Husairi Abdi

Selain Batubara dan Sawit, Ini Produk Andalan Ekspor Kalsel ke Berbagai Negara

0

SELAIN batubara yang menjadi primadona ekspor Kalimantan Selatan ke berbagai negara tujuan. Ternyata, ada beberapa komoditas lainnya turut mendongkrak volume ekspor Banua dan mendatangkan devisa negara.

MENGUTIP data Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi Kalimantan Selatan per Agustus 2021, tergambar nilai ekspor berdasarkan komoditas dan negara tujuan ekspor. Salah satunya, produk karet alami, kelapa sawit, kayu dan rotan hingga produk perikanan.

Untuk komoditas karet alami tercatat menghasilkan nilai ekspor sebanyak USD (Dolar Amerika Serikat) 13.618.708 atas produk yang dihasilkan mencapai 7.918.818 kilogram atau 7,9 juta ton lebih. Negara utama tujuan ekspor masih didominasi Jepang dengan nilai perdagangan USD 5,9 juta dari 3,4 juta ton. Disusul, Turki menghasilkan USD 1,6 juta lebih dari total ekspor 967.680 kilogram dan negara ketiga diduduki India dengan nilai ekspor USD 1,2 juta lebih atas produk yang dikirim sebanyak 705.600 kilogram.  

Produk karet Kalsel juga menembus pasar Korea Selatan, Jerman, Kanada, Polandia, China, Brazil, Slovenia, Meksiko, Afrika Selatan, Argentina, Austria, Amerika Serikat dan Thailand, yang turut menyumbang devisa negara.

BACA : Harga Batubara Dunia Melonjak 202 Persen, Nilai Ekspor Kalsel Naik Drastis

Sedangkan pasar utama produk kelapa sawit asal Kalsel masih diminati India dengan sebanyak 66 juta ton bernilai USD 73 juta lebih. Disusul China dan Pakistan dengan masing-masing serapan 47,8 juta ton (USD 48,6 juta) dan 33,9 juta ton (USD 32,1 juta lebih). Dari produk industri perkebunan ini juga dikirim ke Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, Italia, Korea Selatan dan Vietnam.

Sementara untuk produk kayu, lagi-lagi Jepang menjadi negara utama tujuan ekspor menghasilkan USD 11,4 juta lebih dari 8,2 juta ton lebih. Bersama Korea Selatan terbesar dengan nilai ekspor USD 6 juta lebih. Beberapa negara lainnya adalah Amerika Serikat, India, Jerman, Inggris, Malaysia, Taiwan, Filipina, Austria, Kuwait, Norwegia, Belgia, Hong Kong, Selandia Baru, Arab Saudi dan Tiongkok.

Minat negara Jepang dan Belanda terhadap produk rotan Kalsel juga tinggi dalam nilai ekspor pe Agustus 2021. Begitupula, produk perikanan Kalsel ke berbagai negara bisa menghasilkan nilai ekspor mencapai USD 7,3 juta lebih.

BACA JUGA : Terbukti Suburkan Lahan, Disperin Kalsel Lirik Potensi Industri Pupuk Berbahan Batubara

Ekonom STIE Indonesia, Dr Iqbal Firdausi menyarankan dari angka ekspore baik volume maupun devisa yang dihasilkan, maka Kalsel butuh untuk inovasi produk serta membangun industri hilir. Jadi, beber dia, Kalsel tidak lagi mengekspor barang yang masih berbentuk baku, tapi bisa menjadi produk industri.

Ekonom STIE Indonesia, Dr Iqbal Firdausi (Foto Dokumentasi Pribadi)

“Tentu itu akan menambah nilai jual ekspor. Tidak seperti kita mengirim barang mentah apalagi bahan baku yang justru diolah negara lain menjadi produk baru. Ya, seperti karet misalkan, mengapa di Kalsel tidak dibuka peluang bagi investor untuk membangun pabrik ban dan produk lainnya. Dengan begitu, bisa menciptakan lapangan kerja bagi Kalsel. Berdasar data, angka pengangguran di Kalsel pun terbilang masih tinggi,” beber Iqbal kepada jejakrekam.com, Selasa (19/10/2021).

Begitu pula, menurut Iqbal, dengan membuka investasi dari berbagai produk andalan Kalsel yang diekspor dalam bentuk bahan baku, justru bisa mengangkat neraca perdagangan baik secara lokal, regional maupun nasional.

BACA JUGA : Meski Energi Terbarukan Mulai Dilirik, Tambang Batubara Dinilai Belum Bisa Lepas dari Kalsel

“Seperti batubara misalkan, tak perlu lagi diekspor dalam bentuk mentah. Kan, bisa diolah menjadi briket atau produk-produk lainnya. Inilah mengapa Kalsel butuh inovasi dan mengundang investor untuk mendirikan pabrik pengolahan. Sekarang, dunia juga membutuhkan bahan baterai listrik karena industri mobil ke depan akan lebih banyak membutuhkan energi listrik ketimbang fosil,” kata Iqbal.

Terpenting, menurut Iqbal, dari pembukaan keran investasi apalagi dengan hadirnya UU Omnibus Law atau Cipta Kerja, tidak pula melupakan kondisi lingkungan. Diakui Iqbal, selama ini yang menjadi sorotan adalah industri ekstraktif seperti batubara maupun perkebunan berskala besar seperti sawit.

“Nah, pendirian pabrik pengolahan biodiesel untuk energi terbarukan sudah tepat di Kalsel. Selain bahan baku tersedia juga bisa menambah nilai jual lebih tinggi dari produk yang dihasilkan. Termasuk, produk perikanan bisa saja nanti dibangun pabrik pengalengan ikan di Kalsel,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.