Pertempuran Sungai Miai, Antiklimaks Perlawanan Panglima Wangkang terhadap Penguasa Tatas (3-Habis)

0

Oleh : Iberahim

USAI mendengar berita ini, Residen Tromp segera memerintahkan semua bawahannya, pertama sang penguasa Banjarmasin mengumpulkan semua orang Eropa di tempat hunian mereka untuk mencari perlindungan ke Benteng Tatas.

LANGKAH kedua adalah Kontrolir, Komandan Militer, dan 50 orang serdadu mengikutinya ke tempat kediaman Ronggo di Sungai Miai. Pangeran Syarif Hasyim juga ikut dalam rombongan itu.

Barisan di bawah pimpinan Residen berhenti pada suatu jarak tertentu dari rumah Ronggo dan tempat Wangkang dan orang-orangnya berkumpul. Sambil mengamati para pemberontak dari kejauhan, Residen mengirimkan Syarif Hasyim untuk berurusan dengan Panglima Wangkang.

Ronggo juga hadir ketika Syarif Hasyim berbicara kepada Wangkang. Syarif Hasyim berkata: “Residen telah menyuruh saya menanyakan Wangkang, apa maksudmu datang ke Banjarmasin dengan begitu banyak orang?” Wangkang menjawab: “Saya datang ke mari dengan begitu banyak orang ke Banjarmasin ini untuk menanyakan pada Residen mengenai surat pengampunan saya. Saya telah menunggu selama tujuh bulan dan berapa banyak mail (surat) datang tetap saja tidak ada keputusan.”

Pangeran Syarif Hasyim kembali melaporkan kepada Residen mengenai jawaban Wangkang. Kemudian, ia kembali lagi dengan instruksi lain dari Residen.

Ia berkata kepada Wangkang: “Sekarang Wangkang dipanggil menghadap oleh Residen tetapi Wangkang tidak boleh membawa lebih dari tiga orang. ” Kemudian Wangkang menjawab: “Saya tidak akan menemui Residen dengan hanya dua atau tiga orang karena saya tidak akan berpisah dengan para pengikut saya dan mereka juga tidak mau dipisahkan dari saya. Dan jika saya harus bertemu dengan Residen, saya pergi bersama dengan mereka semua.”

1888: Pertahanan di sebuah kampung di Kalimantan. Pelukis: M.T.H. Perelaer

BACA : Ditakuti Kolonial Belanda, Keberanian Panglima Wangkang Datangi Benteng Tatas (2)

Pangeran Syarif Hasyim kembali lagi melaporkan kepada Residen. Beberapa menit kemudian. Syarif Hasyim datang lagi menemui Wangkang untuk ketiga kalinya. Kali ini ia membawa ultimatum Residen Tromp. Ia mengatakan kepada Wangkang: “Residen hanya memberi waktu lima belas menit untuk Wangkang berpikir. Dan jika Wangkang tidak mau datang dalam waktu lima belas menit, maka serdadu-serdadu diperintahkan untuk menangkap Wangkang.”

Wangkang lantas menjawab Pangeran Syarif Hasyim: “Terserah apa yang mau dilakukan Residen. Saya akan menunggu apa yang dikehendaki Residen, putih atau hitam…Saya tidak mau berpikir banyak sekarang…Saya belum membayar utang lama saya (dan) sekarang saya harus menambah utang baru…Apa saja yang dikehendakinya, itu yang terjadi.”

1862: Serangan dari sebuah benteng di tepi sungai di Kalimantan Selatan, dari buku Le Tour des Mond

Menurut Syarif Hasyim, ketika Wangkang mengucapkan kata-kata ini suaranya meninggi sambil menunjukkan jarinya kepadanya. Suatu tindakan yang oleh Syarif Hasyim dianggap kasar sekali. Sementara itu, Syarif Hasyim juga melihat orang-orang Wangkang di kedua tepi sungai telah memegang dan menghunus senjata-senjata mereka. Syarif Hasyim kembali lagi kepada Residen melaporkan jawaban Wangkang terakhir.

Dengan jawaban itu, Wangkang menantang ultimatum Residen. Barangkali Wangkang tidak tahu bahwa Tiedtke telah digantikan oleh Residen Tromp. Bagaimanapun, pada gilirannya Tromp sangat marah mendengar dari Syarif Hasyim “jawaban yang menantang” dari Wangkang: ‘Residen boleh berbuat apa yang dia suka.

BACA JUGA : Panglima Wangkang dan Taktik ‘Menyerah’ dalam Perang Banjar (1)

Tanpa menunggu lama lagi, Tromp memerintahkan Schultze untuk menyerang Wangkang dan mengusir orang-orangnya keluar dari ibukota. Schultze mulai menembak. diikuti oleh serdadu-serdadunya. Pengikut-pengikut Wangkang menyerang balik. Mereka menembak dengan meriam-meriam swivel, pamoras dan bedil.

Tanu Karsa kelak melaporkan bahwa ia melihat Wangkang meninggalkan rumahnya dan bergabung dengan orang-orangnya. Wangkang menembak dua kali, tetapi sebuah peluru dari seorang serdadu menggores kepalanya. Wangkang melemparkan bedilnya dan ia bergerak maju menghadapi musuh-musuhnya. Laporan Tanu Karsa berhenti di sini tanpa menceritakan apa yang terjadi selanjutnya dengan Wangkang. Ia hanya menambahkan bahwa orang-orang Wangkang mencoba membakar kampung Sungai Miai, tetapi aksi mereka itu segera dihentikan oleh penduduk setempat.

BACA JUGA : 24 Ramadhan 1275 H dan Meletusnya Perang Banjar

Bagi Wangkang, pertempuran di Sungai Miai itu adalah sebuah anti-klimaks. Setelah pertempuran itu, Wangkang dan orang-orangnya mengundurkan diri, mula-mula ke Kampung Teluk Masigit, tempat terletak sebuah masjid.

Selama berlahun-tahun penduduk kampung ini terkenal sebagai simpatisan-simpatisan pejuang. Kemudian via Sungai Miai dan Sungai Alalak, para pelawan itu kembali ke Marabahan. Tidak ada laporan yang akurat mengenai jumlah korban yang jatuh pada pihak pelawan. Ronggo Tanu Karsa melaporkan bahwa para pelawan meninggalkan 32 buah jukung.

Lokasi pertempuran di kawasan Sungai Miai antara pasukan Panglima Wangkang bersama serdadu dan pendukung penguasa Benteng Tatas Belanda.

Mereka meninggalkan lima mayat di jalan di mana pertempuran telah berlangsung. Empat orang telah dipapah oleh kawan-kawan mereka dalam sebuah perahu ke Sungai Alalak melalui Sungai Miai, dan tujuh orang lagi luka-luka.

BACA JUGA : Benteng Oranje Nassau, Simbol Supremasi Belanda Pemicu Perang Banjar

Menurut Ronggo, korban-korban mungkin jauh lebih banyak dari pada ini. Syarif Hasyim menambahkan bahwa orangnya yang bernama Mangkota telah menemukan empat mayat pemberontak. Dua orang dikenal oleh Mangkota sebagai putra-putra Surapati, yaitu Temenggung Ajidan dan Temenggung Komel.

Teryata informasi ini salah karena keduanya masih hidup setelah pertempuran itu dan mereka selamat kembali ke Dusun Hulu. Barangkali Mangkota mencoba untuk melebih-lebihkan atau mengambil muka pada tuannya dan Residen untuk menunjukkan betapa besar jumlah korban di pihak pemberontak.

Tromp mencatat bahwa 60 orang pemberontak tewas, sementara di pihak Belanda, empat serdadu Eropa terbunuh, dua opsir Eropa dan seorang serdadu Eropa, mengalami luka-luka.

BACA JUGA : Perang Banjar di Hulu Barito dan Karamnya Onrust (2)

Dengan bantuan Suta Ono dan prajurit-prajurit Siongnya yang datang dari Marabahan setelah pertempuran usai, serdadu-serdadu mulai memburu para pemberontak di semua penjuru ibu kota, terutama di sekitar Kampung Teluk Masigit.

Mereka curiga bahwa sejumlah pemberontak masih bersembunyi di beberapa tempat tertentu sambil menunggu kesempatan untuk membalas dendam. Tempat-tempat pemukiman orang-orang Cina dan kulit putih Eropa berada di bawah perlindungan mereka yang ketat, terutama khawatir terhadap aksi pembakaran dan perampokan yang dilakukan oleh pihak pelawan.

Mengenai jalannya pertempuran dan jumlah korban selain versi di atas, ada pula dari versi lain. Dalam Mijn ambtelijk verleden: (1858-1894) ; Autobiografie ; met 28 afbeeldingen karya O. M. De Munnick Tahun 1912.

Ia merupakan pejabat kolonial yang saat itu menjadi pelaku pertempuran dan kemudian menjadi pemeriksa para pemberontak melaporkan bahwa pasukan Wangkang yang tampaknya menunggu kami di kediaman Ronggo diperkirakan berjumlah kurang lebih 600 orang.

BACA JUGA : Tenggelamnya Onrut, Kapal Modern dari Feyenoord dalam Perang Banjar (1)

Residen telah meminta saya untuk bergabung dengan kekuatan militer melawan Wangkang, apapun yang dia ingin lakukan. Saat itu jam 6 kami berbaris ke sana. Iring-iringan kecil itu dikomandoi oleh Kapten D. L. Hafelie dengan Letnan Le E.A.A. Kluge dan Letnan 2 J. Speenhoff; dan komandan regional-militer, Letnan Kolonel K. F. Schultz, dan ajudannya, “Letnan Le D.C. A. Westenberg, juga menemaninya.

Setelah berjalan hampir sepuluh menit, kami melihat kerumunan penduduk asli (pendukung Wangkang) bersenjata di dekat tempat tinggal ronggo; dan ketika kami berada sekitar seratus langkah dari mereka, atas permintaan Residen, perintah “berhenti” terdengar dari komandan iring-iringan kami.

Ketua upacara pribumi (ceremoniemeester- dalam buku Helius Sjamsuddin disebut Pangeran Syarif Hasyim) yang telah dipanggil oleh residen dalam perjalanan, sekarang diperintahkan untuk pergi menemui Wangkang dan menanyakan kepadanya apa artinya kedatangannya.

Jawabannya adalah: ‘Saya datang untuk mendapatkan keputusan amnesti saya’ – kemudian Residen kembali mengirim Ketua upacara pribumi kepadanya dengan pesan bahwa dia (Wangkang) harus menghadap ke hadapannya dengan konsekuensi tanpa senjata, dan ketika dia menjawab bahwa dia tidak ingin melakukannya, pembawa acara dikirim kepadanya untuk ketiga kalinya dengan informasi bahwa jika dia tidak memenuhi keinginan residen dalam waktu lima belas menit, dia akan menyerangnya dengan tembakan.

BACA JUGA : ‘Menggugat’ Kiprah Pangeran Antasari di Kecamuk Perang Banjar

Seperempat jam ditetapkan sebagai ultimatum berlalu tanpa Wangkang muncul, kemudian residen memerintahkan saya untuk memanggil penduduk sekitar untuk meninggalkan rumah mereka, karena tentara akan segera menembak dengan peluru tajam.

Untuk memenuhi tugas tu, saya pergi ke tengah-tengah antara musuh kami dan kekuatan militer, meneriakkan peringatan dengan suara nyaring. Orang-orang sekarang terlihat tergesa-gesa meninggalkan rumah mereka, dan segera setelah tembakan pertama terdengar dari senjata tentara kami. Itu memiliki efek yang kuat pada musuh yang berjarak dekat, meskipun lebar garis tembak tidak terlalu besar, karena para prajurit berdiri di jalan yang hanya selebar dua meter, dibatasi di satu sisi oleh pagar-pagar di depan rumah, dan seterusnya sisi lain di tepi Soengei Kween, sungai yang menghubungkan Barito ke Sungai Bandjermasin.

Karena lebar jalan yang sempit itu, hanya empat orang yang bisa berdiri di depan, dan ketiganya langsung jatuh dari barisan depan, terkena tembakan musuh yang mematikan, yang sebagian besar berasal dari blunderbusses (senapan pemuras).

BACA JUGA : Tokoh Sentral Perang Banjar, Pangeran Hidayat dan Tipu Muslihat Belanda

Saya diberi tugas untuk memindahkan mereka yang jatuh mati (orang Eropa) ke pos perdagangan yang terbengkalai yang terletak di tepi Soengei Kween, yang tidak mudah karena air surutnya rendah. Dengan bantuan polisi, saya telah memasukkan salah satu korban tewas ke dalam perahu ketika saya mendengar perintah “mundur” berbunyi dan melihat pasukan kami mundur dengan cepat, diikuti oleh beberapa pasukan musuh yang bersenjata Klewang.

Tanpa senjata, seperti saya, saya bergegas kembali ke pasukan kami, diikuti oleh para penjaga. Saya kemudian melihat bahwa dua jawara mengejar Kapten Hafelie dan Letnan Westberg, dan dengan pedang infanteri ringan mereka, mereka tidak mampu menahan pukulan Klewang yang berat dengan baik.

Suasana Sungai Miai di era kolonial Belanda

Mereka akan binasa di kamp itu jika bukan karena penembak Eropa menembak salah satu lawan dan kemudian menyerang yang lain dengan bayonet yang ditebaskan, lalu dia lari. Empat jari tangan kiri Kapten Hafelie terpotong – dia telah mengangkat tangan itu untuk menangkis sebuah pukulan! – dan Letnan Westenberg tertebas klewang di pinggul kanan.

Mundur diperlukan, mengingat sedikitnya kekuatan kami, ketika kerumunan besar musuh menarik diri ke belakang rumah-rumah pinggir jalan untuk menyerang kami dari belakang.

BACA JUGA : Politik Belah Bambu Snouck dalam Perang Banjar

Prajurit pribumi kami, hampir semua orang yang sangat muda yang belum pernah berada dalam pertempuran, berpikir, ketika mereka mendengar suara isyarat “mundur”, bahwa mereka harus melarikan diri secepat mungkin, sementara perintahnya adalah mundur sambal menembak terus-terusan. Kami bertahan di atas jembatan yang membentang di limpasan Soengei Kween ke Sungai Bandjermasin (Sungai Barito), titik di mana musuh tidak mungkin lagi menyerang kami dari belakang. Melihat ini, mereka menyebar dan benar-benar hilang tidak lama kemudian.

Kami mendapati 4 tewas dan 3 luka-luka dari pertemuan ini, termasuk 2 petugas. Kerugian musuh jelas jauh lebih signifikan, tetapi tetap tidak kami ketahui. Ketika sebuah patroli datang untuk mengumpulkan mayat pihak kami, mereka ditemukan tanpa kepala; musuh telah membawa kepala mereka sebagai tanda kemenangan; tapi beberapa hari kemudian dua di antaranya jatuh ke tangan kami, diawetkan dengan baik menggunakan kapur, wajah penuh sayatan untuk mengalirkan darah.

Kemungkinan bahwa musuh akan menunggu hingga malam kembali mendorong pihak berwenang untuk mengambil tindakan pengamanan yang diperlukan, yang terdiri dari menyiapkan penjaga yang kuat di perbatasan ibu kota dan menerangi area di sekitar Fort Tatas dengan baik dengan api yang besar dari kayu bakar, yang terus menyala sepanjang malam oleh pekerja paksa yang ditempatkan di sebelahnya.

BACA JUGA : Semangat Heroik Antasari Kobarkan Perang Banjar

Semua penduduk Eropa terus tinggal di Fort Tatas; sebagian besar ditampung di rumah sakit militer dan yang lainnya di penginapan yang disediakan oleh bintara. Jadi semua tinggal di benteng itu selama dua hari dua malam.

Laung Barajah yang dipercaya digunakan Panglima Wangkang bersama pasukannya saat menyerang Benteng Tatas.

Sehari setelah pertemuan di Kween dan juga hari-hari berikutnya, patroli militer menggeledah daerah kota utama di bawah Pemimpin Dayak Soeta Ono untuk melacak orang-orang jahat yang masih bersembunyi di kampung, dimana patroli militer dipimpin oleh saya, yang cukup akrab dengan medan. Kami tidak memiliki banyak kesuksesan dalam hal ini. beberapa korban luka yang ditinggalkan dikirimkan kepada kami oleh orang-orang. Wangkang telah kembali ke Marabahan dengan pendukung setianya dan telah menetap di sana di medan rawa, terletak di timur Barito, di seberang benteng kami, tetapi lebih di dalam negeri, terletak di sebuah benteng yang dibangun oleh mereka di Soengei Durachman.

Dalam koran  Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch- Woensdag 14 December 1870 diceritakan tempat itu sekarang terus-menerus dilalui oleh patroli yang ketat, dan para bapak dan ibu telah menghabiskan beberapa malam di benteng; Anda bisa mengerti betapa baunya di sana. Pada malam 30 November menuju ke 1 Desember berada di belakang misigit tempat sembajang dan setelah 12 jam jenazah utama yang gugur dikuburkan. Hujan deras yang mengerikan turun, air naik ke ketinggian yang luar biasa di jalan-jalan dan juga memasuki benteng.

Bagaimana Akhir Perjuangan Panglima Wangkang?

Kembali ke buku yang ditulis oleh Helius Sjamsuddin; Pagustian dan Tumenggung, Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinasti,. Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906 diceritakan bahwa pada 7 Desember, Panglima Tentara di Batavia mengirimkan Batalion ke-13 dari Surabaya. Batalion ini terdiri atas 13 opsir dan pembantu opsir serta 360 orang serdadu di bawah komando Mayor P.R. Rochemont.

BACA JUGA : Dari Benteng Tatas Menjadi Masjid Raya Sabilal Muhtadin

Dua hari kemudian mereka tiba di Banjarmasin. Pada 11 Desember, tentara ekspedisi itu meninggalkan Banjarmasin menuju Marabahan dengan kapal-kapal perang Banka dan Admiraal van Kinsbergen. Kapal-kapal Onrust dan Kapiten van Os sebelumnya telah ditempatkan di Marabahan.

Kekuatan tentara expedisi terdiri atas dua opsir dan 240 serdadu dari Batalion ke-13, serta dua opsir dan 60 serdadu dari garnizun Banjarmasin. Suta Ono dan prajurit-prajuritnya juga ikut datang membantu. Pada 27 Desember, pasukan-pasukan Belanda mengepung benteng Wangkang. Pertempuran akhirnya pecah meskipun tidak berlangsung lama. Di antara para penyerang terdapat van Ham dan Suta Ono. Serdadu-serdadu menembakkan kanon 5,5 inci dan melemparkan 15 buah granat ke dalam benteng. Ini semua tidak dapat ditandingi oleh senapan-senapan pejuang.

Makam Panglima Wangkang, pahlawan Perang Banjar-Barito di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala.

Akhirnya, mereka terpaksa meninggalkan benteng melalui sisi lain dan dengan jukung-jukung mereka menghilang. Ketika pada akhirnya para penyerang berhasil menduduki benteng. mereka menemukan banyak ceceran darah. Wangkang tewas dalam pertempuran ini ketika sebuah peluru mengenai kepalanya. Mayatnya diselamatkan oleh para pengikutnya dalam sebuah jukung dan menguburkannya di suatu tempat yang dirahasiakan.

BACA JUGA : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Dengan tewasnya Wangkang, para pengikutnya tersebar. Ada di antara mereka yang sempat melarikan diri ke Dusun Hulu, ada yang menyerah, tetapi ada pula yang ditangkap. Mereka yang ditangkap, sebagian digantung dan sebagian lagi diasingkan. Belanda mencoba melacak mayat Wangkang di Simpang Bahalang atau Simpang Durakhman pada 2 Januari 1871.

Putra Wangkang yang bemama Sahak diminta untuk mencari tubuh ayahnya serta membawanya ke Marabahan dan menguburkannya di tempat penguburan. Akhirnya, tanggal 8 Januari, Suta Ono menemukan tubuh Wangkang dalam air yang ditutup dengan balok kayu. Mayat Wangkang itu masih dapat ditandai oleh Sahak, sang anak, dan menantu Wangkang, Kiai Haji Demang Karsa Negara.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Sejarah Banjar

Ketua Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut Korwil Banjarmasin

Sekretaris Syarikat Adat, Sejarah dan Budaya (SARABA) Hulu Sungai

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.