Bedah Buku Berumur Ratusan Tahun, Ternyata Ada Silsilah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

0

USAI melakoni penelitian selama tiga tahun oleh Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin, kini buku bertulis tangan berumur ratusan tahun itu dibedah.

DIALOG buku lawas milik Swadharma, warga Pekauman, Banjarmasin itu digagas oleh Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin dihelat di Rumah Alam Sungai Andai, Banjarmasin, Rabu (19/10/2022).

Dalam buku itu, ada tertulis silsilah Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kelampayan. Dengan alasan itu, akhirnya pemilik menyerahkan buku untuk kemudian diteliti oleh lembaga berkompeten.

Ketua Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Antasari, Fathullah Munadi mengatakan dalam penelitian memang ada beberapa asumsi yang muncul, bahwa orangtua Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah seorang Tionghoa yang muallaf dalam naskah tersebut.

BACA : Pengusulan Pahlawan Nasional, Syekh Muhammad Arsyad Dulu, Baru Pangeran Hidayatullah

“Tetapi itu perlu penguatan-penguatan dari naskah lain yang kira-kira mendekati dengan cerita ini,” ucap Fathullah Munadi.

Mengapa demikian? Menurut dia, jarak penulis dengan cerita yang dituliskan itu cukup jauh, yakni terpaut lima generasi. “Jadi, kita perlu kajian baru atau naskah baru yang dihadirkan supaya kita bisa menjelaskan kembali,” kata dosen humaniora keislaman UIN Antasari ini.

BACA JUGA : Gelar Al Banjary dan Budaya Lokal dalam Ijtihad Syekh Muhammad Arsyad

“Kalau kami di kajian naskah, tentunya akan coba mencari di mana kira-kira naskah lainnya bisa ditemukan. Biasanya, kalau naskah tunggal selalu ada sesuatu yang menginspirasinya, dia tidak akan tunggal saja,” beber Fathullah.

“Karena kita tidak hidup di zaman itu, maka sangat terbuka untuk didiskusikan ketika ada temuan naskah seperti itu,” sergah Pembina LK3 Banjarmasin Nurholis Majid. Ini karena Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah seorang tokoh yang besar, wajar saja menjadi bahan diskusi, perdebatan bahkan menjadi ranah untuk saling mengklaim.

BACA JUGA : Berbekal Ranjang dan Cermin, Syekh Muhammad Arsyad Pinang Ratu Aminah

“Sebagai masyarakat yang berpendidikan maka kita mesti membuka ruang atas temuan-temuan terkait Datu Kelampayan. Secara literasi sangat penting agar orang seperti ini terus dibicarakan, kalau kita sudah setop pada sesuatu yang sudah final maka berhentilah pembicaraan terhadap ulama besar ini,” imbuh mantan Kepala Perwakilan Ombudsman Kalsel ini.

Peserta dialog saat membahas soal buku berumur ratusan tahun yang dibedah para peeliti dari UIN Antasari Banjarmasin. (Foto Iman Satria)

Masih kata Majid, LK3 Banjarmasin melihat hal itu sangat membuka pengetahuan. Ini agar bisa keluar dari frame tentang misalnya ada era di mana orang sentimen terhadap Cina (Tionghoa) dan segala macamnya. “Karena pada masa itu bisa jadi ada hubungan yang kuat antara Kesultanan Banjar dengan Tiongkok,” ucap Majid.

BACA JUGA : Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi

Dengan demikian, beber dia, kemungkinan ada pertalian, bukan saja hubungan kerja sama tapi pertalian darah yang erat pula. “Kami ingin pembicaraan ini akan terus dilanjutkan dan membuat diskusi atau seminar yang lebih besar lagi yang dihadiri tokoh-tokoh yang representatif, sehingga dipandang sebagai suatu ilmu,” papar Majid.

Sementara itu, pemilik buku kuno berumur ratusan tahun itu, Swadharma mengatakan ternyata ada penulisan silsilah keluarga yang ada hubungannya dengan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

BACA JUGA : Mengenal Metode Instinbath yang Digunakan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

“Tentu hal ini, menarik untuk dibahas. Tadinya buku ini hanya disimpan keluarga saja. Kemudian, jatuh ke tangan saya. Kemudian, saya berkeinginan untuk membuktikan kebenaran buku ini,” kata Swadharma.

Walhasil, buku itu kemudian diserahkan guna diuji secara ilmiah. Terutama, silsilah keturunan nama-nama Tionghoa dalam buku ini tidak ada masalah. “Nah, kalau urutan nama-nama keluarga Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, sebenarnya kami tidak tahu, karena nama Tionghoa sudah tidak digunakan,” ucap Swadharma.

“Yang menulis buku ini telah meninggal dunia pada tahun 1953. Umur saya sekarang 75 tahun, andaikan ayah saya yang ditulis di buku itu berumur 25 tahun saja ketika saya lahir. INi artinya buku itu sudah berumur 100 tahun,” beber Swardharma.

BACA JUGA : Sungai Tuan, Karya Besar Tuan Syekh Muhammad Arsyad

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Ukhuwah Angkatan Muda Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Muhammad  Deny yang juga hadir dalam dialog tersebut membenarkan keterkaitan ini dengan Tionghoa.

“Nenek Datu Kelampayan yang memang dari etnis Tionghoa. Semuanya masih tercatat, dan kita masih juga mencari garis keturunan yang belum tercatat,” ucap Deny.

Peserta diskusi dan dialog usai acara berfoto bersama di Rumah Alam Sungai Andai, Banjarmasin. (Foto Iman Satria)

Dirinya menilai dialog gelaran LK3 Banjarmasin sangat bagus guna mencari keterkaitan antara Datu Kalampayan dengan Tionghoa. Sepengetahuan Denny, memang dari dulu ada penyebutan nama Tionghoa,  namun setelah muslim diperkirakan penyebutan itu sudah tidak dipakai lagi.

BACA JUGA : Islam di Nusantara Tak Lepas dari Pengaruh Ulama Banjar Syekh Arsyad Al Banjari

“Semoga saja naskah lainnya bisa ditemukan lagi. Karena dalam naskah yang ada ini terputus di Datu Abdullah, ayah dari Datu Kelampayan dengan nama Tionghoa Pang Ban Tian, lalu diisi dengan nama anak bertuliskan Muhammad Rasyad yakni Datu Kelampayan, turun lagi ke bawah yakni Datu Jamaludin,” tutur Denny.

Dia mengajak untuk menggali lebih dalam lagi keterikatan silsilah Datu Kelampayan dengan etnis Tionghoa.

BACA JUGA : Ersis Sebut Muhammad Arsyad Al-Banjari ‘Datu Literasi Banjar dan Nasional’

Sementara itu, Pengasuh Majelis Al Mahabbah Kubah Basirih, Habib Fathurrahman Bahasyim mengaku dialog itu sangat fenomenal. Sebab, banyak hal yang perlu digali dan didalami oleh para peneliti.

“Semua pihak yang punya wewenang harus turut menggali hal ini, bahkan pemerintah harusnya turun tangan untuk memfasilitasi tindak lanjut dari penemuan naskah ini. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman di tengah masyarakat,” imbuh Habib Fathur.(jejakrekam)

Penulis Iman Satria
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.