ACT

Perang dan Terorisme

0 78

Oleh : Misbach Tamrin

SITUASI politik dunia dewasa ini tengah memanas. Ditandai dan dimulai atas perintah Presiden AS, Donald Trump. Pasukan pendudukan AS di Timur Tengah telah merudal lewat pesawat tanpa awak “drone” terhadap tokoh  pemimpin penting pasukan elit Quds Iran, Qasem Soleimani, di Bandara Bagdad Irak. Peristiwa ini terjadi di saat kunjungan hubungan bilateral antarnegara secara resmi, di bawah naungan situasi damai. Bukan dalam keadaan berperang!

DARI peristiwa brutal ini, semakin tampak jelas bagi kita untuk bisa memberikan jawaban obyektif, mengantipasi pertanyaan dilematis yang menggantung di atas  jagat raya dewasa ini. Siapa sebenarnya pelaku “teroris” yang bahkan terang-terangan mewakili atas nama negara?  

Ketimbang fakta-fakta sporadis yang terkadang merebak di seantero pelosok dunia. Melalui suatu tindakan yang memang tak kalah brutalnya. Tetapi berkelindan secara tersembunyi dengan cara perorangan. 

BACA : Segelas Air

Baik lewat pelontar rudal panggul. Di atas bahu pejuang Palestina yang tengah tiarap di balik bukit padang pasir, mengintai keberadaan pasukan Israel. Maupun melalui bom bunuh diri yang diselipkan di balik jubah pelindung seorang ibu atau anak gadis militan yang awam.

Fenomena kontroversial ini merupakan kelanjutan gejala krusial yang telah lama bergelimang. Hampir bisa dikatakan permanen dan sudah klasik. Sebagai dampak perang masa lalu yang berkepanjangan, yang tak henti-hentinya melanda kawasan Timur Tengah, hingga melibatkan sekitarnya.

Akibat diawali oleh campur tangan  (intervensi) negara adidaya di sekitar tahun 2003. Terutama sejak invasi Sekutu yang dipelopori AS (George Bush) ke Irak. Dengan alasan yang ternyata tidak terbukti fakta kebenarannya. Ketika Saddam Hussen dituduh dan dianggap memproduksi senjata kimia pemusnah massal.

BACA JUGA : Hujan

Sejak itu, keniscayaan bahwa perang dan terorisme merupakan jalinan proses sebab dan akibat (causalitas) yang melekat dalam sejarah. Dalam arti, sekali dicetuskan perang, yang bisa dianggap tak adil bagi salah satu pihak, maka akan meninggalkan dendam bagi pihak korban yang lain. Dengan tak habis-habisnya, cepat atau lambat.

Atas dasar suatu alasan ketidakberdayaan yang tak berimbang. Layaknya kelompok paksi yang gurem, berhadapan dengan negara klas kakap adidaya. Relatif semacam si kecil David yang nakal, menantang si besar Goliath yang sombong oleh keperkasaannya.

Maka demi melampiaskan dendam sebagai korban perang yang tak adil, satu-satunja motivasi perlawanan adalah jalan pintas yang mereka tempuh. Rupanya tak ada jalan lain, kecuali terorisme sebagai pilihan. Atau lewat jabaran yang lugas, perang ditandingi dengan terorisme yang nekad.

BACA LAGI : Santapan Rohani di Rumah Allah

Peluang dikotomi causal yang terniscaya terjadi secara viral dan ironis ini kian marak dipicu dan dipacu oleh sistem kapitalisme. Yang memuncak di era imperialisme global. Bagaikan gurita yang merentangkan tangan-tangannya, merengkuh dan merangsek lintas skala benua dan pulau-pulau di dunia. Tanpa segelintirpun nasion-nasion tertindas yang terhindar dari libasan, sebagai dampak pelebaran sayap pasar modal sistem kapitalisme global yang tak terbendung.

Sehingga, Iran pun melontarkan rudal-rudalnya ke berapa titik Pangkalan Militer AS di kawasan sekitar Irak, sebagai balasan atas tewasnya Soleimani. Donald Trump terpaksa berpikir ulang. Relatif tak sembarang memutuskan garis politik (policy)nya, untuk melanjutkan terus dengan perang.

Sebab, sekali perang dipicu buat diletuskan, maka segala kepentingan jaringan ekonomi, termasuk lingkungan wilayah koneksi dan relasi sumber minyaknya atas negara-negara Arab di Timur Tengah, relatif akan terbakar dibumihanguskan, tanpa terhindarkan.

Tentu, Trump selaku pewaris dan pelanjut misi presiden terdahulu dari Partai Republik, George Bush, mau tak mau akan terlirik kepada pembelajaran sejarah masa lalu. Bahwa betapapun fatamorgana kemenangan formal telah diraih, dampak dari akibat fatal keputusan perang Bush yang blunder, tak ada apa pun hasil yang diperolehnya. Kecuali kerugian besar yang tak terbayangkan sebelumnya. Hingga sekarang, bagi kepentingan politik luar negeri AS sendiri di Timur Tengah. Bisa dirasakan dan diselami berdasarkan pengalaman. Oleh akibat yang ditimbulkan Perang Teluk dan perang Irak pada masa lalu, secara keseluruhan.

Betapa kian bertambah ruwet, ribet, dan silang singkarutnya peta situasi  politik, ekonomi, dan sosial budaya di kawasan Timur Tengah. Apalagi kini semakin bertambah parah oleh krisis perang Suriah yang multi dimensi. Terutama dari segi semrawutnya agenda perang, di antara gejolak terorisme yang tersulut oleh ISIS, dan campur tangan negara-negara asing, terutama negara adidaya secara langsung.

Bukan hanya bagi AS yang amat berkepentingan demi keamanan dan keselamatan para sekutunya di Timteng, terutama Israel, ttapi juga buat negara-negara di seluruh dunia yang tetap menghajatkan perdamaian.

BACA LAGI : Pedang Waktu

Jadi, sebenarnya yang dikhawatirkan dunia secara amat prihatin bukan saja terhadap perang yang telah menjadi klasik mengorbankan banyak umat manusia. Namun juga terhadap terorisme di mana pun bisa terjadi. Sebab, ia bisa dilakukan oleh bukan siapa-siapa. Jika tak dilakukan oleh seorang ibu atau anak gadis militan yang siap dengan nekad berjihat lewat boom bunuh diri di tubuhnya, maka ia bisa dilakukan oleh sebuah negara adidaya yang dengan arogan menghamburkan piranti rudal-rudal mutakhirnya yang multi sebar. Di atas hunian penduduk sipil yang berkelindan klayaban selaku mahluk tak berdosa. Bayangkan, jika di sana terdapat juga bangunan sekolah TK dan Wisma Jompo.

Dan kini bagi kacamata sebuah negara adidaya AS, Iran yang selama ini hanya dianggapnya sebuah negara teroris ternyata diprediksi punya rudal balistik antar benua yang dapat menjangkau sudut ketiak tubuh AS yang terlindung aman sekalipun…..(jejakrekam)

Editor Almin Hatta

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.