Husairi Abdi

Kaya Lukah Kada Bahandut

0

Oleh : Noorhalis Majid

BERAPA saja uang diberikan, akan habis dibelanjakan. Seperti tidak ada kontrol untuk menyaring apa yang perlu untuk dibeli. Belanja sehabis-habisnya uang, kecuali sudah tidak bersisa, baru berhenti belanja.

BILA masih ada uang di tangan, imajinasi untuk memikirkan hal apalagi yang dapat dibeli, berkembang sedemikian rupa, itulah makna kaya lukah kada bahandut.

Seperti lukah tanpa handut atau tanpa net – jala penahan, itulah arti harfiahnya. Dipinjam sebagai perumpamaan, tentang lemahnya kontrol atau kendali dalam pengelolaan keungan.

Ternyata, banyak orang yang tidak bisa memegang uang. Kalau uang ada di tangan, akan habis dibelanjakan. Tanpa pikir panjang, mudah tergoda untuk selalu berbelanja.

BACA : Bahasa Banjar Kaya Sinonim Kata, Tapi Banyak yang Hilang

Ungkapan ini sangat relevan di zaman sekarang ini, kemudahan berbelanja bukan hanya karena banyaknya mall – tempat shopping, namun hanya melalui aplikasi android, cukup dengan dua jempol, apa saja bisa dibeli. Melalui kemajuan teknologi, ada pasar digital yang memberi kemudahan untuk mencari dan mengakses barang yang diinginkan. Bila tidak mampu mengendalikan diri, bisa saja sepanjang waktu paket belanjaan berdatangan dari berbagai tempat.

Apalagi ketika uang tersedia untuk memenuhi semua keinginan. Shopaholic, adalah sebutan terhadap orang yang tidak dapat mengontrol dalam membeli sesuatu.

BACA JUGA : Bahasa Banjar Zaman Dulu dan Rumah Lanting Diusulkan ke Kemendikbud

Bahkan cenderung memaksakan diri, walau tidak memiliki uang, berusaha keras mencari pinjaman, agar barang yang diinginkan dapat terbeli. Ada yang menyebutkan, hal ini bentuk gangguan kejiwaan, karena menjadi kecanduan, tidak mampu mengendalikan diri untuk senantiasa berbelanja.

Padahal barang yang dibeli, belum tentu benar-benar dibutuhkan. Setelah dibeli, barang tersebut seketika menumpuk, terabaikan – tidak termanfaatkan. Ungkapan ini memberikan pelajaran, pandai-pandailah mengelola nafsu berbelanja. Belilah barang sesuai kebutuhan, bukan menurutkan semua keinginan.

BACA JUGA : Mengukur Eksistensi Bahasa Banjar Dari Karya Sastra Hingga Karya Akademik

Kalau memang memiliki kelebihan uang, jangan turutkan keinginan sekedar memuaskan hobby – minat, atau gengsi yang tak berujung. Lebih baik manfaatkan uang untuk hal-hal bermanfaat, termasuk mendonasikan pada kegiatan-kegiatan yang dapat menyelamatkan banyak orang lain dari himpitan ekonomi yang sangat berat.

Apalagi bila uangnya memang terbatas, prioritaskan yang paling dibutuhkan, jangan sampai kaya lukah kada bahandut.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.