‘Urang’ Banjar Sebenarnya Dayak, Ini Teori yang Dikemukan Antropolog ULM

0

BANJAR adalah kumpulan sub-sub suku yang bermukim atau berada di muara sungai. Etnis ini merupakan akumulasi dari perpaduan banyak puak suku; Dayak, Melayu (Sumatera), Bugis, Jawa dan lainnya.

HAL ini diungkapkan antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Setia Budhi PhD kepada jejakrekam.com, Senin (26/7/2021). Namun, dari banyak teori dan hasil riset, Setia Budhi pun menyepakati sebenarnya masyarakat ‘Urang’ Banjar itu adalah orang Dayak.

“Logikanya apa? Selama ini dibangun teori, masyarakat yang menghuni pegunungan atau perbukitan di Kalimantan (Borneo) adalah orang Dayak. Ini pendapat yang berkembang di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Faktanya, justru banyak pula masyarakat Dayak yang bermukim di muara sungai dan pantai, seperti orang-orang Bakumpai, Berangas dan lainnya. Jadi, mereka yang bermukim di muara sungai sebenarnya juga orang Dayak,” tutur doktor lulusan University Kebangsaan Malaysia ini.

Setia Budhi mengungkapkan dalam teori yang dikembangkan di Malaysia, menyebut nenek moyang atau leluhur bangsa Indonesia merupakan salah satu cabang ras Mongoloid, yakni ras Melayu. Ras ini dibagi dalam dua kelompok besar berdasar tahun kedatangannya ke wilayah nusantara.

Pertama adalah Proto Melayu atau ras Melayu Tua yang memiliki kebudayaan asli dan datang ke wilayah nusantara sebagai gelombang pertama sekitar 1500 SM. Mereka disebut sebagai Melayu Tua, sebab datang lebih dahulu dibanding Deutro Melayu. Keturunan Proto Melayu saat ini dikenal dengan nama suku Dayak, Mentawai, Batak dan Toraja.

BACA : Nansarunai; Kerajaan Dayak Maanyan yang Merupakan Leluhur Urang Banjar

“Kedua adalah Deutro Melayu adalah ras Melayu yang datang sebagai gelombang kedua ke wilayah nusantara sekitar tahun 400 SM. Mereka diangap memiliki kebudayaan yang relatif lebih maju dari Proto Melayu. Keturunan Deutro Melayu saat ini dikenal dengan nama suku Jawa, Melayu, Bugis, Bali dan Makassar,” papar Setia Budhi.

Ketua Prodi Sosiologi FISIP ULM Banjarmasin mengakui saat mengemukakan teori jika Banjar adlah Dayak pada seminar di Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan pada 2012 silam, justru ditertawakan.

“Ada yang bilang, kenapa saya berani-beraninya membuat teori baru. Padahal, teori ini dibangun berdasar banyak riset, Banjar itu sebenarnya Dayak, bukan hanya bicara dari sisi genetika, namun juga soal rumpun bahasa dan teritorial atau geografis,” ucap Setia Budhi.

Setia Budhi PhD (tengahj) bersama tokoh masyarakat Bakumpai dalam sebuah acara. (Foto Dokumentasi)

Dia mencontohkan ada beberapa istilah untuk jaringan sungai atau sungai yang dipakai masyarakat Banjar seperti anjir, saka, handil, long, guntung dan sei (sungai) juga dijumpai di masyarakat Dayak Maanyan, Dayak Ngaju dan Meratus.

“Makanya, saya sebenarnya sependapat dengan teori yang dikembangkan pakar sejarah Banjar ULM, Prof Idwar Saleh yang menegaskan bahwa Banjar itu sebenarnya adalah Dayak,” ucapnya.

BACA JUGA : Suku Bakumpai, Penyambung Kesultanan Banjar dengan Masyarakat Dayak

Hal ini, menurut Setia Budhi, bisa dikaitkan dengan legenda atau mitos ketika masyarakat Dayak Bukit yang mendiami Pegunungan Meratus adalah orang-orang yang lari karena menolak memeluk Islam, ketika Bandarmasih atau Banjar diislamkan di masa raja pertama, Pangeran Suryanata atau Sultan Suriansyah.

“Analoginya adalah mengikuti pendapat ini jelas Banjar itu adalah Dayak. Makanya, ada legenda atau cerita rakyat Dayak Bukit yang menyebut Dayuhan dan Intingan. Dua bersaudara, Dayuhan atau Datu Ayuh disebut pula Palui Tuha, dan sang adik Intingan atau Bambang Sawara atau Bambang Siwara yang disebut pula Palui Anum. Mengambarkan persaudaran antara Banjar dan Dayak Meratus,” tutur Setia Budhi.

Warga Dayak Meratus dengan hasil panen kayu manis di Loksado (Foto Facebook)

Mengutip hasil riset H Muhammad Mugeni dkk (2012) dalam buku; Bahasa Daerah di Provinsi Kalimantan Selatan terbitan Balai Bahasa Provinsi Kalsel Kemendikbud, menggambarkan erat hubungan bahasa Banjar sebagai bahasa yang dituturkan mayoritas masyarakat Kalsel dengan bahasa asli lainnya seperti Maanyan, Berangas, Bakumpai, Abal, Dayak Halong, dan lainnya.

BACA JUGA : Relasi Intens Melayu Banjar-Dayak Ma’anyan Berabad-abad

“Jadi, jelas banyak kosa kata hingga leksikon yang mirip antara bahasa Banjar dengan bahasa-bahasa pribumi Kalimantan Selatan. Kemiripan ini menggambarkan hubungan keluargaan atau satu rumpun yang sangat erat,” papar Setia Budhi.

Berdasar itu, Setia Budhi pun mengakuri dengan pendapat berbagai ahli serta hasil riset lainnya metahbiskan bahwa sebenarnya Banjar itu merupakan orang Dayak, baik dari segi bahasa, genetika dan lainnya. (jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.