Sungai Tuan, Karya Besar Tuan Syekh Muhammad Arsyad

0

ULAMA besar Tanah Banjar ini selalu dikenang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bahkan, namanya pun kini diabadikan sebagai salah satu nama perguruan tinggi. Namanya pun harum berkat kitab fiqih bermazhab Imam Syafi’i yang terkenal seantero dunia muslim, Kitab Sabilal Muhtadin.  Ternyata, sosok Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary pun bukan hanya seorang faqih dan mufti, ulama besar ini juga ahli dari teknologi terapan di masanya.

SYEKH Muhammad Arsyad Al-Banjary di masa Sultan Tahlilullah (1700-1734) diangkat menjadi anak dan dididik di lingkungan istana Kesultanan Banjar di Martapura.  Arsyad muda pun kemudian dikirim ke Tanah Suci Makkah dan pusat-pusat ilmu Islam untuk memperdalam ilmu dinul yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Sekembali dari Makkah, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary kemudian mendirikan sebuah tempat pengajian atau pusat dakwah yang bernama Dalam Pagar selama 20 tahun. Beliau adalah sosok pendiri sekaligus pengajar pertama pola pendidikan ala pondok pesantren seperti sekarang.

Disamping mengajar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary juga menulis kitab-kitab agama. Sebuah karya terbesar adalah Kitab Sabilal Muhtadin Lit Tafaguni Fid Din, yang terdiri dari dua jilid. Kitab ini ditulis atas permintaan Sultan Tahmidullah, yang ditulis dalam bahasa Melayu dimulai tahun 1193-1195 H (1779-1780 Masehi) dan baru dicetak pada tahun 1300 H (1882 M) di Turki Istambul, Kairo, dan Makkah.

“Beliau saat itu menjabat Mufti Kesultanan Banjar. Nah, Kitab Sabilal Muhtadin menjadi rujukan dalam memutuskan persoalan hukum agama Islam. Ditulis dalam bahasa Melayu dengan kutiban bahasa Arab dan Aceh,” ujar peneliti Al-Banjary, Adhi Surya Said kepada jejakrekam.com, Minggu (28/1/2018).

Staf pengajar program studi teknik sipil Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsya Al-Banjary (Uniska MAB) ini mengungkapkan ternyata sosok Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari, bukan seorang mufti besar yang ahli dalam sendi-sendi ilmu Islam.

“Ternyata, beliau adalah ulama besar yang juga seorang insinyur yang menguasai ilmu falakiyah. Salah satu peninggalan beliau berupa karya teknis sodetan saluran dari Sungai Martapura yang dinamai Sungai Tuan. Sodetan sungai buah tangan ulama besar ini sepanjang kurang lebih 8 kilometer, mulai hulu Sungai Martapura pertemuan Riam Kiwa dan Riam Kanan sampai ke Dalam Pagar atau Sungai Martapura Hilir,” papar jebolan Institus Teknologi Bandung (ITB) ini.

Dari karya ilmiah dan diterapkan dengan teknologi sederhana ketika itu, Adhi Surya begitu paham betul kapan harus menyodet atau membuat saluran. Terutama, dengan melihat terjadinya air pasang dan surut pengaruh bulan penuh dalam ilmu falak. “Beliau menarik garis lurus dengan ilatung (sejenis tongkat rotan) dari matahari terbit sampai matahari terbenam (dari timur ke barat),” ujar Adhi.

Nah, menurut penggiat Lembaga Adat Kebudayaan Banjar (Lakban) ini dalam ilmu teknik sipil, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary melakukan pengukuran dan melihat kapan pasang air yang maksimal, baru dilakukan tabukan atau membuat garis. “Ya, mengikuti arah matahari terbit ke tenggelam. Sehingga jadilah Sungai Tuan yang mengaliri dua Kampung  Tuan dan Kampung Sungai menjadi Kampung Sungai Tuan,” beber Adhi Surya.

Sedangkan, Tuan yang dimaksud adalah Tuan Haji Besar Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary. Mengapa? Menurut Adhi Surya, mayoritas yang tinggal di Sungai Tuan adalah zuriat dari Tuan Palung salah satu istri Tuan Haji Besar Syech Muhammad Arsyad Al Banjary.

“Nah, fungsi teknis Sungai Tuan ini dibuat untuk mengalirkan air bagi persawahan, perkebunan dan pertanian yang dikenal dengan sistem irigasi. Sebab, peradaban Banjar terkenal dengan budaya sungainya, tentu pada saat itu alat transportasi satu satunya adalah perahu atau jukung,” papar Adhi Surya.

Dalam literature dan bukti fisik yang ada, jukung yang dikenal dahulu terbuat dari kayu ulin yaitu jukung sudur.  Sementara, rumah dan Ponpes Dalam Pagar terletak di pinggir hilir Sungai Martapura di seberang Istana Sultan Banjar.  “Sementara, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary mendapat hadiah dari Sultan Banjar sebidang tanah dan hutan yang kelak akan didirikan pusat dakwah agar ada penerus dakwah. Pembiayaan pusat dakwah didapatkan dari hasil pertanian, perkebunan dan persawahan yang dibuat oleh Insinyur Haji Besar M Arsyad Al Banjary,” kata Adhi Surya lagi.

Dalam hasil penelitian dosen teknik sipil ini, terungkap Sungai Tuan berfungsi sebagai sistem pengendali banjir.  Menurut Surya Adhi, sejak k 200 tahun masehi yang lalu,  Martapura lama sering banjir.  Oleh sebab itu, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary melihat bahwa Sungai Martapura tidak ada tempat penyaluran keluar, karena kangsung aliran air dari hulu ke hilir.

“ Dengan adanya sodetan saluran Sungai Tuan, maka aliran Sungai Martapura bisa dipecah. Sebagian bisa masuk ke irigasi Sungai Tuan. Dalam ilmu teknik sipil, teknik semacam ini bisa mengurangi debit alirannya dengan membuat saluran baru. Sehingga air yang  tadinya 100 persen bisa dikurangi menjadi 60 hingga 50 persen,” kata Adhi Surya.

Dalam penelitian Adhi Surya Said bersama tim kecilnya pun mengakui agak kesulitan ketika harus menyerap ilmu falakiyah, karena selama di lapangan sangat susah menemukan orang yang memahami dan terampil seperti Insinyur Tuan Haji Besar Maulana Muhammad Arsyad Al-Banjary.

“Sekarang, di zaman now, ada GPS, ada satelit peta, ada excavator yang komplit dalam menerapkan metode sodetan air. Bandingkan di zaman dulu, yang hanya menggunakan ilmu falakiyah dan alat tongkat ilatung bisa menjadi Sungai Tuan, Astambul, Martapura di Kabupaten Banjar. Nah, inilah mahakarya seorang Datu Kalampayan yang masih bisa saksikan dan dinikmati di lapangan,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis : Didi GS

Editor   : Didi G Sanusi

Foto      : Istimewa

 

Pencarian populer:Datu Palung

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.