Suara Kritis Pers Perjuangan dan Menguatnya Kapitalisasi Media Massa

0 495

SEJARAH pers di Kalimantan Selatan, penuh berliku dan tergolong tua. Para kuli tinta ini pun menggelorakan semangat nasionalisme dan perjuangan memerdekaan negeri ini, khususnya Banua dari cengkraman penjajahan Belanda.

DALAM buku Sejarah Banjar yang disusun tim editor M Suriansyah Ideham dkk (2003), menggambarkan gerakan pers perjuangan yang dimotori sejumlah tokoh pers Banua di masa kolonial Belanda, seperti kelahiran Koran Suara Kalimantan, Sinar Holoe Soengai (Hulu Sungai) yang memanfaatkan mesin cetak surat kabar Jepang, Borneo Simboen.

Para tokoh Sinar Hulu Sungai dan kemudian melahirkan Majalah Republik, seperti A Djabar, Haspan Hadna dari Kandangan, hingga berpindah kantor ke Kertak Baru (sekarang Jalan MT Haryono) di Banjarmasin. Di era ini, juga muncul tokoh pers seperti Merah Danil Bangsawan, dan Adonis Samad.

BACA : Kritik Pemerintah Kolonial Belanda, Tokoh-Tokoh Parindra Banua Pun Diganjar Penjara

Sementara, dalam buku Suluh Sedjarah Kalimantan, ditulis Amir Hassan Bondan (1925-1953), pada 1923 berdiri di Banjarmasin sebuah perhimpunan kalangan terpelajar bernama Het Leegezelshcap (Taman Pembacaan), dimotori Dr Rusma, Gusti Tjitra, Kumala Adjaib, Amin Hassan, Mas Abi dan Abdullah, hingga menerbitkan majalah mingguan bernama ‘Malam Djumat’.

Majalah ini pun diuraikan Amir Hassan Bondan, yang awalnya membahas soal keagamaan dan kebangsaan, juga mengarah pada sebuah perjuangan pers, di tengah menggeliatnya pergerakan organisasi-organisasi massa menentng Belanda di ibukota Borneo Selatan, ketika itu.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama filenya adalah borneo-simboen1.jpg

Saat itu, di Banjarmasin dan kawasan Hulu Sungai, berdiri berbagai macam organisasi masyarakat seperti Sarekat Islam (1923), dimotori Maradja Sayuti Lubis dan HM Arip dan Housman Babu, disusul Muhammadiyah di Alabio yang dirintis Hadji M Djapri serta organisasi jaringan nasional maupun bertaraf lokal.

BACA JUGA : Ganti Borneo dengan Kalimantan, Kisah Perjuangan Kaum Sopir Barabai

Semua gerakan baik berbasis keagamaan dan nasionalisme, selalu menyuarakan agar Belanda mengakhiri penjajahannya yang sudah berlangsung ratusan tahun itu. Mereka menghadirkan media massa untuk mengimbangi suara-suara pers yang pro Belanda.

Dari sinilah, muncul nama-nama tokoh pers Kalsel yang menasional. Seperti dari Koran Soeara Kalimantan yang pertama terbit pada 23 Januari 1930, dengan tokohnya A.A Hamidhan juga menyuarakan perjuangan anak negeri.

Walau, dalam buku Sejarah Banjar, Suara Kalimantan juga kerap dipakai NICA-Belanda untuk keperluan propagandanya. Sayangnya, percetakan Suara Kalimantan, yang mempunyai agen hingga ke Batavia (Jakarta) dan Surabaya menjadi sasaran amukan dari serdadu Belanda tergabung di Algemene Vernielings Corps (AVC), jelang kedatangan pasukan Jepang di Banjarmasin pada 1942 dalam operasi pembumihanguskan Banjarmasin. Mesin percetakan ini pun kemudian dibuang ke Sungai Martapura, sebelum Jepang datang.

BACA LAGI : Musyawaratutthalibin, Ruh Perjuangan Organisasi Islam Terbesar di Tanah Kalimantan

Dalam buku Sejarah Banjar, diuraikan peran para tokoh pers republiken ini melahirkan surat kabar Kalimantan Berdjoeang, yang konsen menyuarakan perjuangan kemerdekaan Indonesia di Kalimantan Selatan.

Sasaran penangkapan NICA-Belanda pun mengarah ke tokoh-tokoh pers yang lantang dan kritis bersuara karena karya jurnalistiknya, seperti Haspan Hadna, Adonis Samad, hingga Yusni Antemas, Zafry Zamzam, serta tokoh-tokoh lainnya.

Secara rinci, Artum Arta, seorang wartawan kawakan di masanya juga menulis dalam buku tipisnya berjudul Sedjarah Kota Bandjarmasin (1970), beberapa surat kabar yang terbit di Tanah Banjar.

Diawali Suara Bornoe (1900), Pewarta Borneo (1901), Sinar Bornoe (1906), Pengharapan (1907), Sin Tit Po (1929), Bintang Borneo (1926), Borneo Post (1927), Suara Kalimantan A.A Hamidhan (19300, Expres (1938), Pantjaran Warta (1938), Tjanang (1927), Malam Djumat (1927), Bingkisan (1927), Utusan Kalimantan dimotori Hadharijah M (1927), Centrum (1936), Perintis (1935), Suara Pakat Dayak (1937), Pemuda Muslim MULO (1937), Berita Bahalap (1939), Surya (1939), Kalimantan Raya (1942), Borneo Shimboen (1943), Pelita Masjarakat (1935), Suara B.I.C (1936).

BACA JUGA : Yusni Antemas: Si Kuli Tinta, Langganan Masuk Penjara

Hingga di masa pra dan pasca kemerdekaan RI, juga lahir Suara Kalimantan di bawah pimpinan Gusti A Sugian Noor pada 5 Oktober 1945, Kedaulatan, Berita Merdeka, Berita S.K.I, yang terbit pada 1946. Lalu, pada 1947-1958, ada pula media massa yang terbit seperti Islam Berdjuang, Sinar Islam, Kalimantan Berdjuang, Pengharapan, Waspada, Remadja, Tekad, Njata, Pedoman Wanita, Madjalah Kalimantan, Terompet Islam, Majang Mekar, Pelita Rakyat, Utusan Kalimantan (Artum Artha), Pembangunan, Sabilillah, Perjuangan, hingga Madjalah Kebudajaan Gerak.

Artum Artha yang juga mantan Ketua DPRD Kotamadya Banjarmasin ini memberi catatan bahwa Kalimantan Berdjuang dijual kepada Tjanang Press hingga berganti nama menjadi Indonesia Berdjuang.

BACA JUGA : Hassan Basry Pencetus Peristiwa Tiga Selatan, Soekarno pun Dibuatnya Marah Besar

Sedangkan, tulis Artum Artha, Suara Kalimantan dan Borneo Post tahun 1945 merupakan suara dari R.V.D Bandjarmasin, serta ada pula surat kabar yang terbit pada 1967-197 yang dimotori para aktivis mahasiswa seperti Djok Mentaya, Anang Adenansi dan lainnya seperti Mimbar Mahasiswa, Martju Suar, Intan Sari, Manikam dan Dinamika.

Secara khusus, tim editor buku Sejarah Banjar disusun M Suriansyah Ideham dkk, menggambarkan perjuangan Soera Hoeloe Soengai (Suara Hulu Sungai) yang lebih pro kepada perjuangan republikan di Kalimantan Selatan dalam melawan penjajahan Belanda.

Ini karena kedekatan tokoh-tokoh Suara Hulu Sungai seperti Haspan Hadna, Zafry Zamzam dan Merah Danil Bangsawan, sangat akrab dengan tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan, hingga mereka ditangkap Belanda. Termasuk, melahirkan  Majalah Republik dicetak stensilan, dan Harian Kalimantan Berdjuang.

BACA LAGI : Sentuhan Tangan HM Arip, Sang Ketua Pedoman Besar Sarekat Islam Banjarmasin

Bahkan, secara khusus, dalam tajuk dan beritanya Harian Kalimantan Berdjuang menentang federalisasi Indonesia hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) 23 Agustus-2 November 1946, serta konferensi lainnya dan mendukung NKRI. Ketika tokoh-tokohnya diamankan Belanda, perjuangan itu diteruskan Trompet Rakyat yang bermarkas di Amuntai, dimotori Hamran Ambrie dan Yusni Antemas.

Harian Trompet Rakyat pun mengusung misi mempertahankan NKRI dan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Walau harian ini tidak dicetak untuk dijual eceran, hanya untuk para pelanggan, namun sajian berita dan opininya dalam segmen ‘Pojok’ sangat memengaruhi ruh perjuangan di Kalimantan Selatan.

Ketika itu, walau dicetak di Amuntai, namun sebaran harian ini menyentuh seluruh kota-kota yang ada di Kalimantan Selatan. Hingga Pemerintah Belanda pun melayangkan peringatan keras, karena para pentolan Trompet Rakyat ini selalu membongkar kebobrokan politik kolonial dalam editorialnya.

Segala pendekatan baik persuasif, tawaran yang menggiurkan bahkan kekerasaan fisik tak membuat Trompet Rakyat, tunduk. Hingga jalan militer ditempuh NICA-Belanda, dengan menangkap dua tokohnya, Hamran Amrie dan Yusni Antemas dan dijebloskan ke dalam penjara. Mereka pun berstatus tahanan militer di markas NICA Belanda dekat Lapangan Terbang Ulin (sekarang Bandara Syamsudin Noor).  

Seiring itu pula, nasib Harian Trompet Rakyat pun tamat, ketika terjadinya Agresi Militer II Belanda, tak sempat lagi para penerusnya untuk mengorbitkan media massa yang kritis ini.

BACA JUGA : Jejak Rekam Anang Adenansi di Mata Putra Sulungnya, Anang Rosadi

Pengamat media yang juga dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Selatan, HM Syarbani Haira mengungkapkan sejarah panjang pers Kalimantan Selatan tak bisa dipisahkan dari ruh perjuangan kemerdekaan dan kebangsaan.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama filenya adalah 2321-Koran-Suara-Kalimantan-Berjuang-Th-1949-2.jpg

“Bahkan, budaya literasi masyarakat Kalsel itu ada jauh sebelum Republik Indonesia ini berdiri. Ya, sekitar tahun 1990-an, sudah banyak terbit media masa di Banjarmasin, Kandangan, Amuntai, Barabai dan kota-kota lainnya di Kalsel,” ucap Syarbani Haira kepada jejakrekam.com, Minggu (10/2/2020).

Mantan wartawan ini mengungkapkan surat kabar, majalah atau bentuk lainnya dari media massa di masa perintis kemerdekaan jelas menyuarakan sebuah rasa nasionalisme yang tinggi. Hingga akhirnya masa itu disebut dengan pers perjuangan.

“Bahkan, sebenarnya dari hasil riset pada tahun 1800-an, sudah ada koran hadir di Banjarmasin waktu pemerintahan kolonial Belanda saat berakhirnya Kesultanan Banjar, ketika itu,” ucap Syarbani.

BACA LAGI : Sekelumit Kisah Penghukuman Panglima Batur dari Koran De Preanger-Bode

Sosiolog jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengungkapkan kekritisan media massa di masa perjuangan fisik kemerdekaan RI, memang harus dibayar mahal.

“Jauh sebelum munculnya tokoh pers Kalsel seperti A.A Hamidhan, dan lainnya, sudah ada beberapa media massa yang tumbuh. Bahkan, ada pula media massa yang menggunakan mesin cetak milik orang Tionghoa. Para pemilik modal terutama dari kalangan Tionghoa di Banjarmasin dan lainnya, turut memprovokasi sebuah aksi perlawanan terhadap penjajahan. Walau cetakan itu berupa pamlet atau stensilan, kehadiran pers perjuangan itu tak bisa kita pungkiri,” cetus mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel ini.

BACA LAGI : Sarekat Islam Lahir di Tanah Banjar, Geliat Perlawanan Intelektual Kaum Dagang

Menurut dia, fase pasca Sumpah Pemuda pada 1928, media massa menjadi wahana perjuangan anak-anak bangsa dalam melawan penjajahan Belanda, termasuk di Kalimantan Selatan.

“Jadi, sejarah pers di Kalimantan Selatan jelas sangat panjang dan penuh liku. Ruh-ruh pers perjuangan ini pun seakan memudar di masa sekarang,” ucap Syarbani.

Di tengah mudahnya membangun media massa, Syarbani justru mengkhawatirkan adanya kapitalisasi media massa yang hanya mengeruk keuntungan, bukan lagi berorientasi literasi rakyat.

“Bukan rahasia umum, ideologi pragmatisme dan kapitalisme sudah menjalar ke bisnis media massa. Mereka mendirikan media massa justru hanya untuk mendapatkan uang, melindungi dan menguasai kepentingan bisnis dan politik. Ini yang terjadi sekarang,” kritik Syarbani.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.