ACT

Mengukur Eksistensi Bahasa Banjar Dari Karya Sastra Hingga Karya Akademik

0 157

PEGIAT kesusastaraan Banjar berdiskusi tentang perkembangan tutur dan aksara Banjar di Kampung Buku, Sabtu (28/12/2019) sore.

PEMRAKARSA diskusi Khairadi Asa, mengungkapkan acara diskusi ini digelar untuk membincangkan perkembangan kesusastraan Banjar dalam lintas sejarah. “Hari ini tutur dan aksara Banjar didiskusikan, selanjutnya pantun dan peribahasa Banjar,” ucap dia.

Khairiadi menyebut dalam perkembangannya dialek Banjar antar wilayah ada perbedaan dan persamaan, lazimnya tiga dialek, Banjar Kuala, Banjar Hulu dan Banjar Batang Banyu.

BACA : Menjaga Eksistensi Bahasa Banjar

Penulis buku berbahasa Banjar, Maria Roesli menuturkan bahwa Bahasa Banjar itu unik. Sebab ada sebagian kosakata bahasa Banjar justru tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah lainnya. “Menurut saya Bahasa Banjar termasuk kedalam bahasa yang tua oleh karena itu kita wajib melestarikannya,” kata Maria.

Ia mengakatakan ada sebagian kosakata Bahasa Banjar mulai jarang digunakan, oleh karena itu ketika mendengar kosakata langka langsung menuliskannya kedalam sajak pantun, sehingga mempopulerkan kembali kepada masyarakat.

“Saya sudah menulis tiga buku pantun, terakhir berjudul Kue Lapis Wadai Karing, sekarang saya mempersiapkan buku antalogi pantun Banjar yang keempat, dan sekarang masih on the progress,” terang dia.

BACA JUGA : Bahasa Banjar Zaman Dulu dan Rumah Lanting Diusulkan ke Kemendikbud

Adapun dosen FISIP ULM menganggap dalam perkembangannya Bahasa Banjar mengadopsi kosakata dari bahasa melayu dan bahasa lainnya sebagai bahasa tutur sehari-hari termasuk di era kekinian.

“Secara garis besar dialek Bahasa Banjar secara umum dikenal tiga dialek, Banjar Kuala, Bahasa Hulu dan Banjar batang banyu, padahal menurut saya ada satu lagi bahasa Banjar yang tertulis dalam dokumen kesultanan Banjar, salah satu contohnya Kitab Sabilal Muhtadin, Parukunan, termasuk surat kerajaan, bahasa Banjar yang dipakai bisa dikatakan bahasa akademik yang kita kenal hari ini,” jelas Datuk Cendikia Hikmadiraja Kesultanan Banjar ini.

Taufik menyebut pihaknya mencari formula mempertemukan bahasa yang digunakan kesultanan Banjar dan tutur masyarakat Banjar di era sekarang. “Pada diskusi hari ini, para seniman, budayawan dan sastrawan mengeksplore kembali Bahasa Banjar dalam konteks kemelayuan, sekarang kita akui eksistensi Bahasa Banjar cukup kuat,” kata doktor jebolan UGM ini.

BACA LAGI : Pemertahanan Bahasa Banjar Melalui Seni Pertunjukan

Di masa yang akan datang Taufik meyakini Bahasa Banjar naik kelas, sebab dengan pemindahan ibu kota praktis Bahasa Banjar sebagai lingua franca masyarakat di kawasan ibu kota negara yang baru dan daerah penyangganya semakin dikenal masyarakat Indonesia.

“Oleh karena itu diskusi hari ini sebagai salah satu upaya untuk melestarikan dan mengembangkan Bahasa Banjar,” tutup Taufik.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.