Mata Pelajaran Sejarah Dihapus? Akademi ULM : Bertolak Belakang dengan Nawacita Jokowi

0 200

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana membuat mata pelajaran sejarah menjadi tidak wajib dipelajari siswa SMA dan sederajat.

KHUSUS di kelas X, sejarah digabung dengan mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Kemudian, bagi kelas XI dan XII mata pelajaran sejarah hanya masuk dalam kelompok peminatan yang tak bersifat wajib.

Rencana penghapusan mara pelajaran sejarah, lantas mendapat penolakan keras dari pengajar sejarah. Akademisi FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin Mansyur berpendapat dalih beban kurikulum nasional terlalu berat yang menjadi dasar penyederhanaan kurikulum adalah sebuah kekeliruan.

“Perbandingan jumlah mata pelajaran antara kurikulum nasional dengan kurikulum di sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Inggris, Jerman, dan Finlandia menunjukkan bahwa jumlah mata pelajaran di Indonesia pada ⁣seluruh jenjang pendidikan tidak lebih banyak dari jumlah mata pelajaran di negara yang dijadikan ⁣ perbandingan,” ujar Mansyur yang akrab disapa Sammy, sapaan akrabnya kepada jejakrekam.com, Minggu (20/9/2020).

BACA : DPRD Kalsel Sambut Hangat Mata Pelajaran PMP Dihidupkan Lagi

Akademi FKIP ULM Mansyur ‘Sammy’


Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan ini menyebut jumlah mata pejajaran di Indonesia pada jenjang SD dan SMP tercatat paling sedikit, di antara negara-negara lainnya.

Sementara, beber dia, untuk jenjang SMA memiliki jumlah yang sama dengan negara lain, hanya lebih sedikit dari Malaysia dan Inggris.⁣

“Mata pelajaran sejarah penting untuk diajarkan pada seluruh jenjang pendidikan. Arti penting Sejarah Indonesia terletak pada fungsi yang melekat pada sejarah itu sendiri. Yakni, mengembangkan jati diri bangsa, mengembangkan collective memory sebagai bangsa, ⁣
mengembangkan keteladanan dan karakter dari para tokoh, mengembangkan inspirasi, kreativitas, dan kepedulian sosial bangsa, dalam membangun nasionalisme yang produktif,” papar magister sejarah Undip Semarang ini.

BACA JUGA : Diawali Kecamatan BAS, Wabup Berry Minta Internet Gratis Menyeluruh di HST

Dalam konteksnya, kata Sammy, reduksi mata pelajaran sejarah dengan hanya menjadi bagian dari IPS pada kelas X dan mata pelajaran pilihan kelas XI dan XII SMA serta penghapusan mata pelajaran ⁣sejarah pada jenjang SMK dalam draft penyederhanaan kurikulum merupakan kekeliruan cara pandang terhadap tujuan pendidikan.⁣

“Penghilangan mata pelajaran sejarah dengan hanya ⁣
menjadikan sebagai pilihan berpotensi mengakibatkan hilangnya kesempatan siswa untuk mempelajari sejarah bangsa. Tentu saja, menghilangkan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” tegas Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel.

Rencana ini, dinilai Sammy justru bertolak belakang dengan visi Nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi), yaitu revolusi karakter bangsa, melalui penataan kembali kurikulum pendidikan nasional.

“Karena itulah kami menolak dengan tegas reduksi mata pelajaran sejarah sebagaimana tertuang dalam rancangan penyederhanaan kurikulum. Kemudian mendesak dikembalikannya sejarah sebagai mata pelajaran wajib pada seluruh jenjang pendidikan menengah: SMA/SMK/MA/MAK,” ucapnya.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi GS

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.