ACT

Agar Tak Stres Corona, Antropolog ULM Sarankan Jaga Jarak Bermedia Sosial

0 85

SAAT ini, kita sedang berada di tengah ledakan berita atau informasi tentang wabah Covid-19. Ada yang benar dan sebaliknya ada pula hoaks atau berita palsu.

“CELAKANYA perkara hoax atau hoaks tersebut menjadi samar dengan yang hak, terasa benar tapi seperti ada yang tidak wajar. Terlebih lagi kalau orang suka membaca gejala sakit seperti Corona,” ucap pengamat media dan antropolog FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Nasrullah kepada jejakrekam.com, Rabu (8/4/2020).

Menurut dia, akibat semakin sering membaca terbentuklah mind set yang dengan mudah memanggil memori atau ingatan tentang gejala tersebut.

“Maka yang terjadi pikiran kita segera memvonis apa yang terjadi pada gejala yang dialami tubuh seolah-olah Corona, maka bisikan dalam diri sendiri muncul “jangan-jangan Corona,” “jangan-jangan Corona”, “apakah ini Corona” lambat laun diri kita sendiri, memvonis Corona bukan dokter yang berwenang secara ilmiah,” papar alumni S2 Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

BACA : Panik Corona Bisa Memicu Perubahan Sosial Masyarakat

Dosen muda Pendidikan Antropologi-Sosiologi FKIP ULM ini membaca terjadi fenomena stres gara-gara adagium jangan-jangan karena Corona tersebut.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Nasrullah menyarankan agar kita fokus menjaga kekebalan tubuh dengan berolahraga dan mengikuti petunjuk sehat dari dokter atau pemerintah.

“Lakukan jarak bermedia sosial, terutama membaca artikel-artikel yang tidak jelas asal usul sumbernya, apalagi ada wasiat di bagian akhir “segera share atau bagikan kepada teman anda demi kebaikan kita semua,” tuturnya.

BACA JUGA : Saat Istilah Asing Viral Di Tengah Wabah Corona Dinatularisasikan Ke Bahasa Daerah

Nasrullah menyarankan jika ingin membaca artikel sebaiknya percayakan kepada media cetak atau online yang sebagai sumber berita utama.

“Jika ada istilah yang viral sekarang social distancing atau physical distancing (jaga jarak aman sosial dan fisik), maka bisa juga diberlakukan jaga jarak bermedia sosial (media social distancing),” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.