Kisah Dua Sahabat; Subhan-Hilman yang Raih Doktor Hukum Konstruksi dengan Cum Laude

0

SAMA-sama jebolan magister teknik kerjasama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, kini dua sahabat Subhan Syarief dan Mokhamad Hilman, kembali meraih gelar doktor hukum.

KALI ini, keduanya mampu mempertahankan disertasi S3 untuk program mahasiswa doktoral di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang dengan raihan lulusan banyak pujian alias cum laude, pada Jumat (9/10/2020).

Dalam ujian terbuka via virtual, baik Subhan Syarief yang merupakan Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kalsel dan Mokhamad Hilman, Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar ini bisa lulus dengan cum laude. Keduanya pun mendapat pujian dari para promotornya.

Keduanya pun, kini berhak menempatkan gelar doktor di depan namanya. Ini setelah, Hilman yang merupakan lulusan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat dan pasca sarjana ITS Surabaya dan Subhan Syarief yang lulus dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dan ITS Surabaya ini, cukup lama menyandang gelar magister teknik.

BACA : Lelang Batal, Ada 2.518 Pelaku Usaha Konstruksi di Kalsel Terdampak Corona

Hilman sendiri berhasil mempertahankan disertasi berjudul Rekonstruksi Norma Perjanjian Kontrak Kerja Konstruksi di Pemerintahan yang Berbasis Nilai Keadilan. Sedangkan, rekannya, Subhan Syarief mengupas dalam disertasi bertajuk Rekonstruksi Pengaturan Sanksi Hukum Kasus Kegagalan Bangunan dalam Jasa Konstruksi yang Berbasis Nilai Keadilan.

“Alhamdulillah, saya bersama saudara Hilman sudah bisa menyelesaikan ujian terbuka disertasi dengan hasil cum laude. Kami berdua pun berhak mendapat gelar doktor,” kata Subhan Syarief kepada jejakrekam.com, Sabtu (10/10/2020).

Diakui Subhan, dirinya bersama Hilman sama-sama dibesarkan di disiplin ilmu teknik. Subhan merupakan lulusan arsitektur dan salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalsel. Sedangkan, Hilman merupakan sarjana teknik (insinyur) di bidang teknik sipil.

Kenapa mengambil doktor hukum, bukan doktor di bidang teknik agar linier? Menurut Subhan, alasan mereka berdua memasuki dan mendalami disiplin ilmu hukum agar ada orang yang berlatar belakang teknik bisa juga mengetahui, memahami bahkan menguasai ilmu hukum.

“Tentu saja, ilmu hukum ini terkait dengan dunia konstruksi yang kebetulan masih tidak banyak ahlinya. Khususnya, doktor hukum konstruksi,” papar Subhan.

BACA JUGA : Masih Pandemi Covid-19, RAPBD Perubahan 2020 Kabupaten Banjar Alami Penurunan

Bagi mantan Ketua DPP Intakindo dan Inkindo Kalsel ini, banyak kasus hukum yang saat ini mendera pelaku jasa konstruksi dalam pembangunan infrastruktur fisik.

“Dengan begitu, kami berdua yang berbasis teknik dan mendalami hukum konstruksi, suatu saat orang teknik yang turut terlibat dalam melakukan penelaaah, baik kebijakan maupun berkait kasus hukum,” papar Subhan.

Harapan arsitek senior ini adalah adanya perlakukan bagi pelaku konstruksi bisa lebih profesional dan berkeadilan.

“Apalagi, terkhusus saya yang kebetulan juga adalah salah satu arbiter yang lulus ujian nasional. Jadi, bisa bertugas ketika menangani kasus sengketa konstruksi,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.