Kisah Tabib Tha Sin; Pembauran Tionghoa dan Islam di Tanah Banjar

0

Oleh : Humaidy Ibnu Sami

PROSES migrasi Cina atau Tionghoa dari Tiongkok ke Tanah Kalimantan, tidak saja datang berombongan. Namun, mereka datang beberapa gelombang atau diangkut penjajah Belanda untuk dipekerjakan. Namun, ada pula tiba secara perorangan untuk menyebarkan Islam.

KETIKA periode awal kedatangan Cina ke Kalimantan, saat  Dayak dan Banjar belum terbentuk, masih dalam proses, Tabib Tha Sin adalah salah satu dari orang Tionghoa yang berlaku demikian. Tercatat dalam buku Hikayat Tabib Tha Sin karya Yusliani Noor bahwa penyebaran Islam ke Cina lebih dahulu daripada penyebaran Islam ke Nusantara, sehingga tidak mustahil terdapat mubaligh atau pendakwah Cina sudah sebagai da”i atau ulama.

Tabib Tha Sin adalah salah satu ulama Cina yang mengembara dari Tiongkok lalu ke Bukhara dan Samarqan, kemudian terus ke Nusantara hingga sampai ke Kalimantan dan bermukim serta berkahwin di Martapura.

Di dalam buku Hikayat itu, Habib Tha Sin bukan berjasa dalam menyebarkan Islam, tapi juga ia berjasa mengajarkan ilmu bela diri dan ilmu pengobatan. Ilmu bela diri tradisional Dayak dan Banjar seperti Kuntao, Kuntao Bangkui, Dendeng, Pancar Lima, Cempedeh adalah berasal dari Tabib Tha Sin ini yang sudah mengalami pengembangan sehingga sama lagi dengan aslinya ketika di Tiongkok.

BACA : Jung dan Lada, Tionghoa dalam Catatan Sejarah Banjar

Kemudian pada awal abad ke-18, informasi dari sumber komunitas Cina menyatakan bahwa Abdullah (Kiyai Macatin) ayah Syekh Mhammad Arsyad Al-Banjary (Datu Kalampayan) adalah seorang Cina bermarga Phang bernama Phang Bon Tian bin Phang Kioe Ci bin Phang Tje. Kalau ini benar, betapa besar peranan komunitas Cina dalam proses Islamisasi di Kalimantan terutama di wilayah Kesultanan Banjar.

Suasana pekampungan Martapura di era Kesultanan Banjar dan kolonial Belanda. (Foto KITLV Leiden)

Lebih-lebih lagi, pada pertengahan abad ke-18 sampai abad ke-19, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary bin Abdullah sangat berperan penting di kesultanan dan masyarakat Banjar dalam membangun institusi Islam seperti lembaga hukum (Karapitan Kadi) dan lembaga pendidikan (Dalam Pagar) untuk pendalaman agama dan segenap manifestasinya.

Semakin tampak, peran penting dari orang yang punya garis kekerabatan dengan Cina. Apalagi kemudian Syekh Arsyad Al-Banjary mengawini perempuan Cina bernama Gwat Nio. (Go Heat Nio) bin Kapten Kodok.

BACA JUGA : Peran dan Kiprah Tionghoa Banjar Dalam Lintasan Sejarah

Perkawinan ini, bagi pihak Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary semakin memperkuat dan memperluas kekerabatannya dengan komonitas Cina. Sebaliknya, juga bagi pihak komunitas Cina semakin mempermulus proses pembauran. Bisa jadi tiada tiadanya konflik terbuka antara komunitas Cina dengan etnis Dayak dan Banjar sepanjang sejarah Banjar, salah satunya karena terjalinnya kekerabatan ini.

Hasil dari perkawinan Syekh Arsyad Al-Banjari dan Gwat Nio, melahirkan enam anak yakni Asiah, Khalifah Hasanuddin, Khalifah Zainuddin, Raihanah, Hafsoh dan Mufti Jamaluddin. Dari enam anak itu, ada 4 yang menyebarkan anak, cucu dan zuriyat yang hebat. Sebut saja, Asiah, Khalifah Hasanuddin, Khalifah Zainuddin dan Mufti Jamaluddin banyak menurunkan zuriyat yang alim-alim yang tersebar di seluruh Kalimantan bahkan sampai ke Riau, Sumatera dan Serawak Malaysia.

BACA JUGA : Hikayat Dua Klenteng Besar, Identitas Etnis Tionghoa Banjar

Aktivitas perahu dagang dan penginapan terapung di Sungai Martapura era kolonial Belanda (Foto KITLV Leiden)

Begitu pula, umpama Qadi H Mahmud dan Syaikh Salman Farisi dari keturunan Asiah. Berikutnya, Mufti M. Khalid, Tuan Guru H. Anang Sya’rani Arif, Tuan Guru H. M. Zaini Ghani  dari jalur Khalifah Hasanuddin. Sementara,  Datu Landak, Tuan Guru H. Ismail Khatib,Tuan Guru H Abdurrahman Ismail, Tuan Guru H. Irsyad Zen dari nasab Khalifah Zainuddin.

Ada pula, Tuan Guru HM Husin, Qadi HM Amin, Tuan Guru HM Thasin,  Tuan Guru H.M. Saigon, Qadi H.M. Ali Junaidi, Tuan Guru H. Husin Qaderi, Tuan Guru H. Salman Jalil, Qadi H. Abdussomad, Qadi H.M. Jaferi, Qadi H. Basyuni, Tuan Guru H. Sibawaihi, Tuan Guru H. Qasthalai dan Tuan Guru H. Asqalami dari silsilah Mufti Jamaluddin.

BACA JUGA : Leluhur dari Yunan, Etnis Tionghoa Membaur di Pacinan

Di samping itu, komunitas Cina juga membangun kekerabatan dengan Sultan Banjar, salah satunya adalah Sultan Abdurrahman bin Sultan Adam Al-Watsik Billah kawin dengan seorang perempuan Cina melahirkan Sultan Tamjidillah.(jejakrekam)

Penulis adalah Akademisi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari

Peneliti Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.