ACT

Pertempuran Hambawang Pulasan, Kisah Heroik dari Birayang

0 1.457

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

PASCA Proklamasi 17 Agustus 1945, sebenarnya menjadi momen Urang Banjar untuk sejenak menghirup udara kemerdekaan. Tapi jauh api dari panggang. Bukannya menikmati indahnya kata yang disebut ‘merdeka’, ternyata cengkeraman kolonialisme masih ada residunya di Banua.

AKSI NICA-Belanda membonceng tentara Sekutu Australia ke Kalimantan Selatan, kembali ingin membangun hegemoni dan kolonisasi di daerah ini.

Wajar memang, sebagai bagian tentara Sekutu yang menang perang, NICA berusaha menyusun kembali pemerintahan sipil. Tetapi, hal ini tidak dapat diterima. Orang Banua tidak ingin kembali hidup dalam bayang gelap penjajahan.

Hal inilah yang menjadi embrio munculnya kelompok perjuangan bersenjata, bergerilya, lari ke gunung-gunung, menyusun kekuatan dan berusaha untuk mengusir NICA. Kelompok ini dimotori ulama dan rakyat biasa.

BACA : Berorasi di Lapangan Merdeka, Soekarno Lawatan ke Barabai dan Amuntai

Dalam baboon Sejarah Banjar (2013) terekam bagaimana kehadiran NICA disambut dengan rasa kebencian oleh rakyat Kalimantan Selatan. Kebencian ini mengakibatkan terjadinya bentrokan-bentrokan di mana-mana.

Bermula penganiayaan seorang serdadu NICA di Pasar Min Seng Banjarmasin. Disusul, peristiwa penikaman polisi NICA di Barabai. Selanjutnya makin begejolak ketika terjadi penghancuran mobil NICA di Banua Padang, Rantau.

Belum lagi, insiden-insiden di beberapa kota lainnya merupakan luapan kemarahan dan pelahiran rasa kebencian pada penjajah NICA. Terjadilah era revolusi fisik tahun 1945-1949 sebagai ungkapan perlawanan dan upaya mempertahankan kemerdekaan yang telah lama diperjuangkan.

Satu kisah nan heroik ini adalah “Pertempuran Hambawang Pulasan”, di wilayah Birayang (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah), hari ke-18 Ramadhan, tepatnya di bulan Mei 1947.

BACA JUGA : Hassan Basry Pencetus Peristiwa Tiga Selatan, Soekarno pun Dibuatnya Marah Besar

Berawal dari peristiwa beberapa bulan setelah terbentuknya Gerakan Pemuda Indonesia Merdeka (GERPINDOM) di Birayang, datang utusan dari Jawa, R. Hadikusuma. Ia membawa berita bahwa terjadi perubahan nama TKR menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).

GERPINDOM pun berganti nama menjadi TRI Pasukan MN 1001/GERPINDOM. Nama “Pasukan MN 1001” diambil dari nama Gubernur Kalimantan Ir Pangeran Muhammad Noor. Sekitar jam 09.00 pagi, Maret 1947, Abdurrahman Karim, sang Komandan Komando Umum GERPINDOM di Birayang bersama dengan H Aberanie Sulaiman di Birayang menerima laporan dari anggotanya Ardani.

Laporan itu menyebut bahwa H Damanhuri yang ditugaskan mencari senjata ke Balikpapan (Kalimantan Timur) telah kembali. Mereka bersama rombongan pasukan John Masael, bersenjata lengkap di hutan Jawa Lanting Lokbatu. Tanpa menunda waktu, keduanya berkendaraan sepeda berangkat dari Birayang menuju Lokbatu.

BACA JUGA : Proklamasi 17 Mei 1949, Perjuangan Borneo Bagian Selatan Menjadi Indonesia

Dalam baboon Sejarah Banjar (2013) juga dipaparkan pada sore harinya rombongan pasukan John Masael yang sedang beristirahat di hutan Jawa Lanting Lokbatu itu mendadak diserang polisi dan militer Belanda.

Dari segenap jurusan dengan kekuatan besar, serdadu Belanda menyerang. Walau bisa meloloskan diri, akhirnya Kampung Kumpang Maligung, hancur. Rombongan pasukan John Masael juga berhasil ditaklukkan, hingga beberapa orang tertangkap. Anggota lainnya bernama Sarigading yang menyamar, ditembak mati polisi Belanda, sewaktu dia menumpang mobil angkutan di Banua Binjai (Barabai Kota) hendak ke Banjarmasin.

Kejadian ini tersiar hingga ke markas GERPINDOM di Gua Kudahaya, Birayang. Demi misi balas dendam, menjelang Maghrib, semua anggota yang berada di Gua Kudahaya Birayang bermaksud menyerang kantor Pemerintahan/Polisi Belanda Birayang.

Untuk itu, malam harinya di rumah Utuh Hingkung di Kampung Rantau Birayang, oleh pimpinan GERPINDOM Birayang digelar rapat. Hasilnya, ada sepakat melakukan penghadangan terhadap setiap kendaraan yang berisi polisi atau militer Belanda yang lewat di Hambawang Pulasan.

Selepas makan sahur kurang lebih jam 12.00 malam diberangkatkan beberapa anggota GERPINDOM menuju Hambawang Pulasan. Pada pagi harinya, pasukan siap tempur dengan senjata modern. Mereka terdiri dari H Aberanie Sulaiman, Made Kawis, H Damanhuri, Jamhar, Ancau, Hamdi Idar dan Suni.

BACA JUGA : Ganti Borneo dengan Kalimantan, Kisah Perjuangan Kaum Sopir Barabai

Mereka berjumlah 7 orang, sudah siap di tepi jalan raya di Hambawang Pulasan antara Ilung dengan Batu Mandi. Sedangkan lima orang lainnya yang tidak bersenjata diposisikan kurang lebih 100 meter di belakang.

Hingga pada pukul 09.00 pagi hari ke-18 bulan puasa bulan Mei 1947, lewat salah satu truk yang penuh berisi militer Belanda. Melihat musuh, pasukan berani mati ini tanpa membuang waktu lagi, berlompatan dari persembunyiannya.

Mereka memuntahkan peluru dari moncong senjata modern, ketika musuh sedang lengah. Militer Belanda tidak menduga ada serangan mendadak, hingga semuanya tewas di tempat. Sedangkan, truk militer itu terjungkir ke samping jalan.

Sebelum para pejuang berhasil merampas senjata, ternyata satu truk berisi penuh militer Belanda datang lagi. Alhadil, terjadi pertempuran sengit dan seru. Jarak tembak pun hanya sekira satu meter. Namun tanpa diduga, rupanya terdapat tambahan pasukan Belanda yang datang, sebelumat pertempuran ini bergejolak segala penjuru.

Adu peluru panas pun menyeruak di lokasi itu. Bau asap dari kedua pihak berhadapan ini justru membakar semangat para pejuang Banua, walau hanya berkuatan tujuh personel. Sedangkan, lima pejuang lainnya terpaksa menghindar, karena tak memegang pistol atau senjata laras panjang.

BACA JUGA: Arus Kebangkitan Nasional dari Kalimantan Selatan dalam Panggung Sejarah

Peristiwa heroik itu pun dikenal dengan Pertempuran Hambawang Pulasan. Dalam suasana pertempuran yang demikian seru tersebut, Made Kawis menderita luka parah ditembus peluru musuh. Ia banyak mengeluarkan darah, sehingga para pejuang terpaksa mengundurkan diri.

Sementara di pihak pasukan Belanda diperkirakan banyak korban, baik yang meninggal maupun yang menderita luka berat atau ringan. Hal menguntungkan dari peristiwa ini, adalah merosotnya jiwa militer Belanda akibat disergap di tengah hutan.Sebaliknya bagi para pejuang dan rakyat berakibat bangkit dan tergugahnya jiwa dan semangat perlawanan.

BACA JUGA : Suara Kritis Pers Perjuangan dan Menguatnya Kapitalisasi Media Massa

Selanjutnya besok harinya, semua anggota pasukan sudah berada kembali di Markas GERPINDOM Birayang di Gua Kudahaya, terkecuali Made Kawis dan Utuh Kandangan tertangkap dan tertembak oleh militer Belanda  di Kias Tapuh Birayang.

Made Kawis gugur sebagai kesuma bangsa. Sementara, Utuh Kandangan tidak cedera sedikitpun bahkan pulang dengan selamat ke Gua Kudahaya, markas GERPINDOM.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.