Penanganan ‘Calap’ dan Visi Calon Pemimpin Kota Banjarmasin, Masih Adakah Harapan?(1)

0 119

Oleh : Dr H Subhan Syarief

KETIKA musim hujan tiba, kemudian hujan lebat atau hujan ber intensitas panjang turun bisa dipastikan akan banyak kawasan Kota Banjarmasin yang tergenang air.

INILAH pengalaman rutin dari tahun ke tahun ketika hujan mendera berdurasi panjang dan lebat apalagi bila terjadi di musim hujan, maka bahu jalan sampai dengan kawasan permukiman pun akan banyak yang tergenang, banjir atau istillah Banjarnya disebut ‘calap’.

Calap adalah kasus klasik, walaupun telah silih berganti para Walikota Banjarmasin yang memimpin atau memanajeri kota ini. Antara lain di era Walikota Sofyan Arpan, HA Yudhi Wahyuni , Muhidin dan bahkan yang paling anyar eranya Walikota termuda Ibnu Sina yang bisa dikatakan sukses membuat ‘image’ keberhasilan dalam menata kota.

Hanya saja, kalau sudah urusan calap ternyata selama 5 tahun memimpin tidak juga banyak berhasil karena sampai saat ini calap masih melanda. Dan mungkin saja’karena penasaran dengan hal ini, kemudian Ibnu Sina bertekad kembali maju bersama pasangan baru, Arifin Noor mantan Kepala Dinas PUPR Kota Banjarmasin yang berlatar ahli teknik.

BACA : Hujan Lebat Sebentar, Banjarmasin Sudah Dikepung Banjir

Mereka berdua bersaing dengan kandidat lain dalam berjuang merebut jabatan untuk ke dua kalinya. Kemudian tak heran dan mudah dipahami, dalam menunjang seolah hal calap ini sudah mulai bisa di atasi sebagai bagian dari program kesuksesan maka Dinas PUPR Kota pun di ujung jabatan walikota berupaya mengenjot habis-habisan hal pembenahan berbagai saluran drainase yang ada di berbagai kawasan kota.

Menanggani calap/banjir di Kota Banjarmasin tidaklah bisa dianggap sederhana. Apalagi, bila hanya menafsirkan sekedar pembenahan atau dianggab itu karena hal masalah drainase. Drainase hanya sebagian masalah yang ada di hulunya saja. Dan dasarnya ini tidak terlalu berat bila paham hal karakteristik air di kawasan Kota Banjarmasin dan sekitarnya, terutama di aspek hilirnya.

Karena asal muara dari masalah adalah disebabkan hal aspek hilir yang gagal dijaga, dipelihara dan bahkan dibenahi. Aspek hilir ini terlihat malahan dianggap tidak begitu penting untuk diperhatikan dan fokus dibenahi oleh warga kota, terutama sekali kebijakan serta langkah nyata dari para pemangku/ pengelola kota, termasuk tentu walikota selaku manajer kota.

BACA JUGA : Diguyur Hujan Lebat, Beberapa Ruas Jalan di Kota Banjarmasin Tergenang Air

Bicara aspek hilir terkait calap/banjir, paling mendasar minimal ada tiga hal penting yang harus dicermati.

Pertama, hal kondisi posisi kenaikan permukaan air pasang/muka laut terhadap muka daratan kota Banjarmasin adalah penting yang perlu untuk dicermati. Dampak dari pemanasan global yang menyebabkan melelehnya es di kawasan artatika juga membuat permukaan air laut pasang semakin meninggi.

Kenaikan permukaan air laut ini ujungnya juga membuat kondisi air pasang di sungai turut menaik. Tentu bagi Kota Banjarmasin sangat rentan, mengingat posisi permukaan daratan yang berada dibawah permukaan air laut.

Posisi ini bila berdasar data 30 tahunan lalu ada di kisaran 17 centimeter. Kondisi sekarang pasti berubah, dipastikan telah semakin tinggi berada di bawah permukaan laut. Kenaikan permukaan air laut akibat dampak pemanasan global bila saja diasumsikan terjadi peningkatan setahun sekitar 0,5 centimeter (cm)/ 5 milimeter, lalu korelasikan ke jangka 30 tahunan yang telah dilalui, maka didapatkemungkinan tambahan kenaikan muka air pasang sekitar 15 cm.

BACA JUGA : Ada Trip Baru Wisata Susur Sungai di Banjarmasin

Kondisi ini bila  ditambahkan dengan data kondisi awalnya (30 tahun lalu) yang berada di bawah 17 cm dari muka air laut. Artinya posisi saat ini adalah ada kemungkinan ada di kisaran 30 sampai dengan 32  cm di bawah permukaan air laut.

Tentu bila kemudian air sungai pasang tingginya diasumsikan juga sama dengan kondisi muka air laut tersebut, maka ketika mengkorelasikan ke hal penataan bagian hulu. Misal saja, ketika menanggani hal seperti drainase bisa menuai masalah.

Semua tahu bahwa ketika mau membuat saluran drainase kota ataupun drainase lingkungan hal posisi muka air sungai menjadi faktor penting yang menentukan berhasil tidaknya atau berfungsinya tidaknya sebuah drainase untuk menjadi tempat saluran pembuangan air.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Ketua LPJK Provinsi Kalimantan Selatan

Pengamat perkotaan di Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.