Potensi Kader Beringin ke Lain Hati Diungkap Pengamat Politik Masih Terbuka di Pilwali Banjarmasin

0 828

ELITE DPP Partai Golkar mengeluarkan ancaman, usai merilis surat keputusan (SK) rekomendasi yang diteken Ketua Umum Golkar Airlangga Hartanto dan Sekjen Lodewijk F Paulus nomor SKEP-210/DPP/GOLKAR/VIII/2020, tertanggal 19 Agustus 2020, berlaku bagi kader beringin.

DALAM surat tersebut DPP Golkar menetapkan pasangan calon Walikota-Wakil Walikota Banjarmasin Ananda dan Mushaffa Zakir.

“Keputusan ini bersifat final dan mengikat bagi seluruh jajaran pengurus, fungsionaris, kader dan anggota Partai Golkar,” demikian butir surat pengesahan calon Walikota-Wakil Walikota Banjarmasin yang didapat jejakrekam.com, Rabu (19/8/2020).

Keputusan ini diambil petinggi Golkar pusat ini berdasar hasil rapat pilkada pusat tanggal 29-30 Juni 2020 dan 2 Juli 2020. DPP Partai Golkar menugaskan DPD Partai Golkar Banjarmasin untuk mendaftarkan calon yang sudah ditetapkan ke KPU Banjarmasin.

BACA : Golkar Jagokan Gusti Iskandar-Iwansyah Incar Kursi Walikota-Wakil Walikota Banjarbaru

Bahkan, DPP Golkar pun mengancam bagi yang bertentangan dengan keputusan partai akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan organisasi yang berlaku.

Apa ada dengan DPP Partai Golkar? Pengamat politik FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Setia Budhi menilai nada ancaman sebenarnya dapat dipandang serius atau pun juga sebagai narasi kegamangan DPP Partai Golkar dalam menyikapi konstelasi politik Pilkada Kota Banjarmasin.

“Tentu saja, dapat dengan mudah dilihat bagaimana kader partai yang kini menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kota Banjarmasin H Yuni Abdi Nur Sulaiman ‘tidak dianggap’ sebagai kader potensial dan aset masa depan,” papar Setia Budhi kepada jejakrekam.com, Rabu (26/8/2020).

BACA JUGA : DPP Golkar Ancam Tak Dukung Ananda-Mushaffa Zakir di Pilwali Banjarmasin 2020 Disanksi

Mengapa peluang Ketua Golkar Kota Banjarmasin, H Yuni yang merupakan putra tokoh Banua, almarhum HA Sulaiman HB digergaji? Setia Budhi justru melihat hal ini berkelindan bahwa arus bawah yang menginginkan putra tokoh Golkar, Haji Leman itu memang sengaja ditelingkung pencalonannya.

“Ya, hanya disebabkan dan berdasarkan gagal menduetkannya dengan Sekdaprov Kalsel Abdul Haris Makkie,” cecarnya.

Jadi, beber Setia Budhi, ancaman DPP Partai Golkar dapat dibaca penyebabnya, yaitu belum bulatnya suara di kalangan pengurus Golkar Kota Banjarmasin bahkan elite DPD Partai Golkar se-Kalsel terhadap pencalonan Hj Ananda.

“Publik berharap bahwa DPP Partai Golkar tidak mempunya kesimpulan yang keliru terhadap perjuangan Partai Golkar di Kalimantan Selatan yang selalu berada di puncak perolehan suara dalam pemilu sejak awal reformasi,” ujar doktor lulusan University Kebangsaan Malaysia ini.

BACA JUGA : Aklamasi, H Yuni Gantikan Hj Ananda Pimpin Golkar Banjarmasin

Menurut Setia Budhi, potensi pindah ke lain hati bagi kader beringin bisa saja terjadi dalam Pilwali Banjarmasin 2020. Sebab, papar dia, tidak mudah untuk melupakan nama besar HA Sulaiman HB atau akrab disapa Haji Leman yang membesarkan partai ini di tengah gelombang reformasi.

“Maksudnya adalah DPP Partai Golkar tentu mempelajari rekam jejak pengurus Partai Golkar, siapa saja yang baru datang kemarin sore ataupun yang selama ini terus berjuang bersama dari titik nol hingga hari ini,” ungkap Setia Budhi.

Namun, kata dia, dalam alam demokrasi ini, nada ancaman memang sudah jarang terjadi, apalagi peran DPP Partai Golkar untuk melakukan konsolidasi internal terhadap DPD belum juga kunjung selesai. Hal ini sebabnya nampak tidak muncul soliditas mesin partai ketika tiba waktunya perhelatan pilkada, baik Pilwali Banjarmasin maupun Pilgub Kalsel.

“Secara struktural mungkin saja ancaman itu berlaku efektif bagi pengurus partai. Tetapi  apakah hal itu juga berlaku untuk basis massa ? Tentu saja pemilih Banjarmasin akan lebih cerdas memilih antara politik untuk kekuasaan dan kekuasaan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat,” analisis Setia Budhi.

BACA JUGA : PKS-PAN Kompak Berkoalisi di Pilwali Banjarmasin, Ananda Klaim DPP Golkar Beri Lampu Hijau

Maka, masih menurut dia, bukan tidak mungkin ketika H Yuni putra H Leman tidak direspon DPP Partai Golkar. Praktis, sejarah akan mencatat basis massa dukungan akan pindah ke lain  hati.

“Satu-satu yang mungkin dan potensial adalah bassis massa Partai Golkar itu akan mendukung kubu petahana,” imbuh ethographer FISIP ULM ini.(jejakrekam)

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.