Mengabadikan Semangat Kepahlawanan Aluh Idut, Pejuang Perempuan asal Kandangan

0

NAMANYA diabadikan di sebuah jalan di Kecamatan Kandangan Utara, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Aluh Idut, begitu panggilan akrabnya, yang sebenarnya nama aslinya adalah Siti Warkiah.

MENGAPA dinamakan Aluh Idut? Pejuang wanita asal Kandangan yang tergabung dalam ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang dikomando Hassan Basry melalui penjajah, Belanda dikenal berperawakan besar. Tak mengherankan, jika tubuhnya yang besar membuat dirinya dipanggil Aluh (Galuh), panggilan khas wanita Banjar Pahuluan karena tubuhnya yang gemuk.

Makamnya yang berada di Kandangan Kota, sering dikunjungi para peziarah, apalagi letaknya juga berada di pusat kota, di seberang Kantor Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfo) Kabupaten HSS.

Dari berbagai sumber, jiwa kepahlawan Aluh Idut diwarisi dari kakek dan pamannya, Martajiwa dan Sidik yang gugur dalam peristiwa Hamuk Antarukung di masa Kesultanan Banjar era Sultan Muhammad Seman, putra Pangeran Antasari.

BACA : 24 Ramadhan 1275 H dan Meletusnya Perang Banjar

Dari segi pendidikan, Aluh Idut termasuk terpelajar karena berhasil menyelesaikan masa belajarnya di Verfolk School (Sekolah Rakyat) lima tahun di Kandangan pada 1916. Bahkan, di masa pendudukan Jepang, Aluh Idut bergabung ke organisasi tenaga perempuan bentukan Jepang bernama Fujinkai pada Agustus 1943.

Aluh Idut bersama keluarga besarnya merupakan para pejuang Republik Indonesia, bahkan rumahnya pun merupakan gudang makanan bagi para geriliyawan seperti terekam dalam Koran Merdeka, ketika pasokan gula dikirim Gubernur Kalimantan peertama, Ir Pangeran Moch Noor. Hingga, aksinya pro kemerdekaan itu dicium Belanda.

BACA JUGA : Dari Era Sultan Adam hingga Revolusi; Kisah Rumah Banjar Balai Bini

Sebab, sejak 1946, Aluh Idut diketahui selalu menyuplai senjata kepada para pejuang di pedalaman Kalsel dan Kalteng, hingga membuka dapur umum. Pada November 1958, Aluh Idut ditangkap dua reserse Belanda bersama menantu angkatnya, Lamri. Diduga karena ada pengkhianat yang membocorkan informasi, Aluh Idut pun ditangkap dan disiksa tentara Belanda.

Hingga pada 2 September 1949, Aluh Idut dibebaskan berkat perundingan Munggu Raya. Bahkan, para gerilyawan dan pejuang ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan tergabung dalam Angkatan Perang Republik Indonesia. Aluh Idut diangkat sebagai bagian dari tentara ALRI Divisi IV.  Dalam menjalankan misinya, Aluh Idut dikenal sangat berdedikasi, hingga sakit yang membawanya pada ajal pada 5 Februari 1958.

BACA JUGA : Tak Taati Soekarno, Hassan Basry Bekukan PKI di Banjarmasin (2)

Atas jasanya, Panglima Tertinggi ABRI pada 10 November 1958 memberi bintang gerilya dan berdasar Surat Keputusan Presiden RI tanggal 12 Agustus 1958 nomor 175/1959, Aluh Idut diangkat sebagai Letnan I (Anumerta).

Rekam jejak Aluh Idut ini pun dituangkan Aliman Syahrani dan dieditori Iwan Yusi dalam buku Aluh Idut Perempuan Pahlawan asal Kandangan. Buku setebal 302 halaman digarap selama lima bulan itu menceritakan perjuangan Aluh Idut dan semangat heroiknya. Sumber utama dari buku karya sejarawan Aliman Syahrani kebanyakan berasal dari dua keponakan Aluh Idut, termasuk racikan dari beberapa literatur lainnya.

Buku biografi pahlawan perempuan asal Kandangan, Aluh Idut saat diserahkan Iwan Yusi kepada Bupati HSS H Achmad Fikry. (Foto Diskominfo HSS)

“Buku ini sangat penting bisa menjadi bahan ajar bagi anak-anak dan generasi ktia khususnya di Kabupaten HSS. Sebab, hampir semua murid tidak mengenal sosok Aluh Idut,” ucap Iwan Yusi, sang editor saat berdialog dengan Bupati HSS H Achmad Fikry di ruang kerjanya di Kandangan, Rabu (2/2/2022).

BACA JUGA : Diprotes Pegiat Sejarah, Papan Nama Jalan Hasan Basri Kayutangi Langsung Diganti

Pensiunan guru ini berkolaborasi dengan sejarawan lokal Aliman Syahrani untuk menyuguhkan semangat kepahlawanan dari seorang Aluh Idut yang telah diabadikan dalam sebuah buku.

Bupati HSS H Achmad Fikry bersedia memberi kata pengantar dalam buku karya Aliman Syahrani dan dieditori Iwan Yusi tersebut.

“Aluh Idut merupakan pahlawan berdasar pengakuan dan tanda tangan Presiden Soekarno ketika itu. Walau bukan pahlawan nasional, karena pahlawan nasional itu perlu banyak syarat. Sampai sekarang banyak diusulkan agar menjadi pahlawan nasional namun belum diakui negara,” papar Iwan.

BACA JUGA : Proklamasi 17 Mei 1949, Perjuangan Borneo Bagian Selatan Menjadi Indonesia

Dia menjelaskan dalam buku itu diceritakan jika Aluh Idut merupakan intel atau mata-mata ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan, bahkan seorang pejuang perempuan yang bersikap keras terhadap Kolonial Belanda.

“Buku ini juga menceritakan biografi sosok Aluh Idut sejak remaja, asal usul bergelar Aluh Idut dan nama asli beliau adalah Siti Warkiyah,” ucap Iwan.

BACA JUGA : Proklamasi 17 Mei; Pernyataan Integrasi Bertinta Merah

Dia pun menyerahkan agar buku itu bisa disebar oleh Dinas Pendidikan Kabupaten HSS ke seluruh sekolah yang ada di kabupaten tersebut. “Kami bersama Aliman Syahrani hanya hanya pembuat buku. Silakan Disdik Kabupaten HSS sebagai penerbit untuk menyebarkannya,” kata Iwan.

Bupati Achmad Fikry pun berharap buku Aluh Idut ini bisa disebar di semua jenjang sekolah baik SD, SMP hingga SMA dan SMK di Kabupaten HSS. “Jadi, masyarakat HSS bisa mengenal sosok pejuang perempuan asal Kandangan bernama Aluh Idut,” pungkas Fikry.(jejakrekam)

Pencarian populer:aluh idut
Penulis Iwan Sanusi
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.