Kitab Perukunan dan Sabilal Muhtadin, Bukti Ulama Banjar Berpengaruh di Dunia Islam Melayu

0

BAHASA Melayu menjadi bahsa lingua franca atau biasa perdagangan. Kerap disebut Melayu Pasar, ketika komunikasi dijalankan para pedagang di Nusantara dengan para pedagang Arab, Gujarat (India) dan Persia.

DALAM buku Islamisasi Banjarmasin (Abad ke-15 sampai ke-19) karya sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Yusliani Noor mengungkap bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar aktivitas perdagangan mendapat posisi yang khas di Banjarmasin sejak abad ke-15. Ini mengingat Bandar Niaga Muara Bahan telah menjadi sentral para pedagang Muslim.

“Pemakaian bahasa Melayu menjadi penting, mengingat faktor bahasa berperan bagi penyampaian pesan dan media dakwah,” tulis sejarawan dalam buku yang dicetak Ombak, Yogyakarta, tahun 2016.

Yusliani pun mengungkap komunikasi interpersonal memerlukan bahasa, oleh sebab itu pemakaian bahasa Melayu berkaitan dengan bahasa Banjar yang menjadi bahasa dagang di Banjarmasin.

“Bahasa Banjar dikategorikan sebagai bahasa Melayu, konsep difusi dari berbagai bahasa seperti; Ngaju, Maanyan, Bukit dan Lawangan, ditambah lagi dengan unsur bahasa Jawa Kuno, Arab dan Persia yang membentuk struktur bahasa Banjar,” demikian hipotesis sejarawan Banjar ini.

BACA : Mengenal Aksara Arab Melayu dan Huruf Jawi

Nah, bahasa Melayu merupakan media yang digunakan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary dalam kitabnya yang terkenal seantero dunia Islam, khususnya di jazirah Melayu, berjudul Sabilal Muhtadin. Ulama Nusantara abad ke-18 asal Kesultanan Banjar ini juga dikenal bagian dari empat serangkai, Syekh Abdus Shomad al-Falimbani (Palembang), Syekh Abdul Wahhab al-Maqassari (Bugis), dan Syekh Abdurrahman al-Mishri al-Batawi (Jakarta).

Kitab Sabilal Muhtadin asli yang ditulisk Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary yang tersimpan di Musuem Lambung Mangkurat Banjarbaru
(Foto Banjarmasin Post)

Nah, kitab yang membumi lainnya adalah Kitab Parukunan (Perukunan) disebut sebagai karya Syekh Arsyad. Hingga kini, populer dengan sebutan “Kitab Perukunan Jamaluddin” atau “Perukunan Fathimah”, yang merupakan salinan salah satu bab dari kitab Sabilul Muhtadin.

Sedangkan, nama Jamaluddin maupun Fathimah yang melekat pada judul kitab Perukunan pada dasarnya “bukan orang lain” dari Syekh Arsyad. Jamaluddin adalah putra Syekh Arsyad sementara Fathimah atau Fatimah, merupakan cucu Syekh Arsyad.

Kitab Perukunan yang berisi resep praktis tatacara shalat pertama kali diterbitkan oleh Mathba‘ah al-Miriyah al-Kainah, Mekkah, pada tahun 1315 H/1897 M. Selanjutnya diterbitkan di Singapura pada tahun 1318 Hijriyah. Setelah itu diulang cetak di Bombay (India), Thailand, Indonesia dan Malaysia. Hal ini menunjukkan Kitab Perukunan sangat berpengaruh bagi masyarakat Islam dunia.

BACA JUGA : Empat Serangkai Tanah Jawi yang Disegani Ulama Tanah Suci (1)

Bahkan, di Nusantara sendiri, Kitab Perukunan telah mengilhami para ulama Nusantara lainnya untuk disadur dan diterjemahkan ke bahasa daerah lainnya. Ambil contoh, Sayyid Utsman al-Batawi, ulama abad ke-19 yang menulis Kitab Babul Minan. Kitab berbahasa Melayu ini sangat masyhur di kalangan masyarakat Betawi dan biasa dijadikan pegangan untuk santri pemula dan kalangan yang baru belajar agama.

Akademisi FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Dr Taufik Arbain mengakui bahasa Melayu yang ditulis dalam aksara Arab-Jawi lewat kitab masyhur seperti Perukunan Jamaluddin dan Sabilal Muhtadin, menjadi bukti kejayaan ulama yang ada di wilayah Kesultanan Banjar.

“Kerajaan Banjar merupakan bagian dari spektrum kerajaan di Nusantara.  Dengan letak strategis dan ekonomi, terutama di masa perdagangan rempah-rempah. Relasi dan interaksi dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca,” ucap Taufik Arbain kepada jejakrekam.com, Kamis (6/5/2021),

Datuk Cendikia Kesultanan Banjar ini menegaskan bahasa Melayu yang digunakan di lingkungan Banua Banjar memiliki kekhasan tersendiri.

“Bahasa Banjar sendiri merupakan bahasa Melayu Tua (Melayu Proto) tentu berbeda dengan Melayu Muda (Melayu Deutero). Sedangkan, dalam persuratan kerajaan digunakan deutreo Melayu, dengan kerajaan pesisir Sumatera, Semanjung Malaya, dan Sulawesi sebagai bahasa diplomasi resmi,” tutur Taufik.

BACA JUGA : Syekh Abdussamad Syahid di Medan Jihad Pattani Kontra Siam (2-Habis)

Makanya, menurut Taufik, pada institusi pendidikan dan pengajaran yang ada di wilayah Kerajaan Banjar yang dikembangkan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary lewat santri dan lembaga pendidikan dan keturunannya, maka dalam menggunakan bahasa Melayu.

“Ada dialek campur bahasa Banjar dalam penulisan kitab berbahasa Melayu. Ini artinya, Parukunan Jamaluddin dan Sabilal Muhtadin telah menjemput zamannya. Sebab, bahasa intelektual di masa itu menggunakan bahasa Melayu. Ini membuktikan kitab-kitab yang ditulis ulama Banjar bisa menembus dunia Melayu atau kosmopolitan di Nusantara,” paparnya.

Doktor jebolan UGM Yogyakarta ini menegaskan banyak karya sastra seperti syair-syair Banjar bercampur bahasa Melayu. Hal ini makin membuktikan ketika bahasa Melayu digunakan justru turut membesarkan Kerajaan Banjar dan Islam Banjar saat pada puncak kejayaan.

“Bahkan, lewat kitab-kitab yang ditulis ulama Banjar berbahasa Melayu menjadi corong dakwah yang bisa menembus belahan dunia lainnya, terkhusus para penutur bahasa Melayu di Nusantara. Begitupula, dalam produk hukum seperti UU Sultan Adam, meski berbahasa Banjar tetap bercampur bahasa Melayu,” katanya.

“Nah, kalau era sekarang, seperti bahasa Inggris yang menjadi bahasa internasional, maka di masa itu bahasa Melayu merupakan bahasa intelektual. Sementara dalam kesehariannya, masyarakat Kerajaan Banjar tetap menggunakan bahasa Banjar sebagai media komunikasi,” pungkas Taufik. (jejakrekam)

Pencarian populer:perukunan melayu
Penulis Rahim/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.