Diduga Memuat Silsilah Datu Kalampayan, PITI Kalsel Serahkan Buku Berumur Ratusan Tahun

0

PERSATUAN Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kalimantan Selatan, menyerahkan sebuah buku yang bertuliskan tangan yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun.

BUKU yang sudah dimakan usia itu, diserahkan pemiliknya Swadharma warga Pekauman Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin yang didampingi Ketua PITI Kalsel H Winardi Suthiono kepada Pusat Penelitian UIN Antasari, di Rumah Alam Sungai Andai, Rabu (27/7/2022).

Winardi Suthiono mengatakan, buku yang kami serahkan kepada pihak UIN Antasari untuk diteliti. “Kemungkinan silsilah Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan,’ ujarnya.

“Selama ini kan pihak UIN Antasari juga melakukan kajian tentang Islam Tionghoa yang ada di Kalimantan Selatan, sehingga kesempatan itu yang kita ambil untuk meneliti buku yang sudah berusia ratusan tahun itu yang diduga silsilah Datu Kalampayan,” ujarnya.

BACA: Kisah Tabib Tha Sin; Pembauran Tionghoa dan Islam di Tanah Banjar

Masih menurut pengusaha advertising ini, dari pengakuan pemilik buku bahwa yang menulis buku itu sudah wafat pada tahun 1953, berarti sudah hampir 70 tahun. “Nah, yang menulis buku itu tadi dia pada usia berapa?” bebernya.

“Untuk mengetahui itu, maka nanti pihak UIN Antasari akan melakukan penelitian , apakah juga nanti dalam buku itu ada tertulis silsilah Datu Kalampayan, sebab sampai saat ini silsilah Datu Kalampayan itu masih simpang siur. Ada yang mengatakan dari India, Yaman, Philipina, Arab dan sebagainya, ” ujarnya.

“Semoga dengan izin Datu Kalampayan, beliau berkenan bisa ditemukan kebenaran tentang silsilah beliau,” ujarnya.

Sementara itu, Swadharma pemilik buku menceritakan, buku itu ditulis oleh adik kakeknya bernama Phang You Fhu yang telah wafat tahun 1953.

“Penulis buku itu dua bersaudara. Yang satu beristri orang Tionghoa, dan yang lain beristrikan orang Kalteng dan memiliki tiga anak,” ujarnya.

Dengan beristrikan orang Kalteng, maka penulis buku ini banyak mempunyai keluarga di Marabahan, tetapi dalam buku itu hanya nama anaknya saja yang dicantumkan.

“Pada tahun 1973 di daerah Pakauman terjadi kebakaran, tetapi entah kenapa kotak yang berisi buku itu tidak terbakar, sedangkan kotak yang berisi uang hangus terbakar, padahal posisi kotaknya berdekatan,” bebernya.

“Terkait hal itu, mengingat saya ini ahli waris turunan ke 10 dari keluarga kami, maka buku itu saya simpan dan hari ini saya serahkan kepada UIN Antasari untuk diteliti,” ungkapnya.

BACA JUGA: 4 Kontribusi Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari bagi Nusantara

Sedangkan terkait bahwa buku itu ada kemungkinan tertulis Silsilah Muhammad Arsyad Al-Banjari, Swadharma pun mengatakan, leluhurnya dari Tionghoa yang datang ke Banjarmasin waktu itu ada 4 orang.

Dari 4 leluhur itu, salah satunya melahirkan 2 anak, yakni Phang Banto dan Phang Bangtian yakni Panglima Minting atau Abdullah.

“Nah, mengingat Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan itu ayah beliau bernama Abdullah, apakah Abdullah ini Phang Bangtian atau Panglima Minting itu Ayah beliau yang merupakan leluhur kami, bebernya.

Untuk membuktikan itu, maka pihak dari UIN Antasari meneliti kebenarannya, sehingga terungkap dari mana silsilah Muhammad Arsyad Al-Banjari yang merupakan ulama besar itu,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.