Husairi Abdi

Komplotan Maling Penutup Drainase Ditangkap, Antropolog ULM : Fenomena Penyimpangan Sosial!

0

KOMPLOTAN pencuri fasilitas publik seperti penutup drainase di kawasan Jalan Kuin Utara, Jalan Simpang Anem dan Jalan Kuin Cerucuk dikabarkan telah berhasil dibekuk Polresta Banjarmasin.

INFORMASI ini diungkap  Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banjarmasin, Ikhsan Budiman memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin melaporkan pencurian fasilitas publik ke Polresta Banjarmasin.

Ikhsan Budiman menyebut para pelaku sudah ditangkap polisi. Saat ini, pihak Polresta Banjarmasin tengah mengembangkan kasus itu untuk mengarah ke para penadah dan pihak terlibat lainnya pada Kamis (20/1/2022).

Setali tiga uang, Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Sabana Atmojo Martosumito mengatakan pihaknya telah meringkus komplotan pencuri penutup drainase. Menurut dia, ada tiga pelaku yang telah ditangkap dengan barang bukti berupa penutup drainase yang telah dicuri. Kasus itu akan segera dikembangkan menyasar kelompok lainnya khususnya jadi penadah barang curian.

BACA : Penutup Drainase Jalan Kuin Dicuri, Dinas PUPR Banjarmasin Segera Ganti dengan Papan Ulin

Sementara itu, Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Nasrullah mengatakan sebenarnya polisi sangat mudah untuk membongkar kasus pencurian fasilitas publik. Termasuk, maling ratusan mur di Jembatan Antasan Bromo, penutup drainase di kawasan Kuin dan lainnya.

“Pencurian fasilitas publik seperti mur jembatan, penutup drainase dan lainnya merupakan fenomena deviasi sosial atau penyimpangan sosial. Biasanya pelaku ini merasa bangga dengan komplotan atau kelompoknya berhasil mencuri sesuatu yang berharga dari fasilitas publik, ya semacam mur, penutup drainase dan lainnya,” kata akademisi Pendidikan Sosiologi FKIP ULM ini kepada jejakrekam.com. Jumat (21/1/2022).

Menurut Nasrullah, pencurian benda dari fasilitas publik memang bernilai ekonomis, sehingga hampir bisa dipastikan ada yang penadah dari hasil kejahatan itu.

“Para pencuri ini dikatakan menyimpang dari perilaku sosial masyarakat kebanyakan, ya karena mereka itu tidak berpikir dampak dari benda yang dicuri itu bakal mengancam atau membahayakan orang lain. Apalagi, itu berada di fasilitas publik, seperti jembatan, jalan dan lainnya,” kata Nasrullah.

Antropolog ULM Banajrmasin, Nasrullah. (Foto Dokumentasi JR)

BACA JUGA : Besi Penutup Drainase Hilang, Ruas Jalan Kuin Berlubang Bahayakan Pengguna Jalan

Magister sosiolog dan antropolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengatakan dalam kacamata penyimpangan sosial itu, para pelaku ini pasti memiliki jaringan dan membanggakan hasil curian kepada kelompoknya.

“Pencurian fasilitas publik bukan hanya terpicu masalah ekonomi, tapi memang mereka sengaja bahkan sadar akan perbuatannya. Tapi mereka tetap melakoni itu karena suatu dorongan,” kata Nasrullah.

Bagi pengamat media ini, justru ketika fasilitas publik yang terus dicuri para pelaku yang menyimpang dari normal sosial berlaku, harus gencar diberitakan media massa. Ini demi menyempitkan ruang gerak para penadah, yang menerima barang hasil curian.

BACA JUGA : 196 Mur Jembatan Bromo Raib Digondol Maling Diganti Baru, Dikasih Ring dan Dilas

“Walau pun, para pencuri atau bisa saja komplotan itu bangga karena berhasil mencuri sesuatu yang bernilai, apalagi misalkan ada di fasilitas jembatan seperti Jembatan Antasan Bromo, penutup drainase di kawasan Kuin, atau pernah terjadi pencurian mur dan baut di Jembatan Barito. Dengan adanya pemberitaan di media massa justru ruang gerak mereka akan semakin menyempit,” tutur Nasrullah.

Berbeda dengan kleptomania atau klepto yang merupakan kebiasaan suka mencuri atau mengutil, ditegaskan Nasrullah tidak sama dengan deviasi sosial. Menurut dia, kebanyakan orang yang mengalami gangguan klepto terkait dengan kesehatan jiwa, sehingga dorongan untuk mengutil atau mencuri itu bisa kambuh, bisa saja dilakukan dalam keadaan tak sadar.

BACA JUGA : Polisi Tangkap Empat Tersangka Pencuri Besi Jembatan di Kabupaten Banjar

“Ke depan, Pemkot Banjarmasin bisa saja memasang kamera pengawas atau pengintai (CCTV) di Jembatan Antasan Bromo atau fasilitas publik demi menjaga aset.  Kemudian, bisa juga mengganti dengan benda yang tidak memiliki nilai ekonomis tinggi. Maklum saja, penutup drainase atau mur jembatan tentu harganya tinggi di pasaran, apalagi ada komplotan lengkap dengan para penadahnya,” pungkas Nasrullah.(jejakrekam)

Penulis Iman Satria/Asyikin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.