Husairi Abdi

Gelar Malam Puisi Ramadhan, 10 Penyair Kalsel Tampil Live di Taman Budaya

0

UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan menggelar malam puisi bersama 10 Penyair Banua dalam program bertajuk “Pesona Seni Ramadhan” di Gedung Balairung Sari, Banjarmasin.

PAGELARAN secara live streaming ini mengundang penyair lintas daerah, seperti Micky Hidayat, YS Agus Suseno, Ali Syamsudin Arsi, Fahmi Wahid, Hudan Nur, Oka Miharzha S, Buya Al-Banjari, Fatimah Adam, Hajriansyah dan Ibramsyah Amandit.

Pembukaan acara diawali dengan musikalisasi puisi oleh Kampoeng Seni Boedaja (KSB) dengan membawakan karya sastrawan Hijaz Yamani berjudul Do’a. Sekitar 5 menit, mereka menampilkan teatrikal dengan sosok perempuan yang tengah menari dalam kain putih, beserta tangkai-tangkai pohon yang berserakan di sekitarnya.

Sementara pemainnya, terdiri dari 7 orang, 4 laki-laki memegang alat musik gitar, bass, drumbox (cajon) dan 3 perempuan sebagai backing vocal. Adapun acara inti kali ini, para penampil pertama diisi 4 penyair yakni Hajriansyah dengan membawakan judul puisinya: Malam Beribu Cahaya, yang selanjutnya disusul oleh Hudan Nur dengan judul puisinya Ruhuna Fatiha: Ruhuna Fatiha: Tidak Ada Itu Lisan Dibawa Angin Tulisan Abadi Bila Tsunami Hari Esok Menenggelamkan Karena Semua Akan Mati

Lalu, Fahmi Wahid membawakan judul puisinya: Telaga Ramadhan, dan puisi kedua dari karya sastrawan Boerhanuddin Sobely berjudul: Malam Seribu Bulan. Sementara, deklamator angkatan 80an yakni Fatimah Adam membawakan puisinya berjudul: Siapa Aku Siapa Kamu Di Ramadhan Ini.

BACA : 47 Penyair Lintas Tiga Negara, Semarakkan Hari Puisi Internasional

Selanjutnya, penampil kedua diisi 3 penyair yakni Ali Syamsudin Arsi membawakan judul puisinya: Menanam Tubuh di Laut Dalam. Dan pembaca kedua oleh Buya Al-Banjari dengan puisinya berjudul: Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar. Sementara, Oka Miharzha S dengan judul puisinya: Aku Manusia Pelupa. Puisi keduanya yang dibawakannya dari budayawan Emha Ainun Nadjib berjudul: Puasa di Dunia Global.

Dan penampil terakhir diisi 3 penyair yakni Micky Hidayat membawakan judul puisinya: Ramadhan dan puisi kedua, karya presiden penyair Indonesia yakni Sutardji Calzoum Bachri berjudul: Ramadhan. Dipengujung acara, pembacaan puisi oleh budayawan YS Agus Suseno dengan judul puisinya: Malam Lailatul Qadr dan Hidup Jangan Mahawa-hawa, Syukuri Nang Ada (Puisi Bahasa Banjar).

Dan penampil terakhir oleh penyair sufistik yakni Ibramsyah Amandit dengan judul puisinya: Di Bawah Bayang 1000 Bulan dan Ya Tuhan. Sebagai penutup acara itu, musikalisasi puisi kembali dari sanggar KSB dengan karya puisi Micky Hidayat berjudul: Telah Kuhapus Kata-kata.

Acara yang diprakarsai oleh UPTD Taman Budaya ini, Yanti menyerahkan tanggungjawab dalam pagelaran sastra ini kepada sastrawan Micky Hidayat bersama timnya, yakni Hajriansyah dan M Rahim Arza.

“Sebenarnya acara sastra semacam pembacaan puisi pada momentum bulan suci Ramadhan mulai marak diadakan di Kalimantan Selatan sejak awal 1980-an,” ungkap sastrawan Micky Hidayat kepada jejakrekam.com, Senin (3/5/2021) siang.

BACA JUGA : Rekam Profil Sastrawan Lokal Periode 1930-2020, Micky Hidayat Rilis Buku Leksikon Penyair Kalsel

Lanjut, menurut penyair angkatan 85 ini berpandangan bahwa kegiatan tahunan di bulan Ramadhan yang secara rutin dilaksanakan oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Kalsel tersebut sempat pula mengalami pasang-surut, stagnasi atau kevakuman, “Namun tradisi baca puisi Ramadhan ini terus berlanjut, dan walaupun dengan nama beda, tetapi masih dalam tema yang sama, yakni pembacaan puisi-puisi Ramadhan,” ujarnya.

Ambil contoh, kata Micky, misalnya event sastra bertajuk “Tadarus Puisi” yang secara rutin dipergelarkan setiap tahun pada momentum bulan Ramadhan di kota Banjarbaru, dan dimulai sejak awal tahun 2000-an. Dalam dua tahun terakhir ini, kata dia, sejak pandemi Covid-19 melanda negeri ini yang juga turut mewabah di Kalimantan Selatan.

“Faktor itu tak terkecuali juga ikut mewabah di Kalsel, kegiatan semacam Tadarus Puisi di Kota Banjarbaru praktis terhenti.Tahun 2021 ini, atas prakarsa UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, kembali tradisi baca puisi di malam Ramadhan diselenggarakan dengan melibatkan sejumlah penyair dari berbagai kabupaten dan kota di Kalsel,” ungkap penyair berjuluk Mata Elang itu.

BACA JUGA : Mengimpikan Penyair Perempuan Banua dengan Karya Berkualitas

Paling tidak, menurutnya, kegiatan sastra di bulan Ramadhan dan dalam situasi pandemi Covid-19 ini adalah suatu upaya para sastrawan/penyair untuk menunjukkan eksistensinya, dan bahwa mereka masih terus bisa berkarya serta mengekspresikan kreativitasnya di panggung pembacaan puisi dan musikalisasi puisi.

“Melalui pembacaan puisi dalam momentum Ramadhan ini oleh para penyair juga dimaksudkan untuk merenung,  merefleksikan, dan merespons situasi terkini dan berbagai persoalan sosial, ekonomi, hukum, dan politik negeri ini,” ujar pria kelahiran 1952.

Harapan untuk generasi penyair di Kalsel, Micky menuturkan, bahwa memahami makna kepenyairan haruslah bersungguh-sungguh dalam menulis puisi, dan tidak main-main ketika menuliskan apa itu puisi?

“Kalau kalian memang benar-benar ingin menjadi penyair, maka jadilah penyair yang serius. Jangan bermain-main dengan penyair dan kepenyairan. Tulislah puisi dengan serius, jangan bermain-main dengan puisi, sehingga karya kalian tak sekadar puisi-puisian. Itu saja,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Rahm Arza
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.