Husairi Abdi

Promosi Keunggulan Psikologi Islam, UIN Antasari Pilih Duta Mahasiswa

0

HIMPUNAN Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari menggelar audisi pemilih duta atau grand ambassador di Kampung Buku Banjarmasin, Rabu (15/12/2021) malam.

DARI 10 mahasiswa yang telah diseleksi akan didapat duta terbaik bertugas untuk mempromosikan program studi psikologi Islam di kampus ‘hijau’ ini.

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin Akhmad Anwari mengakui sebelumnya sudah dipilih duta mahasiswa sebelum adanya pandemi Covid-19.

“Nah, kegiatan ini sempat terhenti karena pandemi. Sekarang, karena kasus Covid-19 mulai melandai, kami lanjutkan di tahun ini,” ucap Akhmad Anwari kepada jejakrekam.com, Rabu (15/12/2021) malam.

Dia mengatakan dari puluhan mahasiswa itu diseleksi dari serangkaian tes tertulis dan wawancara, hingga mendapat 10 calon duta terbaik yang akan mempromosikan psikologi Islam ke khalayak ramai. Terutama ke sekolah atau madrasah yang ada di Kalsel.

“Intinya, para duta psikologi Islam itu merupakan cerminan dari mahasiswa psikologi Islam UIN Antasari. Dengan adanya duta mahasiswa ini, bakat-bakat terpendam dari kalangan mahasiswa bisa digali dan tersalurkan,” kata mahasiswa semester 5 psikologi Islam ini.

BACA : Beri Dukungan Psikologi Sosial Bagi Anak-anak, Polda Kalsel Gandeng Dua Pengusaha Banua

Bagi Anwari, selama ini masyarakat hanya mengenal psikologi umum yang menerapkan terapi dengan disiplin ilmu Barat, terutama Yunani. Menurut dia, jika mahasiswa lebih menekuni ilmu psikologi Islam tentu akan mengambil peminatan pada klinis pendidikan psikologi dan industrialisasi.

“Bedanya dengan bimbingan konseling (BK) yang ada di Fakultas Keguruan dan Tarbiyah UIN Antasari adalah para peminatan mahasiswa nantinya untuk memperdalam ilmu psikologi Islam. Untuk menjadi psikolog bisa menempuh jenjang pendidikan S2, jadi bisa berpraktik menjadi psikolog Islam,” tutur Anwari.

Dia mengakui jurusan psikologi Islam di UIN Antasari tergolong baru karena dibentuk pada 4 Desember 2008 lalu, sehingga banyak yang belum mengenal pendekatan psikolog secara Islam.

“Dari terapi terhadap pasien misalkan, pendekatan melalui Alquran dan Hadits jadi rujukan dibandingkan dengan model disiplin ilmu dari Barat atau Yunani di psikologi umum,” kata Anwari.

BACA JUGA : Bangkitkan Imun Tubuh, Pasien Covid-19 di RS Stagen Kotabaru Jalani Terapi Psikologis

Menurut dia, selama ini para mahasiswa juga dibimbing langsung psikolog Islam yang merupakan dosen UIN Antasari seperti Santi Kumulasari. Santi sendiri merupakan psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kalsel.

“Mereka yang terpilih menjadi duta psikologi Islam akan mewakili kampus. Seperti bisa menjadi moderator dalam seminar serta mendatangi sekolah-sekolah atau madrasah yang tertarik dengan psikologi Islam,” papar Anwari.

Saat ini diakui Anwari, di Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari ada tiga jurusan atau program studi di samping Psikologi Islam. Yakni, Ilmu Alquran dan Tafsir, Aqidah Filsafat Islam dan Studi Agama-Agama.

Duta Utama Psikologi Islam UIN Antasari, Rifqi Aghnaita mengatakan sebagai seorang duta tentu harus bisa membranding diri dengan etika yang bisa menjadi contoh bagi mahasiswa lainnya.

BACA JUGA : LGBT Itu Gangguan Psikologis, Pelakunya Harus Diterapi

“Jangan sampai psikologi Islam ini menjadi kaum minoritas di tengah dispilin ilmu psikologi yang terus berkembang. Tentu saja, pendekatan psikologi Islam lebih mengutamakan metode zikir dan pendekatan kepada Allah SWT melalui ajaran Alquran dan Hadist sebagai rujukan,” tutur Rifqi.

Senada itu, Wakil Duta II Psikologi Islam UIN Antasari Muhammad Zaya mengatakan selama menimba ilmu psikologi Islam di kampusnya cukup banyak pengalaman dan wacana baru didapat.

“Intinya dalam penerapan psikologi Islam ini lebih mengedepankan pendekatan Islam. Ada sebuah proses untuk menyadarkan diri seseorang dengan lebih mendekat pada ajaran agama Islam,” katanya.

Zaya mengatakan dengan kondisi masyarakat Kalsel yang mayoritas muslim, tentu kebutuhan untuk kesehatan mental sangat penting. “Inilah yang kami inginkan agar keunggulan dari psikologi Islam ini bisa diketahui masyarakat khususnya di Kalsel,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Rahim Arza
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.