Husairi Abdi

Terancam Digusur, Bantaran Sungai Kuin Bakal Dibangun Dermaga Pasar Terapung?

0

USAI belasan rumah digusur demi memuluskan proyek Jembatan HKSN yang menghubungkan ruas Jalan Kuin Cerucuk ke Kuin Utara (HKSN). Kini, properti warga Kuin Cerucuk RT 6 RW 2, Banjarmasin Barat, tinggal menunggu waktu untuk dibebaskan.

WARGA yang bermukim di bantaran Sungai Kuin ini rencananya akan direlokasi demi merealisasikan pembangun Dermaga Pasar Terapung. Sedikitnya, ada 10 rumah dan bengkel yang tinggal menunggu penggusuran.

Pemilik bengkel mesin, Sugeng mengungkapkan memang ada rencana Pemkot Banjarmasin untuk memanfaatkan lahan di bantaran Sungai Kuin menjadi Dermaga Pasar Terapung. Bahkan, Sugeng mengaku sudah mempersiapkan diri, jika nanti rumah yang disulapnya menjadi bengkel mesin kapal itu akan digusur.

“Dari pihak pemerintah kota mengabarkan akan membangun Dermaga Pasar Terapung. Ya, kemungkinan begitu selesai pembangunan Jembatan HKSN, rencana itu akan terealisasi,” ucap Sugeng kepada jejakrekam.com, Sabtu (25/9/2021).

Menurut dia, dari pengalaman pembebasan rumah dan lahan untuk proyek Jembatan HKSN dipatok harga Rp 2 juta per meter. Walau berada di pelosok kota, toh kawasan itu termasuk sangat dekat kawasan wisata Pasar Terapung Muara Kuin.

BACA : Senja Kala Pasar Terapung Kuin dalam Memori Tersisa Mendiang ‘Acil RCTI Oke’

Sugeng mengaku hanya bisa pasrah. Walau sebenarnya, Pemprov Kalimantan sudah membangun Dermaga Pasar Terapung terletak di Jalan Alalak Selatan RT 2, Banjarmasin Utara. Namun, posisi Pasar Terapung Kuin ini harus ‘terhalang’ dengan Dermaga Penyeberangan Alalak-Soebardjo.

“Kabarnya begitu. Dermaga yang ada akan dipindah ke Kuin Cerucuk, persis di muara Sungai Kuin. Walau sebelumnya, pernah menggunakan Dermaga Makam Sultan Suriansyah, tapi karena pandemi Covid-19, kabarnya tak dilanjutkan lagi,” ucap Sugeng.

Mantan Ketua Komisi IV DPRD Banjarmasin periode 2014-2019, Aman Fahriansyah mengingatkan agar sebelum membangun Dermaga Pasar Terapung ke Kuin Cerucuk, dikaji lebih dulu aspek historis, ekonomi dan dampak sosialnya.

Aktivitas bengkel mesin kapal di bantaran Sungai Kuin, Kuin Cerucuk.

Ia bercerita dulu kakeknya merupakan seorang Pambakal Kuin bernama Haji Mansjoer pada 1930-an. Nah, menurut Aman, waktu itu, Ratu Belanda Wilhemina (1890-1949) pernah berkunjung sebentar ke Pasar Terapung Kuin.

“Ayah saya H Gazali bercerita waktu itu, Ratu Wilhemina sempat beristirahat di rumah kakek saya di Kuin Cerucuk. Makanya, titian kayu ulin yang sempat diinjak Ratu Belanda itu pun diberima titian ratu,” kata Sekretaris DPC PPP Banjarmasin ini.

BACA JUGA : Pasar Terapung Kuin Alalak Di-Launching, Ibnu Sina: Menghidupkan Kembali Warisan Budaya

Sayang, titian terbuat dari kayu ulin itu lapuk dimakan usia. Dari sini, Aman mengungkapkan nama Kuin itu dikaitkan dengan kedatangan Putri Orange-Nassau atau Queen Wilhemina. Politisi asli Kuin ini mengungkapkan dulunya kawasan Pasar Terapung itu sangat luas, tidak seperti sekarang bergeser ke muara Sungai Alalak.

“Dulu ada tiga lokasi Pasar Terapung Kuin. Sebelumnya, dermaga itu awalnya berada di kawasan Depo Pertamina Banjarmasin. Itu dermaga khusus untuk perdagangan ikan laut dan sungai. Sedangkan, di muara Sungai Kuin adalah pasar hasil bumi terutama sayur-mayur dan buah-buahan. Sementara, di muara Sungai Alalak kebanyakan diisi para pedagang makanan dan rumah lanting yang menyajikan makanan khas Banjar,” cerita Aman.

Ia ingat betul cerita sang kakek yang disampaikan ayahnya, dulu di Pasar Terapung Kuin itu banyak perahu tambangan, kini berganti rombong (jukung beratap).

“Nah, di depan masuk Sungai Duyung (Belitung) itu dulu ada dok kapal milik Belanda bernama Gouverneursdok. Dulu, banyak bangkai kapal Belanda di tempa itu, seiring waktu menghilang,” beber Aman.

BACA JUGA : Disengaja atau Tidak Disengaja, Pasar Terapung Kuin Kian Dilupakan Eksistensinya

Dia pun hakkul yakin nama Kuin atau Queen itu sangat berhubungan dengan kedatangan Ratu Belanda, karena kawasan Kuin (Banjar Lama) termasuk Pasar Terapung merupakan tanah kekuasan Gubernur Jenderal Belanda (Gouvernuer Land), setelah diserahkan Kesultanan Banjar lewat Staatblad 1888 Nomor 84.

“Makanya, muara Cerucuk termasuk Pasar Terapung merupakan akses masuk menuju Fort van Tatas (Benteng Tatas) yang berada di tepian Sungai Martapura (kini jadi kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin). Sebagai pengontrol kawasan bumipetera Banjar Lama yang berpusat di Sungai Miai, Residen Belanda di Fort van Tatas menunjuk Temunggung Ronggo Tanu Karsa. Sedangkan, kakek saya menjadi Pembakal Kuin,” pungkas Aman.(jejakrekam)

Pencarian populer:kelotok di sungai kuin
Penulis Asyikin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.