Perahu Pulau Suwangi Alalak yang Mendunia, Diawali Orang Nagara Kini Digeluti Generasi Keempat

0

SUDAH empat generasi mewarisi keahlian membuat jukung atau perahu kayu. Awalnya diperkenalkan orang Nagara Daha, Hulu Sungai Selatan (HSS) hingga menjadi mahir membuat perahu jukung di Desa Pulau Suwangi, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Batola).

PRODUK jukung asal Pulau Suwangi pun sempat diboyong Erik Petersen. Penulis buku Jukung Boats from the Barito Basin, Borneo (2000) ini berhasil mengangkut Jukung Alalak ke pameran The Viking Ship Museum Roskilde di Denmark dan Belanda.

Cerita Kai Asing-julukan Erik Petersen, sang peneliti perahu asal Denmark hanya sepenggal kemasyhuran jukung Alalak. Tepatnya, asal Pulau Suwangi. Dari buku Erik Petersen akhirnya dikenal budaya maritim orang Banjar dengan berbagai jenis unik dan kuat yang dibuat dalam galangan di Pulau Suwangi.

Sebut saja, ada namanya Jukung Sudur, Jukung Rangkan, Jukung Patai, Jukung Hawaian, Alkon, Jukung Rombong, Kelotok Halus, Feri, Kelotok Baangkut Barang, Jukung Nalayan, Jukung Tiung, Jukung Raksasa serta Motorbot.

Berdasar hasil riset penulis pada 2000, jukung Alalak ini sempat merambah ke Irian Jaya (Papua)  dan Maluku, hingga Timor Timur (sebelum menjadi Timor Leste). Adalah sosok H Salmin, ketika itu yang berhasil mengubah teknologi yang lebih maju dibanding para pendahulunya dalam membuat jukung atau perahu berbadan kayu khas Kalimantan.

BACA : Berkat Erik Petersen, Si Kai Asing Yang Membawa Jukung Borneo Mendunia

Sayang, sosok H Salmin kini telah tiada, terhitung hampir setahun ini. Padahal, sosok H Salmin merupakan salah satu pengrajin jukung Alalak yang berhasil mendunia. Terbukti, dari jukung, perahu bermesin, kelotok hingga kapal wisata berbahan kayu ulin pernah dibuatnya. Bahkan, dipesan para pengusaha asal Jakarta dan Surabaya, hingga luar negeri.

Tersebutlah, dua pengrajin awal jukung di Pulau Suwangi. Namanya H Ismail dan Kai Abai yang memulai pembuatan jukung khas Banjar ini pada 1940-an. Mereka inilah generasi pertama pembuat perahu untuk dikomersilkan. Walau sebenarnya pembuatan jukung sudah lama digeluti para pemukim awal di Pulau Suwangi.

“Rata-rata para datuk di Pulau Suwangi yang ahli membuat jukung atau perahu aslinya orang Nagara. Ya, seperti Kai Abai yang mengajarkan cara membuat jukung yang bagus, kuat dan punya ciri khas Banjar berbeda dengan buatan suku lain,” kata Misran (38 tahun), generasi keempat pembuat jukung di Pulau Suwangi kepada jejakrekam.com, Minggu (10/10/2021).

Misran, pengerasi generasi keempat pembuat perahu Alalak di Pulau Suwangi. (Foto Didi GS)

Ciri khas olahan Pulau Suwangi adalah pada kekuatan pasak dan sambungan antar dinding (rubing) hingga modelnya dari haluan dan buritan yang lebih tajam. Menurut Misran, ketika orang melihat produk jukung atau perahu, pasti sudah mengetahui berasal dari Pulau Suwangi atau Alalak, ketika masih berada dalam wilayah Alalak Besar era kolonial Belanda.

“Makanya, untuk ukuran jukung atau perahu di Alalak masih menggunakan depa, bukan meteran. Untuk menyebut perahu ukuran lima depa atau enam depa yang umum dikerjakan di sini,” kata Misran.

BACA : Pertempuran Sungai Miai, Antiklimaks Perlawanan Panglima Wangkang terhadap Penguasa Tatas (3-Habis)

Umumnya, ada tujuh tahap dalam membuat perahu khas Alalak. Butuh waktu belasan hingga satu bulan untuk menyelesaikan satu perahu tergantung ukuran. Tujuh tahapan itu diawali pembuatan kerongkong (bakalan perahu), pemasangan sampung haluan dan buritan berupa kayu balok dari lanan (meranti merah), bengkirai, belangiran atau kayu kuat lainnya. Berikutnya adalah pemasangan gading atau tulang perahu mirip gading gajah, dilanjutkan senta berbentuk kayu kasau untuk memperkuat badan perahu.

Jika sudah terpasang senta, baru dipasang rubing (dinding perahu) dari bagian bawah hingga ke atas. Nah, agar lebih kuat lagi dan menjadi pemanis perahu, kemudian dipasang bingkai atau sangkar. Terakhir ada namanya bungkukan, kayu yang dibentuk seperti busur panah. Tinggal dempul dan cat pewarna, jadilah perahu khas Pulau Suwangi.

Lomba dayung dengan jukung sudur yang sebagian buatan orang Alalak di masa kolonial Belanda di Sungai Martapura. (FOTO KITLV)

Ada satu yang jadi kendala dihadapi Misran dan pengrajin perahu Pulau Suwangi adalah harga kerongkong. Bakalan perahu berupa kayu bulat setengah lingkaran itu harus didatangkan dari Manusup, Mantangai, Kapuas, Kalimantan Tengah. Harga kerongkong kian tahun kian mahal, karena langkanya batang kayu besar yang harus dicari di pedalaman hutan Kalimantan.

BACA JUGA : Narasi Jukung Tambangan, Perahu Elit Istana dan Saudagar Banjar

“Dulu, waktu saya membuat badan kelotok harganya hanya Rp 1,5 juta per kerongkong pada 2009 lalu. Sekarang sudah tembus Rp 4 juta, bahkan sempat naik jadi Rp 5 juta. Pernah kosong, sehingga banyak pengrajin tak bisa mengerjakan perahu lagi. Gara-garanya ternyata banyak perambah hutan yang jadi pendulang emas di Kalimantan Tengah,” beber Imis, sapaan akrabnya.

Menurut dia, tak bisa dibayangkan sekarang modal yang harus dikeluarkan sudah menebus belasan juta. Ketika sudah menjadi barang jadi, tinggal dipasang mesin penggerak, harga badan kelotok atau perahu bisa di atas belasan hingga puluhan juta.

“Sekarang serba sulit, bukan hanya kerongkong juga papan yang jadi rubing atau bagian dari perahu. Kayu-kayu berkualitas di Alalak sudah susah dicari. Untungnya, ada pabrik kayu masih mau menjual kayu-kayu kuat itu seperti rasak, lanan, bengkirai atau belangiran. Harganya pun mahal per kubiknya,” beber Imis.

Dengan ketergantungan bahan baku dan harga yang tak menentu, Imis pun mengakui sekarang dari ratusan pengrajin perahu di Pulau Suwangi, satu per satu sudah beralih profesi. Dia khawatir pengrajin perahu khas Alalak ini hanya tertahan pada generasi keempat seperti dirinya.

“Dari padatuan (datuk), pakai’an (kakek) lalu ayah hingga ke generasi seperti saya. Nah, generasi di bawah saya, banyak yang tak tertarik untuk melanjutkan membuat perahu,” kata Imis.

BACA JUGA : Nansarunai; Kerajaan Dayak Maanyan yang Merupakan Leluhur Urang Banjar

Potret orang Alalak Besar di era kolonial Belanda saat menonton lomba dayung di Sungai Martapura. (Foto KILTV Leiden)

Sekarang masalah lainnya adalah wilayah pemasaran yang kian menyusut. Khusus di wilayah Alalak Besar mencakup Alalak (Banjarmasin), Berangas, Pulau Alalak dan sekitarnya sudah tak lagi memesan badan perahu atau jukung asal Pulau Suwangi. Ini akibat dari kebijakan daratisasi menggulung moda transporasi kelotok, ketika wilayah di Alalak telah terhubung dengan jalur darat.

Kini, daerah yang pemesan hanya datang dari wilayah pelosok Batola dan Kabupaten Banjar, seperti Aluh-Aluh, Sungai Teras, dan lainnya. Padahal, dulu perahu Pulau Suwangi merajai pasar kelotok di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

“Tapi kami yakin selama masih ada sungai, maka perahu Pulau Suwangi akan tetap mengapung. Kecuali, sungai tak ada lagi, boleh jadi kerajinan membuat jukung ini akan punah,” kata Imis, terkekeh.

BACA JUGA : ‘Urang’ Banjar Sebenarnya Dayak, Ini Teori yang Dikemukan Antropolog ULM

Ada satu kebanggaan Imis adalah perahu khas Pulau Suwangi ini memang sudah mendunia. Salah satu contohnya adalah produk yang dihasilkan almarhum H Salmin. Bahkan, para pengrajin asal Suwangi Alalak sempat diboyong pemerintah pusat ke Maluku, Papua dan Timor Timur (kini Timor Leste) untuk mengajari mereka membuat perahu yang kuat pada 1989 dan 1990 silam.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.