesultanan Banjar sebelum pusat pemerintahan dipindahkan ke Martapura, ketika masih di Banjarmasin, Khatib Hamid menurunkan anak cucu yang juga berprofesi sebagai jhatib. Putranya yang bernama Khatib Muhidin memiliki anak yang juga meneruskan jabatan sebagai khatib yakni Jamain.

BACA JUGA : Melacak Jejak Keraton Banjar, Apakah di Kuin atau Pulau Tatas?

Catatan Syarif Bistamy dituangkan dalam buku berjudul Riwayat Singkat Raja-Raja dan Kaum Bangsawan di Kompleks Makam Sultan Suriansyah, justru menyakini jika Khatib Dayan yang bernama asli Syaikh Maulana Syarif Hidayatullah Al-Idrus ini berasal dari Samudera Pasai.

“Karena saat itu, Malaka dikuasai Portugis, beliau akhirnya merantau ke Pulau Jawa. Saat itu, Demak dipimpin Sultan Trenggono. Atas kepiawaian beliau menggempur Portugis di Jawa, makanya beliau yang diutus ke Tanah Banjar,” tutur Syarif Bistamy.

Dia mengungkapkan kehadiran Khatib Dayan tak hanya menyebarkan Islam, tapi juga menghimpun kekuatan poros kesultanan Islam menghadapi aksi penjajahan yang mulai menjarah nusantara baik Belanda maupun Portugis.

BACA JUGA : Berawal dari Dalam Pagar, Lahir Pondok Pesantren di Tanah Banjar

Syarif Bistamy juga mengakui jika Islam yang ada di Tanah Banjar merupakan perpaduan antara syiar ala Walisongo di Jawa, serta sentuhan ulama-ulama dari Samudera Pasai.

“Untuk membantu Khatib Dayan menyebarkan Islam di Tanah Banjar, ulama dari Samudera Pasai juga datang seperti Syekh Abdul Malik Al-Pasai atau dikenal dengan Tuan Besar Haji Batu, serta Sayyid Ahmad Al-Idrus,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor Didi G Sanusi
-  I K L A N  -

- I K L A N -

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.